Pelajaran Kepemimpinan dari Kehidupan seorang Salvador Dali

Oleh Roshan Thiran|09-09-2021 | 3 Min Read
Source: Alex Azabache dari pexels.com
”Di umur 6 tahun saya ingin menjadi koki. Di umur 7 tahun saya ingin menjadi Napoleon. Dan ambisi saya terus bertumbuh sejak saat itu.” – Salvador Dali

Belakangan ini, saya menulis tentang seorang seniman yaitu Andy Warhol. Dia sangat terinspirasi oleh Salvador Dali yang juga mempengaruhi kelompok ‘Chicago Surrealist’. Pelukis Dinding Meksiko ; Marcos Raya, Sarah Lucas dan bahkan David Lynch. 

Ada beberapa pemikiran eksentrik seperti yang dimiliki oleh Salvador Dali, provokator dan artis dari Spanyol yang memimpin gerakan ‘Surrealist’ (Gerakan yang mendorong seniman-seniman untuk meninggalkan kendali rasional dari kreativitas mereka dan menggunakan mimpi dan bawah sadar mereka untuk menciptakan bentuk ekspresif ‘surrealist’ yang baru).

Tidak pernah menggunakan narkoba, Dali (1904-1989) akan mencoba untuk masuk dalam pikiran bawah sadarnya dengan menatap sebuah objek dalam waktu yang cukup panjang. Dia juga akan menciptakan keadaan mental antara kesadaran dan tidur dengan mencampurnya di dalam mangkok dengan sebuah sendok, dimana suara sendok yang beradu dengan piring akan menjaganya untuk tetap setengah sadar.

Sebagai wujud inovasi yang aneh, Dali berusaha untuk melihat dunia melalui keadaan khayalan sambil mempertahankan kewarasannya - sebuah keadaan yang disebut sebagai ‘pengetahuan irasional’.


Sejak awal, orang Spanyol sudah dikenal atas sifat mereka yang cenderung eksentrik dan eksperimental. Cara mereka berpakaian bahkan membuat Oscar Wilde melihat dua kali kepada mereka. Dali menikmati waktunya di sekolah tetapi pada akhirnya diberhentikan setelah dia menghina salah satu profesornya pada ujian terakhirnya.

Seperti sudah takdir, perjalannya menuju Paris memperkenalkannya dengan seorang pioner ‘Cubism’ dan penemu yang bernama Pablo Picasso. Dia sangat terinspirasi dengan apa yang dibuat oleh Picasso dan gerakan ‘Cubist’ mereka. Membimbingnya menuju metodenya yaitu masuk dalam pikiran bawah sadar untuk menciptakan gambar imajinasi yang fantastis.

Pekerjaan pertamanya yang mengaburkan garis dan persepsi realita adalah lukisannya yaitu ‘Apparatus and Hand’ yang selesai pada tahun 1927, yang mengatur gaya khasnya yang berbeda.

Dali percaya pada teori otomatisme dimana seniman-seniman melepas kendali atas kesadaran pada bagian proses mereka, lalu membiarkan intuisi dan pikiran bawah sadar mereka untuk memimpin proses artistik. Seperti seorang murid yang rajin dari Sigmund Freud, seorang seniman yang terpikat dengan potensi dan dalamnya sebuah pikiran. Dan membuatnya sebagai titik untuk keluar dari caranya yang biasa selama periode kreativitasnya.


Baca juga : Kamu Pemimpi atau Penikmat Kenangan?

Sumber : Таня Добрая dari pixabay.com

Dali dan Kepemimpinan?

Bagaimana semua sejarah seniman ini relevan dengan bisnis? Dalam hal bagaimana hubungannya antara cara milik Dali dengan kepemimpinan, pendekatannya kepada seni miliknya dan kehidupannya adalah sebuah pengingat bahwa sangat mudah untuk terjebak dalam kebiasaan lama untuk melakukan sesuatu. 

Gayanya yang eksentrik itu menunjukkan pentingnya untuk terus-menerus melihat sesuatu dari sudut pandang dan perspektif yang berbeda. Ketika seorang pemimpin terus mencari cara yang berbeda dalam menghadapi tantangan, orang lain akan sulit menebak apa yang akan mereka lakukan dalam sebuah kompetisi dan jadinya akan lebih sulit bagi mereka untuk mengganggu mereka dalam melakukan suatu hal.

Karena itu, mungkin akan sulit untuk melepaskan pemikiran tetap kita, yang justru menyebabkan banyak masalah dalam kepemimpinan saat ini. Sementara kita tidak perlu untuk melakukannya dengan ekstrim seperti Dali untuk menciptakan inovasi dan ide yang baru, perlu untuk diingat bahwa ketika kita melewati jalan yang berbeda, menjelajahi dan menemukan kemungkinan yang tidak terduga.

Sumber : Flo Dahm dari pexels.com

Seorang psikolog, Franz Epting menyebut orang yang ‘fixed thinker’ dengan ‘personal construct theory’, dimana kita selalu melihat sesuatu dengan cara yang sama. Dia percaya bahwa cara untuk keluar dari hal ini adalah dengan mengadopsi ‘propositional thinking’, seperti yang dilakukan oleh Dali. Itu adalah tentang menjadi nyaman dengan kompleksitas dan kontradiksi serta melihat sesuatu melalui perspektif yang berbeda.

Sebagai contoh, beberapa tahun yang lalu, Saya menulis sebuah buku dan selanjutnya diminta untuk melakukan tanda tangan. Tanpa mengetahui, saya melanjutkan dan melaukan apa yang dilakukan oleh semua penulis lainnya yaitu duduk di sebuah meja dan menandatangani buku-buku.

Ketika Dali menulis bukunya ‘The World of Salvador Dali’ dan diminta penerbitnya untuk melakukan penandatanganan buku di sebuah toko buku di Manhattan, dia datang sebelum acara mulai dan menata tempatnya untuk terlihat seperti ruangan di rumah sakit. Dia memasang sebuah mesin yang memantau tekanan darahnya dan bahkan mempunyai mesin yang mengambil ukuran gelombang otaknya.

Dari ‘kasur rumah sakit’ dia menandatangani buku dan bahkan memberikan salinan gelombang otaknya kepada penggemarnya! Tentu saja, acara penandatanganan bukunya menjual lebih banyak buku dari yang saya jual, hanya karena dia tidak pernah menganggap sebuah acara sebagai sesuatu yang normal tetapi melainkan selalu melihatnya dengan kemungkinan yang tidak terbatas. Dia tidak pernah mempunyai pola pikir yang tetap.

Mungkin juga Anda tertarik : Keteladanan Kunci Sukses Kepemimpinan

Sumber : lilartsy dari pexels.com

Dali adalah salah satu seniman yang paling misterius pada sejarah terkini, dan meskipun itu mustahil untuk meletakkan karakternya dalam sebuah kotak, pendekatannya terhadap hidup memberikan beberapa pelajaran ‘gila’. Berikut adalah beberapa inti pembahasan yang menonjol bagi saya setelah membaca (dan menonton!) ‘Surrealist’ Spanyol yang gila ini : 
 
1. “Kebanyakan dari kesuksesan Dali adalah karena promosi diri sendiri yang rajin” - Kathleen Spies, profesor sejarah seni
 
Dali sepenuhnya memahami kekuatan dari merk dan kepribadian seseorang. Dari kumisnya yang terawat rapi, sampai wawancaranya yang tidak biasa serta penampilan publiknya bersama dengan peliharaannya, Babou, dia menguasai seni dan sains dari menciptakan merk yang kuat dan langsung diakui sebagai seorang pemimpin dalam dunia iklan, seni dan hiburan.

Saat kematiannya pada tahun 1989, Dali sudah membentuk dirinya menjadi sebuah ikon untuk seniman multimetia, selebriti, dan seorang pemimpin. Bagaimana dengan kita? Apakah kita peduli tentang merek pribadi kita dan apa yang kita perjuangkan? Apakah kita bahkan sadar tentang apa yang kita perjuangkan dan apakah kita terus-menerus menceritakan cerita yang sama dan memberikan pesan tentang merek yang kita bawa? Apakah kita memberikan sesuatu untuk diingat oleh orang lain?

2. “Jangan pernah takut akan kesempurnaan - Anda tidak akan pernah mencapainya”

Dali hidup dengan ketentuannya sendiri, dimana hal itu membebaskan pikirannya untuk konsentrasi pada proses dan ciptaannya sendiri. Dia tidak terikat kepada ekspektasi siapapun atau pengertian dari bentuk sukses yang seharusnya, dan dia mengetahui bahwa kesempurnaan tidak akan pernah tercapai. Tidak ada apapun di dunia ini yang tanpa kekurangan, jadi kita seharusnya tidak pernah ekspektasi diri kita sendiri untuk menjadi sempurna.Jika kita coba, itu pasti akan mengarah pada hasil yang frustasi.

Dia pernah berbicara dalam pakaian selamnya - Kekurangan rasa takut dan tidak perlu untuk sesuai dengan ekspektasi orang lain ini membuatnya untuk bisa menjadi diri sendiri dan melakukan sesuatu yang hanya bisa diimpikan oleh orang lain. Dia bahkan memberikan pelajaran dalam limusin yang diisi dengan kembang kol (ya, Anda benar sekali - kembang kol!)

3. ”Kesalahan hampir selalu bersifat sakral / alami. Jangan pernah mencoba untuk memperbaikinya.”

Belajar dari kesalahan adalah bagaimana kita bertumbuh. Mereka meningkatkan karakter kita dan memperkaya pengalaman kita. Kesalahan juga membuat kita bisa melihat kearah mana kita perlu berkembang dan apa yang perlu kita hindari di masa depan.

Dengan menerima fakta bahwa kita semua membuat kesalahan - secara sadar atau tidak sadar - kita menerima kehidupan secara alami dan saat terjadinya kesalahan itu membantu kita mengembangkan ketahanan dan meningkatkan kesadaran diri kita.


Baca juga! Sang Pembebas Juga Pemimpin


4. ”Melukis adalah sebagian kecil dari kepribadian saya.”

Kita seringkali menanyakan diri kita sendiri dengan pertanyaan yang sering ditanyakan dalam sebuah acara untuk membangun koneksi : “Jadi… Apa yang kamu kerjakan?” Tetapi ketika kita terlalu berpegang teguh pada jabatan atau pekerjaan yang dilakukan, kita akan membatasi kemungkinan dan kesempatan yang ada diluar dari batasan yang kita ciptakan untuk diri kita sendiri.

Sebagai pribadi yang berbakat, kita lebih dari apa yang dituliskan dalam kartu bisnis kita. Sama seperti Anda tidak akan menganggap komputer sebagai ‘word processor’ atau ‘search engine’, kita seharusnya sadar bahwa kita lebih dari itu dan kita lebih mampu lebih dari apa yang kita bayangkan.

5. ”Setiap pagi ketika saya bangun, Saya mengalami kembali kenikmatan luar biasa - Seperti menjadi Salvador Dali”

Beberapa kali kita sulit untuk mencintai diri kita sendiri. Sering kali, kita menyalahkan diri kita sendiri karena tidak sempurna. Tetapi Tuhan menciptakan setiap dari kita unik dan kita semua mempunyai bakat dan talenta yang membuat kita masing-masing. Dali sangat memahami ini dan meskipun dia tidak sempurna (dan kumis yang buruk!), dia entah bagaimana mencintai dirinya sebagai Dali. Kita seharusnya mencintai diri kita sendiri juga. Saya cinta untuk menjadi Roshan. Saya berharap Anda juga harus cinta pada siapa diri Anda!

Apakah Anda Tau?

Pada tahun 1960-an, walikota dari kampung halaman Dali - Figueres, Spanyol - memintanya untuk mendonasikan satu dari karyanya ke museum kota, ‘Museu de l’Empordà’. Dalam model ‘Surrealist’ yang benar, seniman itu justru memutuskan untuk membangun sebuah museum yang baru. Museum ‘The Dali Theatre’ akan menjadi rumah untuk karya-karyanya, dan setelah dia meninggal, dia dikuburkan di ruang bawah tanah dibawah panggung teaternya.

Share artikel ini

Kepemimpinan

Tags: Kepemimpinan Tanpa Batas

Roshan adalah pendiri dan CEO dari Leaderonomics Group, kepala redaksi untuk Leaderonomics.com dan seorang yang menamakan dirinya sendiri dengan sebutan 'kuli'. Ia percaya bahwa semua orang bisa menjadi pemimpin dan dapat membuat lekukan di alam semesta dengan cara mereka masing-masing.
Leaderonomics Logo

Wow, Anda telah scroll hingga ke bawah! Anda pasti sangat menyukai kami.

Karena Anda sudah disini, kami ingin meminta Anda untuk mempertimbangkan memberikan donasi untuk pemeliharaan situs kami, yang ternyata cukup tinggi.

Banyak yang tidak memiliki akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan penuh mereka. Itulah sebabnya konten kami akan selalu gratis, dan kami akan selamanya berterima kasih kepada mereka yang membantu mewujudkan ini.

Earn your one-way ticket to heaven.

© 2023 Leaderonomics Sdn. Bhd. All rights reserved.

Disclaimer: The opinions expressed on this website are those of the writers or the people they quoted and not necessarily those of Leaderonomics.