Kecerdasan Emosional Saat Menghadapi Krisis

Feb 18, 2026 4 Min Read
mental health
Sumber:

Freepik

Kecerdasan Emosional: Kunci Melewati Badai

Dalam situasi krisis, kita semua berharap pada kepemimpinan untuk membantu menavigasi jalan yang penuh ketidakpastian di depan. Kita membutuhkan arah dan panduan yang jelas. Kita membutuhkan seseorang di kursi pengemudi yang mampu mengambil kendali dan membawa kita melewati badai. Seorang pemimpin yang baik ibarat jangkar. Mungkin tidak dapat menghentikan krisis, tetapi mampu memastikan kita tetap stabil hingga keadaan kembali tenang.

Namun, pemimpin juga membutuhkan dukungan saat krisis terjadi. Ketika menghadapi tantangan yang tidak terduga, pemimpin tetap merasakan reaksi emosional yang sama seperti orang lain. Di saat yang sama, mereka berharap dapat melakukan yang terbaik bagi orang-orang di sekitarnya. Pada momen inilah kecerdasan emosional dan kesadaran sosial menjadi fondasi penting. Keduanya membantu pemimpin membimbing orang lain melewati krisis sekaligus menenangkan dan menstabilkan diri sendiri di tengah kekacauan.

Kecerdasan emosional didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengenali dan mengelola emosi diri sendiri, serta emosi orang lain. Namun, konsep ini sering disalahartikan sebagai keharusan untuk selalu bersikap positif. Kesalahpahaman ini dapat mengarah pada toxic positivityyaitu sikap yang justru menghambat pengambilan keputusan penting dan membatasi pemikiran kritis yang diperlukan dalam situasi sulit.

Menurut Daniel Goleman, penulis buku Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ, memiliki pola pikir positif dan optimistis memang penting. Namun, hal tersebut hanyalah satu dari dua belas komponen yang membentuk kecerdasan emosional. Untuk memimpin secara efektif, kita perlu mengembangkan kualitas yang memungkinkan kita mengelola emosi dengan baik. Dengan begitu, kita juga dapat membantu orang lain mengelola emosi mereka.

Para psikolog telah lama memahami bahwa sebelum mampu memimpin orang lain, seseorang harus terlebih dahulu mampu memimpin dirinya sendiri. Dalam artikel ini, kita akan membahas lima komponen kecerdasan emosional yang dapat membantu pemimpin mengelola diri secara efektif, sehingga mampu menjadi jangkar bagi orang lain di masa penuh tantangan.

Kesadaran Diri Emosional

Sebagai pemimpin, penting untuk memahami emosi yang kita rasakan. Situasi apa yang sering memicu emosi negatif? Bagaimana kita meresponsnya? Apakah kita mampu tetap tenang dan terkendali, atau justru bereaksi secara impulsif hingga memengaruhi stabilitas orang lain?

Memahami emosi dan pemicunya membantu kita bertindak secara sadar, bukan sekadar bereaksi. Pemimpin hebat juga merasakan marah, kecewa, dan frustrasi. Perbedaannya, mereka mampu mengendalikan emosi tersebut dan menyalurkannya secara konstruktif dan terarah.

Kemampuan Beradaptasi

Dalam krisis, pemimpin sering harus mengambil keputusan dengan cepat. Krisis bersifat tidak pasti dan sering kali belum pernah dialami sebelumnya. Oleh karena itu, pemimpin perlu mengandalkan pengalaman, penilaian, dan fleksibilitas untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang cepat.

Dalam kondisi normal, kita memiliki prosedur dan referensi yang jelas. Namun, dalam krisis, pemimpin dengan kecerdasan emosional mampu tetap gesit dan percaya diri dalam menentukan arah. Mereka memahami bahwa keputusan dapat disesuaikan jika diperlukan. Sebaliknya, pemimpin yang kurang memiliki kecerdasan emosional cenderung mengalami analysis paralysis, yaitu kondisi terlalu banyak menganalisis hingga akhirnya gagal bertindak. Dalam krisis, kegagalan bertindak dapat memperburuk situasi.

Baca Juga: Di Antara Dua Negara, Saya Belajar Mengerti Perbedaan

Empati

happy emotion

Freepik

Empati adalah kualitas kepemimpinan yang sangat penting, terutama dalam masa krisis. Ketika orang-orang di sekitar kita merasa cemas dan tidak pasti tentang masa depan, pemimpin perlu menjadi sumber stabilitas bagi mereka.

Mengatakan, “Semua akan baik-baik saja,” sering kali tidak cukup. Dalam krisis, kekhawatiran adalah hal yang wajar. Yang lebih bermakna adalah mengakui perasaan mereka dan menunjukkan dukungan nyata, misalnya dengan mengatakan:

“Ini adalah masa yang sulit, dan saya memahami kekhawatiran Anda. Apa yang bisa saya bantu?”

Pendekatan ini menunjukkan rasa hormat, kepedulian, dan komitmen untuk mendukung tim.

Kemampuan Membimbing dan Memberikan Mentoring

Dalam krisis, seluruh energi organisasi biasanya difokuskan untuk mengatasi tantangan yang muncul. Meskipun tim memiliki kemampuan yang baik, mereka tetap membutuhkan arahan. Di sinilah peran pemimpin menjadi sangat penting.

Krisis dapat menjadi pengalaman yang berat dan melelahkan secara emosional. Oleh karena itu, pemimpin perlu meluangkan waktu untuk memastikan setiap orang memahami apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya. Hal ini tidak hanya memastikan pekerjaan berjalan dengan baik, tetapi juga meningkatkan rasa percaya diri tim karena mereka merasa didukung dan dilindungi.

Baca Juga: Dari “No” Menjadi “Next”

Manajemen Konflik

Organisasi terdiri dari individu dengan berbagai perspektif. Perbedaan pendapat tidak dapat dihindari, terutama dalam situasi krisis ketika tekanan meningkat.

Meskipun konflik mungkin terlihat sebagai masalah kecil dibandingkan tantangan lain, pemimpin perlu menanganinya sejak dini. Konflik yang dibiarkan dapat berkembang menjadi masalah yang jauh lebih besar.

Lebih baik meluangkan waktu untuk menyelesaikan konflik sejak awal daripada harus memperbaiki kerusakan yang lebih besar di kemudian hari. Manajemen konflik yang efektif tidak hanya mencegah eskalasi, tetapi juga menunjukkan bahwa pemimpin peduli terhadap tim dan berkomitmen menjaga stabilitas organisasi.


Masterclass Mendatang untuk Senior Leaders:

Malaysia Leadership IMMERSION WEEK 2026

Di tengah krisis dan tekanan, kualitas kepemimpinan tidak diukur saat semuanya berjalan lancar, tetapi dari kemampuan untuk tetap tenang, jernih, dan stabil secara emosional ketika keadaan tidak pasti. Leaderonomics Malaysia Leadership IMMERSION WEEK 2026 hadir untuk membantu Anda mengembangkan kecerdasan emosional tersebut, memperkuat ketahanan diri, dan memimpin dengan kepercayaan diri di tengah tantangan yang terus berubah.

Daftar Sekarang di events.leaderonomics.com

Alt

Share artikel ini

Alt
Roshan adalah pendiri dan CEO dari Leaderonomics Group, kepala redaksi untuk Leaderonomics.com dan seorang yang menamakan dirinya sendiri dengan sebutan 'kuli'. Ia percaya bahwa semua orang bisa menjadi pemimpin dan dapat membuat lekukan di alam semesta dengan cara mereka masing-masing.
Alt

Mungkin Anda Juga Menyukai

man in suit jumping

Rasa Sakit yang Akrab yang Dibawa Pemimpin ke Tahun Baru

Bersama Anggie Rachmadevi menyadari bahwa akhir tahun sering membuat pemimpin memilih rasa sakit yang sudah akrab daripada kelegaan yang belum dikenal. Tanpa disadari, keputusan ini menciptakan survival debt yang terus terbawa ke tahun berikutnya.

Dec 22, 2025 2 Min Read

brilianto

3 Kunci Prinsip Kepemimpinan

Brillianto Rineksa, menguraikan 3 prinsip kepemimpinan yang diterapkan selama ini sebagai seorang yang menduduki posisi Sekjen ISRA. Prinsip pertama akan membantu seorang pemimpin sehingga tidak akan ditinggal oleh mereka yang dipimpinnya. Kepemimpinan kedepan bukan soal structural atau hirarki atas ke bawah, tetapi sebuah bentuk yang lebih nonformal bagaimana seseorang dapat menjadi pemimpin walaupun tidak memiliki sebuah posisi jabatan formal.

May 12, 2021 11 Min Video

Jadi Seorang Pembaca Leader's Digest