Sebelum Mengambil Keputusan, Coba Lihat dari Sudut Pandang Orang Lain

Javier Allegue Barros, Unsplash
Suka membaca artikel seperti ini? Subscribe newsletter kami dan dapatkan insight terbaru setiap bulan.
Jika keputusan yang Anda ambil terus menghadapi lebih banyak penolakan daripada yang diperkirakan, cobalah perhatikan kembali proses pengambilan keputusan Anda. Mungkin Anda berasumsi sudah memahami bagaimana situasi tersebut terlihat dari sudut pandang orang lain. Anda melewatkan percakapan karena yakin telah memiliki gambaran yang lengkap. Atau, Anda langsung mengambil tindakan tanpa bertanya siapa lagi yang akan terdampak oleh keputusan tersebut. Kesenjangan antara mengambil keputusan dan memahami dampaknya ini muncul dari keinginan untuk bergerak cepat dan mendapatkan kepastian. Namun, hal tersebut justru dapat mengubah keputusan yang tampaknya masuk akal menjadi pekerjaan ulang yang sebenarnya bisa dihindari. Untuk menghemat waktu, bergerak lebih cepat, dan meningkatkan dukungan terhadap keputusan, biasakan diri untuk memahami perspektif orang lain, bukan menjadikannya sebagai sesuatu yang baru dipikirkan belakangan.
Baca Juga: Cara Menguji Informasi Sebelum Menjadikannya Dasar Keputusan
Pengambilan Keputusan yang Berkualitas Berarti Menempatkan Diri pada Posisi Orang Lain
Anda telah mengambil keputusan. Keputusan tersebut menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi, memiliki alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, dan masuk akal dari sudut pandang Anda. Namun, ketika Anda mengumumkannya, suasana di ruangan tiba-tiba berubah. Seseorang mengajukan pertanyaan yang tidak Anda duga. Orang lain mendadak terdiam, seolah sudah bersiap menghadapi dampak yang akan muncul. Keputusan yang terlihat sederhana di atas kertas kini berubah menjadi persoalan manajemen perubahan.
Penolakan yang tidak terduga itu bukan terjadi karena Anda kurang terampil dalam menyampaikan keputusan. Anda mengambil keputusan sebelum memahami apa artinya bagi orang-orang yang harus menjalani dampaknya. Meluangkan sedikit waktu untuk menempatkan diri pada posisi orang lain dapat membuat perbedaan besar.
Itulah sebabnya Walk in Others’ Shoes (menempatkan diri pada posisi orang lain) menjadi salah satu kebiasaan penting dalam SynergyStack® Team Development System. Apakah Anda benar-benar ingin memahami perspektif orang lain dan apa arti keputusan serta tindakan Anda bagi mereka? Mudah untuk mengangguk setuju ketika mendengar pertanyaan tersebut, tetapi jauh lebih sulit untuk benar-benar menjadikannya bagian dari proses pengambilan keputusan.
Dampak dari Melewatkan Langkah Ini
Ketika Anda tidak memeriksa dampak suatu keputusan sebelum mengambilnya, kerugian yang ditimbulkan tidak serta-merta menghilang. Dampaknya hanya akan muncul belakangan, bahkan dalam skala yang lebih besar. Penolakan yang terlihat seperti sikap menentang sering kali sebenarnya merupakan bentuk keterkejutan. Pekerjaan harus diulang karena tidak ada yang menyampaikan kendala praktis yang jelas terlihat oleh mereka, tetapi luput dari perhatian Anda. Setiap kali orang-orang baru mengetahui keputusan yang memengaruhi mereka setelah keputusan tersebut ditetapkan, Anda secara tidak langsung mengajarkan bahwa masukan mereka bukanlah bagian dari proses. Perlahan tetapi pasti, Anda melemahkan rasa berdaya anggota tim hingga akhirnya mereka berhenti berusaha. Memulihkan kondisi tersebut membutuhkan upaya yang tidak sedikit.
Lebih buruk lagi, Anda mungkin melewatkan informasi penting yang sebenarnya dapat mencegah kegagalan atau memastikan keberhasilan. Akibatnya, Anda membuang waktu, uang, dan kredibilitas hanya karena tidak bersedia meluangkan beberapa menit tambahan untuk memahami perspektif orang lain.
Memahami perspektif orang lain terlebih dahulu bukanlah langkah yang memperlambat proses dalam arti yang sesungguhnya. Justru, cara ini lebih cepat dibandingkan alternatifnya.
Daftar Pertanyaan untuk Memahami Berbagai Perspektif dalam Pengambilan Keputusan

Jakub Zerdzicki, Pexels
Sebelum menetapkan keputusan yang berdampak pada orang lain, pertimbangkan pertanyaan-pertanyaan berikut:
- Siapa yang akan terdampak oleh keputusan ini, tetapi belum saya ajak bicara? Identifikasi pihak-pihak yang terdampak, termasuk mereka yang berada di luar kelompok pemangku kepentingan yang paling jelas terlihat.
- Bagaimana keputusan ini terlihat dari sudut pandang peran mereka, bukan peran saya? Bukan berdasarkan asumsi Anda, melainkan bagaimana situasi tersebut benar-benar terlihat jika mempertimbangkan beban kerja, tujuan, dan keterbatasan mereka.
- Apa yang perlu saya ketahui saat ini jika saya berada di posisi mereka? Pertanyaan ini mengubah pendekatan Anda dari sekadar menyampaikan informasi menjadi mengantisipasi kebutuhan orang lain.
- Siapa yang terdampak, tetapi tidak hadir dalam percakapan ini? Orang-orang yang paling terdampak sering kali justru menjadi pihak yang paling sedikit terwakili ketika keputusan dibuat.
- Kunjungan langsung atau pengamatan seperti apa yang bisa saya lakukan sebelum mengambil keputusan? Terkadang, ini berarti datang dan melihat langsung bagaimana suatu proses berlangsung. Dalam situasi lain, cukup dengan melakukan satu percakapan yang terbuka dan jujur.
- Apa yang mungkin membuat keputusan ini lebih sulit saya pertahankan jika terlebih dahulu mendengar sudut pandang mereka? Jika jawabannya membuat Anda tidak nyaman, anggaplah itu sebagai informasi yang berguna, bukan alasan untuk melewatkan pertanyaan tersebut.
Hindari godaan untuk menjawab semua pertanyaan ini seorang diri. Anda tidak bisa sepenuhnya memiliki perspektif orang lain. Karena itu, carilah perspektif tersebut secara langsung.
Anda juga tidak harus menggunakan keenam pertanyaan tersebut setiap saat. Bahkan, membiasakan diri mengajukan dua pertanyaan saja secara konsisten sudah dapat mengubah kualitas keputusan Anda.
Hindari Kelumpuhan Analisis (Analysis Paralysis)
Ada risiko nyata dari penggunaan daftar pertanyaan seperti ini. Tanpa disadari, daftar tersebut dapat berubah menjadi alasan untuk terus menunda pengambilan keputusan. Jika Anda menunggu hingga berhasil berbicara dengan semua orang, mengumpulkan setiap perspektif, dan menghilangkan seluruh ketidakpastian, Anda justru akan melewatkan waktu yang tepat untuk mengambil keputusan.
Kebiasaan yang ingin dibangun bukanlah “memahami perspektif semua orang sebelum Anda diperbolehkan bertindak”, melainkan “memahami cukup banyak hal agar dapat mengambil keputusan yang lebih baik daripada sebelumnya”. Dalam praktiknya, hal ini biasanya hanya membutuhkan satu atau dua percakapan, bukan proses mendengarkan pendapat yang berlangsung selama berbulan-bulan.
Tetapkan batas waktu penyelesaian: jika Anda tidak dapat menghubungi orang yang tepat dalam rentang waktu yang wajar, ambillah keputusan berdasarkan informasi yang tersedia, jelaskan hal-hal yang belum sempat Anda periksa, dan tetap terbuka untuk melakukan penyesuaian setelah mendengar masukan mereka.
Keputusan yang dibuat berdasarkan sebagian perspektif dan ditinjau kembali kemudian jauh lebih baik daripada keputusan yang terus tertunda karena berusaha mendapatkan pemahaman yang sepenuhnya lengkap. Rasa ingin tahu seharusnya mempertajam penilaian Anda, bukan menggantikannya.
bangan mingguan karena format baru tersebut lebih cepat disiapkan. Sebelum menerapkan perubahan, ada baiknya Anda bertanya: bagaimana manajer saya menggunakan laporan ini sebelum meneruskannya kepada jajaran pimpinan? Apakah ada angka dalam laporan ini yang diambil dan digunakan kembali oleh tim lain untuk keperluan yang tidak saya ketahui? Meluangkan lima menit untuk memastikan hal tersebut bersama manajer dan rekan kerja yang menggunakan hasil pekerjaan Anda hampir tidak membutuhkan pengorbanan apa pun. Sebaliknya, melewatkan langkah ini dan baru mengetahui belakangan bahwa perubahan tersebut telah mengganggu proses kerja orang lain dapat menimbulkan kerugian yang jauh lebih besar, termasuk terhadap kredibilitas Anda.
Kebiasaan ini dapat diterapkan ke segala arah: ke atas dalam hubungan dengan manajer, secara horizontal dengan rekan kerja, maupun ke bawah dengan anggota tim yang melapor kepada Anda.
Kebiasaan Pengambilan Keputusan: Sebelum dan Sesudah
Berikut contoh penerapannya dalam praktik. Seorang pemimpin perlu menggabungkan dua rapat tim menjadi satu untuk menghemat waktu.
Versi pertama: Ia mengumumkan perubahan tersebut melalui email dan menetapkan bahwa aturan baru mulai berlaku pada hari Senin berikutnya. Dalam waktu satu minggu, ia baru mengetahui bahwa kedua tim selama ini menggunakan waktu rapat yang terpisah untuk menyelesaikan proses serah terima pekerjaan, yang kini tidak lagi memiliki ruang untuk dilakukan. Ia pun menghabiskan satu bulan berikutnya untuk membangun kembali proses yang sebelumnya sudah berjalan dengan baik.
Versi kedua: Sebelum menetapkan perubahan, ia mengajukan satu pertanyaan kepada kedua pemimpin tim: “Apa yang saat ini dimungkinkan oleh rapat terpisah ini, tetapi tidak bisa dilakukan jika keduanya digabungkan?” Satu percakapan tersebut berhasil mengungkap pentingnya proses serah terima, sehingga ia dapat menyesuaikan rencana sebelum perubahan diumumkan.
Keputusannya sama, tujuannya sama, tetapi waktu dan energi yang terbuang jauh lebih sedikit.
Baca Juga: Mengambil Keputusan di Tengah Tekanan Tinggi
Eksperimen Pribadi Sederhana untuk Menempatkan Diri pada Posisi Orang Lain
Jika Anda ingin mengembangkan kebiasaan mengambil keputusan berdasarkan rasa ingin tahu ini, berikut tiga eksperimen pribadi sederhana yang dapat dicoba:
1. Satu Pertanyaan Empati Setiap Hari
Selama 30 hari, ajukan satu pertanyaan kepada seorang rekan tim setiap hari: “Apa satu hal tentang peran Anda yang sering diabaikan atau disalahpahami orang lain?” Catat pemahaman yang Anda peroleh dan perhatikan apakah ada pola yang muncul di berbagai fungsi kerja.
2. Mengamati Langsung Hari Kerja Rekan (Workday Field Trip / Immersive Shadowing)
Luangkan waktu 60–90 menit untuk mengikuti dan mengamati pekerjaan seorang rekan dari fungsi yang berbeda. Ikuti rapat, amati alur kerja, atau pelajari tools dan proses yang mereka gunakan sehari-hari. Fokuslah untuk memahami keterbatasan, tujuan, dan tantangan yang mereka hadapi. Setelahnya, lakukan refleksi dengan menyampaikan satu hal: “Inilah hal yang paling mengejutkan saya tentang pekerjaan Anda.”
3. Meninjau Dampak Pekerjaan terhadap Peran Lain (Role Ripple Review)
Setiap minggu, pilih satu tugas atau proyek dan tanyakan kepada seseorang yang menerima atau melanjutkan hasil pekerjaan tersebut: “Apa dampak pekerjaan ini bagi Anda?” Catat seberapa sering tujuan yang Anda maksudkan benar-benar sesuai dengan pengalaman orang lain.
Pilih satu eksperimen sebagai langkah awal atau lakukan secara bergantian sepanjang bulan, sesuai dengan kebutuhan Anda dan tim.
Kebiasaan Pengambilan Keputusan dalam Satu Kalimat
Sebelum mengambil keputusan, tanyakan apa arti keputusan tersebut bagi orang yang harus menjalani dampaknya. Anda tidak perlu bertanya kepada semua orang atau melakukannya tanpa batas waktu. Cukup luangkan waktu yang diperlukan agar Anda dapat mengambil keputusan yang lebih baik. Itulah makna menempatkan diri pada posisi orang lain dan memperoleh perspektif yang Anda butuhkan.
Artikel ini pertama kali diterbitkan di letsgrowleaders.com.
Kepemimpinan
Karin Hurt membantu para pemimpin yang berpusat pada manusia menemukan kejelasan dalam ketidakpastian, mendorong inovasi, dan mencapai hasil terobosan. Dia adalah pendiri dan CEO Let's Grow Leaders, sebuah firma pelatihan dan pengembangan kepemimpinan internasional yang dikenal dengan alat praktis dan program pengembangan kepemimpinan yang melekat, dan penulis empat buku termasuk Courageous Cultures: How to Build Teams of Micro-Innovators, Problem Solvers dan Advokat Pelanggan.
David Dye membantu para pemimpin yang berpusat pada manusia menemukan kejelasan dalam ketidakpastian, mendorong inovasi, dan mencapai hasil terobosan. Dia adalah Ketua dari " Let's Grow Leaders / Ayo Berkembang Pemimpin! ", sebuah lembaga pengembangan dan pelatihan kepemimpinan internasional yang terkenal dengan alat praktis dan program pengembangan kepemimpinan yang melekat. Dia adalah penulis beberapa buku termasuk Courageous Cultures dan pembawa acara podcast populer Leadership without Losing Your Soul.







