Cara Menguji Informasi Sebelum Menjadikannya Dasar Keputusan

Oct 04, 2026 • 7 Min Read
man in corporate
Sumber:

Vitaly Gariev, Unsplash

Suka membaca artikel seperti ini? Subscribe newsletter kami dan dapatkan insight terbaru setiap bulan.

Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah e-mail dari The Atlantic yang membawa saya melihat proses pemeriksaan fakta di balik layar. Kepala riset mereka, Yvonne Rolzhausen, menjelaskan seberapa jauh para pemeriksa fakta bekerja sebelum sebuah artikel diterbitkan.

Tergantung pada kompleksitas ceritanya, proses tersebut dapat berlangsung selama berjam-jam, berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan. Artikel dicetak ulang dengan margin yang lebar. Fakta-fakta yang dapat diperiksa ditandai dengan pensil merah, sementara materi yang memiliki implikasi hukum diteliti secara cermat, sumber dihubungi, dan setiap klaim ditelusuri kembali ke sumber asalnya¹.

Hal tersebut membuat saya memikirkan situasi yang sangat berbeda, yaitu ruang rapat, serta bagaimana informasi diperiksa faktanya atau tidak diperiksa sama sekali secara langsung dalam percakapan.

Para pemimpin menghabiskan sebagian besar waktu kerja mereka untuk mengambil keputusan berdasarkan informasi yang diberikan orang lain. Seseorang memberi tahu bahwa sebuah proyek akan terlambat enam bulan. Seorang rekan mengatakan bahwa pesaing akan segera mengambil langkah tertentu. Anda diberi tahu bahwa tim tidak mampu menerima pekerjaan tambahan, pelanggan menuntut fitur tertentu, atau “semua orang” tidak senang dengan sebuah keputusan.

Terkadang, buktinya jelas. Namun, di lain waktu, sebuah klaim disampaikan dengan penuh keyakinan, tetapi ada sesuatu yang terasa tidak masuk akal.

Anda mungkin menduga bahwa pernyataan tersebut dilebih-lebihkan, tidak lengkap, atau mungkin memang salah. Namun, Anda tidak memiliki angka pembanding di depan mata, tidak dapat langsung memberikan bukti yang membantahnya, dan percakapan sudah beralih ke hal lain.

Jadi, apa yang harus Anda lakukan? Diam saja? Menantangnya berdasarkan intuisi? Atau melakukan sesuatu yang lain?

Cara Anda merespons kemungkinan dipengaruhi oleh seberapa yakin pesan tersebut disampaikan, dan ada alasan yang kuat untuk hal itu.

Mengapa Klaim yang Disampaikan dengan Yakin Bisa Begitu Meyakinkan

Dalam serangkaian eksperimen, psikolog Daniel Gilbert dan rekan-rekannya meneliti bagaimana orang memproses informasi yang secara eksplisit diberi tahu sebagai informasi yang salah.

Dalam beberapa eksperimen, peserta menerima informasi tentang seseorang yang telah dinyatakan sebagai informasi palsu. Ketika berada di bawah tekanan waktu atau harus mengerjakan tugas lain yang juga membutuhkan perhatian, mereka lebih mungkin menggunakan informasi yang salah tersebut ketika kemudian harus membuat penilaian².

Para peneliti berpendapat bahwa proses memahami informasi pada awalnya melibatkan penerimaan informasi sebagai sesuatu yang benar. Sementara itu, menolaknya sebagai sesuatu yang salah membutuhkan proses kognitif tambahan yang dapat terganggu ketika kapasitas pemrosesan kita terbatas.

Hal ini penting karena rapat jarang menjadi situasi yang memungkinkan kita berkonsentrasi secara sempurna. Anda mendengarkan, memikirkan agenda berikutnya atau rapat selanjutnya, membalas pesan, memperhatikan waktu, dan berusaha mengambil keputusan, sering kali semuanya secara bersamaan.

Ada komplikasi lain.

Penelitian yang dipimpin Profesor Cameron Anderson menunjukkan bahwa rasa percaya diri yang berlebihan dapat berkontribusi pada status sosial yang lebih tinggi. Dalam enam penelitian, individu yang terlalu percaya diri cenderung memperoleh status yang lebih tinggi. Salah satu penelitian juga menunjukkan bahwa rasa percaya diri berlebihan dapat menghasilkan isyarat perilaku yang membuat seseorang terlihat kompeten³. Temuan yang lebih luas bukan berarti bahwa kepercayaan diri selalu menandakan kompetensi, melainkan bahwa perilaku yang percaya diri dapat memengaruhi cara orang lain menilai seseorang, bahkan ketika tingkat kepercayaan dirinya tidak sesuai dengan kemampuan sebenarnya.

Artinya, terkadang kita dapat mengira kepercayaan diri sebagai kompetensi.

Anda mungkin pernah melihat hal ini terjadi di tempat kerja. Ketika seseorang berbicara dengan penuh keyakinan, kita cenderung menganggap bahwa ia tahu apa yang sedang dibicarakannya, bahkan ketika keyakinan tersebut tidak didukung oleh kualitas bukti yang dimiliki.

Di situlah risikonya. Klaim yang disampaikan dengan penuh keyakinan dapat memiliki bobot yang lebih besar.

Anda Tidak Membutuhkan Klaim Pembanding untuk Meminta Bukti

Salah satu persoalan utama yang kita hadapi adalah anggapan bahwa sebelum menantang sesuatu, kita harus mengetahui alternatifnya.

Jika seseorang mengatakan angkanya 70 persen, kita merasa harus memiliki angka lain. Jika seseorang mengatakan proyek tersebut akan gagal, kita merasa harus membuktikan bahwa proyek itu tidak akan gagal. Jika seseorang mengatakan, “Semua orang berpikir seperti ini,” kita merasa harus mengetahui apa yang sebenarnya dipikirkan semua orang.

Namun, menantang sebuah klaim tidak sama dengan membantahnya. Anda tidak harus mengatakan, “Itu salah.” Anda bisa mengatakan, “Bantu saya memahami dasar dari pernyataan tersebut.”

Pernyataan pertama mengundang perdebatan tentang siapa yang benar. Sebaliknya, pernyataan kedua mengarahkan percakapan pada bukti.

Mulailah dengan Menelusuri Asal Klaim

Jadi, jika Anda sedang berada dalam rapat dan ingin memeriksa fakta dari sebuah klaim, dari mana Anda harus memulai?

Salah satu pertanyaan paling sederhana yang dapat Anda ajukan adalah, “Dari mana informasi itu berasal?” Kedengarannya hampir terlalu jelas, tetapi pertanyaan tersebut dapat membuat percakapan menjadi lebih baik karena mengarahkan perhatian pada sumber informasi.

Misalnya:

  • Apakah angka tersebut diukur, dimodelkan, diperkirakan, atau hanya diingat?
  • Apakah angka tersebut didasarkan pada data pelanggan, tiga percakapan, sebuah survei, atau kesan seseorang?
  • Apakah pesaing benar-benar mengumumkan perubahan tersebut, atau informasi itu berasal dari pihak ketiga?
  • Ketika seseorang mengatakan, “Tim berpikir demikian,” siapa tepatnya yang sudah ditanya?

Kuncinya adalah menjadikan pertanyaan semacam ini sebagai bagian dari cara Anda bekerja, bukan sesuatu yang hanya dilakukan ketika Anda tidak setuju.

Jika Anda hanya mempertanyakan bukti ketika tidak setuju dengan kesimpulannya, orang akan segera menyadari bahwa meminta sumber sebenarnya hanya menjadi cara terselubung untuk menantang orang tersebut.

Karena itu, kebiasaan yang lebih baik adalah menerapkan rasa ingin tahu yang sama terhadap klaim yang Anda setujui maupun yang tidak Anda setujui. Dengan begitu, Anda menunjukkan bahwa pertanyaan yang diajukan bukan tentang apakah bukti tersebut sesuai dengan keinginan Anda, melainkan apakah bukti tersebut cukup kuat untuk mendukung keputusan.

Tanyakan Seberapa Yakin Mereka Sebenarnya

Langkah berikutnya adalah memisahkan keyakinan dalam penyampaian dari keyakinan terhadap bukti yang mendasarinya.

Cobalah bertanya, “Seberapa yakin Anda dengan hal itu?”

Kemudian tanyakan, “Apa yang dapat mengubah pendapat Anda?”

Saya sangat menyukai pertanyaan kedua karena pertanyaan tersebut menggeser diskusi dari upaya mempertahankan suatu posisi menjadi pemeriksaan terhadap batas pengetahuan dan keyakinan kita. Bahkan kesimpulan yang didukung bukti kuat pun tetap memiliki batasan dan asumsi.

Tentukan Apakah Klaim Tersebut Penting

Tidak semua pernyataan yang meragukan perlu diselidiki secara mendalam. Para pemimpin tidak memiliki cukup waktu, dan organisasi akan berjalan sangat lambat jika setiap keputusan harus melalui proses pemeriksaan fakta seperti yang dilakukan The Atlantic.

Jadi, pertanyaan berikutnya adalah: “Apa yang akan kita lakukan secara berbeda jika ternyata informasi ini salah?”

Jika jawabannya adalah “tidak ada”, mungkin tidak banyak manfaat yang diperoleh dengan terus menyelidikinya. Namun, jika jawabannya adalah “kita akan mengambil keputusan yang sama sekali berbeda”, berarti Anda telah menemukan sesuatu yang layak diperiksa lebih lanjut.

Di sinilah verifikasi menjadi persoalan penilaian, bukan sekadar urusan administratif. Klaim yang paling layak diperiksa dengan cermat bukan selalu klaim yang paling mudah diperiksa, melainkan klaim yang membawa risiko dan konsekuensi terbesar.

Misalnya, jika keputusan investasi Anda bergantung pada ukuran pasar, uji asumsi tentang pasar tersebut. Jika restrukturisasi bergantung pada klaim tentang kesenjangan kemampuan, periksa bukti yang mendukung adanya kesenjangan tersebut. Jika keputusan yang memengaruhi seorang karyawan didasarkan pada apa yang “dikatakan orang-orang”, cari tahu siapa yang mengatakan apa dan dalam konteks seperti apa. Jika peluncuran produk baru bergantung pada tren konsumen yang sedang berkembang, telusuri dari mana data tersebut berasal, seberapa kuat buktinya, dan apakah tren tersebut akan bertahan.

Jangan Biarkan “Nanti Kita Periksa” Menjadi Akhir dari Percakapan

Penelitian mengenai misinformasi menjelaskan apa yang dikenal sebagai continued influence effect, yaitu kondisi ketika informasi yang tidak akurat tetap dapat memengaruhi cara orang berpikir dan bernalar bahkan setelah informasi tersebut dikoreksi⁴.

Bukan berarti setiap komentar yang keliru dalam rapat atau percakapan akan tertanam secara permanen. Namun, temuan tersebut memberikan sebuah langkah pencegahan praktis bagi organisasi: ketika sebuah klaim penting telah memengaruhi diskusi atau keputusan, jangan berasumsi bahwa koreksi yang disampaikan kemudian akan secara otomatis menghapus pengaruhnya dari pemikiran orang-orang.

Jadi, jika sebuah klaim penting tidak dapat diverifikasi di dalam ruang rapat, jangan sekadar mengatakan, “Mari kita bahas nanti di luar rapat.” Buatlah lebih spesifik dengan bertanya:

  • Siapa yang akan memeriksanya?
  • Apa tepatnya yang akan diperiksa?
  • Bukti apa yang akan mereka bawa?
  • Dan kapan kelompok ini akan kembali membahas keputusan tersebut?

Yang paling penting, tutup proses tersebut dengan orang-orang yang sama yang mendengar klaim awal. Jika klaim awal disampaikan secara terbuka kepada banyak orang, koreksinya idealnya juga disampaikan kepada kelompok yang sama.

Bangun Verifikasi ke dalam Cara Kerja Tim

Tentu saja, waktu terbaik untuk menentukan bagaimana tim Anda menangani bukti bukanlah ketika Anda sudah berada dalam perdebatan mengenai klaim yang kontroversial. Waktu terbaik adalah sebelumnya, dengan membangun praktik dan kebiasaan yang lebih baik.

Pendekatan ini dapat berarti meminta orang-orang mencantumkan sumber untuk angka-angka penting dalam dokumen pengambilan keputusan. Membedakan dengan jelas antara data, asumsi, dan perkiraan. Mengidentifikasi asumsi utama yang mendasari sebuah rekomendasi. Atau, sebelum mengambil keputusan penting, secara eksplisit bertanya, “Apa yang kita anggap benar di sini, tetapi belum kita uji?”

Ada pula unsur budaya yang perlu diperhatikan, yaitu menciptakan rasa aman secara psikologis bagi anggota tim dan rekan kerja untuk menyampaikan tantangan. Mempertanyakan klaim orang lain bisa dan terasa berisiko, terutama ketika orang tersebut lebih senior, lebih percaya diri, atau lebih berpengaruh.

Karena itu, perhatikan apa yang terjadi setelah seseorang mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman. Apakah Anda menjadi ingin tahu atau justru merasa kesal? Apakah Anda mengeksplorasi pertanyaan tersebut, atau secara halus memberi sinyal bahwa akan lebih mudah jika orang-orang berhenti bertanya?

Anda dapat mengatakan kepada orang lain bahwa Anda menginginkan tantangan, keterbukaan, dan perdebatan yang mendalam. Namun, reaksi Anda pada saat-saat tersebutlah yang akan menunjukkan kepada mereka apakah Anda benar-benar bersungguh-sungguh.

Ciptakan Ruang untuk Menguji Hal-Hal yang Penting

Anda hampir tidak pernah memiliki informasi yang sempurna. Karena itu, tujuannya bukan memverifikasi segala sesuatu, melainkan mengenali kapan bukti cukup penting untuk membuat kita berhenti sejenak sebelum mengambil keputusan.

Ketika sebuah klaim yang disampaikan dengan penuh keyakinan muncul di hadapan Anda, baik dalam rapat maupun percakapan, dan ada sesuatu yang terasa tidak tepat, Anda tidak perlu langsung menyiapkan sanggahan. Anda cukup bertanya:

  • Dari mana informasi itu berasal?
  • Apa yang dapat mengubah pendapat Anda?
  • Apa yang akan kita lakukan secara berbeda jika informasi tersebut ternyata salah?
  • Apa yang perlu kita verifikasi sebelum mengambil keputusan?

Bersikap skeptis bukan berarti Anda harus membuktikan hal sebaliknya saat itu juga. Jika sebuah klaim cukup penting untuk memengaruhi keputusan, klaim tersebut seharusnya cukup kuat untuk menghadapi pemeriksaan.

Jadi, ketika melihat berbagai keputusan yang ada di hadapan Anda, tanyakan kepada diri sendiri: Apa yang sedang kita perlakukan sebagai fakta, padahal belum ada seorang pun yang benar-benar memverifikasinya?

Artikel ini diterbitkan kembali dengan izin dari michellegibbings.com.

Share artikel ini

References:

  1. Rolzhausen, Y. (2026, September [day]). Word by word, line by line: How to fact-check The Atlantic [Subscriber email]. The Atlantic.
  2. Gilbert, D. T., Tafarodi, R. W., & Malone, P. S. (1993). You can’t not believe everything you read. Journal of Personality and Social Psychology, 65(2), 221–233. https://doi.org/10.1037/0022-3514.65.2.221
  3. Anderson, C., Brion, S., Moore, D. A., & Kennedy, J. A. (2012). A status-enhancement account of overconfidence. Journal of Personality and Social Psychology, 103(4), 718–735. https://doi.org/10.1037/a0029395
  4. Ecker, U. K. H., Lewandowsky, S., Cook, J., Schmid, P., Fazio, L. K., Brashier, N., Kendeou, P., Vraga, E. K., & Amazeen, M. A. (2022). The psychological drivers of misinformation belief and its resistance to correction. Nature Reviews Psychology, 1, 13–29. https://doi.org/10.1038/s44159-021-00006-y
Alt
Selain ahli di bidang kepemimpinan dan perubahan, Michelle Gibbings juga merupakan seorang founder perusahaan konsultan bisnis bernama Change Meridian. Pada tahun 2016, Gibbings menerbitkan bukunya berjudul ‘Step Up: How to Build Your Influence at Work’.
Alt

Mungkin Anda Juga Menyukai

checklist

5 Kesalahan Manajer yang Merusak Penilaian Kinerja

Oleh Marissa Lau. Penilaian kinerja seharusnya menjadi alat pertumbuhan, bukan sumber stres dan konflik. Namun banyak manajer masih melakukan kesalahan mendasar yang merusak objektivitas, menurunkan motivasi, dan melemahkan budaya kerja.

Mar 04, 2026 • 4 Min Read

leaders

Apakah Anda Mengenali 10 Tipe Pemimpin Ini?

Bersama Tom MC Ifle, memahami berbagai tipe pemimpin yang dapat menghambat tim dan mengapa tidak semua orang yang memiliki posisi pemimpin mampu memimpin dengan baik.

Aug 15, 2026 • 13 Min Podcast

disiplin waktu

3 Cara Membangun Kedisiplinan Diri

Jangan biarkan rasa malas menghambat potensimu—tonton sekarang dan mulai perubahanmu!

Jan 30, 2025 • 34 Min Video

Jadi Seorang Pembaca Leader's Digest