Satu Tim, Satu Kemenangan

kevin yung, Pexels
Suka membaca artikel seperti ini? Subscribe newsletter kami dan dapatkan insight terbaru setiap bulan.
Kita tidak ikut berlari di lapangan. Tidak ikut menyusun strategi. Bahkan mungkin kita menonton sambil duduk santai di rumah.
Tapi ketika peluit panjang berbunyi dan Indonesia dinyatakan menang di FIFA ASEAN Cup, kita ikut bersorak. Ada rasa bangga. Ada yang langsung mengirim pesan ke teman, mengunggah kemenangan di media sosial, atau sekadar tersenyum sendiri.
Mereka yang bermain. Mereka yang menang. Tapi kita semua ikut merasakan kemenangannya.
Menariknya, perasaan seperti ini sebenarnya juga bisa terjadi di tempat kerja. Ketika seorang rekan mendapatkan penghargaan, berhasil menyelesaikan proyek besar, atau mendapat apresiasi dari atasan, bukankah seharusnya ada sedikit rasa bangga karena dia adalah bagian dari tim kita?
Namun, mengapa di kantor hal ini tidak selalu terasa semudah ketika Timnas menang?
Baca Juga: Perangkap Perbandingan: Ketika Kita Merasa Tidak Cukup
Ketika “Dia Menang” Terasa Seperti “Kita Menang”
Ketika mendukung Timnas, kita tidak terlalu memikirkan siapa yang mencetak gol atau siapa yang paling banyak mendapat sorotan. Seorang pemain mungkin menjadi pencetak gol, tetapi ada pemain lain yang memberikan umpan. Ada yang menjaga pertahanan. Ada yang merebut bola. Ada yang mungkin tidak banyak terlihat tetapi tetap menjalankan perannya.
Mereka punya tugas yang berbeda, tetapi tujuannya sama: membawa Indonesia menang.
Karena itu, ketika satu pemain berhasil, kita tidak berpikir, “Itu kemenangan dia.”
Kita mengatakan, “Indonesia menang.”
Di kantor, situasinya sebenarnya tidak jauh berbeda.
Dalam sebuah proyek, ada orang yang mempresentasikan hasil akhirnya, tetapi ada rekan yang mengolah data. Ada yang berkomunikasi dengan klien. Ada yang mengurus detail yang tidak terlihat. Ada pula yang membantu ketika masalah muncul.
Ketika proyek tersebut berhasil dan salah satu anggota tim mendapatkan penghargaan, pencapaian itu mungkin memang diberikan kepada satu orang. Tetapi bukan berarti proses menuju pencapaian tersebut hanya dilakukan olehnya.
Sayangnya, di sinilah rasa “kita” kadang mulai hilang.
Kenapa Kita Bisa Bangga pada Timnas, Tapi Sulit Bangga pada Rekan Kerja?
Mungkin karena ketika Timnas bermain, identitas kita terasa sederhana: kita sama-sama mendukung Indonesia.
Di kantor, identitas kita bisa menjadi lebih rumit. Kita punya target pribadi, penilaian kinerja, ambisi untuk mendapatkan promosi, bahkan terkadang persaingan untuk mendapatkan kesempatan yang sama.
Akhirnya, keberhasilan rekan kerja bisa terasa seperti sesuatu yang mengurangi kesempatan kita.
“Kenapa dia yang dapat penghargaan?”
“Kapan giliran saya?”
“Bukannya saya juga bekerja keras?”
Perasaan seperti itu manusiawi. Kita tidak harus memaksa diri untuk selalu merasa bahagia ketika orang lain berhasil. Tetapi mungkin kita perlu mengubah satu hal: melihat keberhasilan rekan kerja bukan sebagai kekalahan pribadi.
Seperti dalam sepak bola, keberhasilan satu pemain tidak selalu mengurangi peran pemain lainnya.
Baca Juga: Berbeda Adalah Cara Kita Bertumbuh
Bagaimana kalau Kantor juga Punya Semangat “Indonesia Menang”?
Bayangkan jika kita bisa membawa sedikit semangat yang muncul ketika Timnas menang ke dalam pekerjaan sehari-hari.
Ketika rekan kita mendapat penghargaan, kita bisa benar-benar mengucapkan selamat tanpa merasa bahwa pencapaian tersebut membuat kita tertinggal. Ketika rekan berhasil menyelesaikan sesuatu, kita bisa bertanya, “Apa yang bisa saya pelajari dari caranya?”
Dan ketika suatu proyek berhasil, kita tidak hanya melihat siapa yang paling menonjol, tetapi juga mengingat orang-orang yang membantu di belakang layar.
Di sisi lain, pemimpin juga punya peran dalam membangun budaya seperti ini. Penghargaan kepada individu tetap penting, tetapi kontribusi tim di balik pencapaian tersebut juga layak diapresiasi.
Sebab, tim yang sehat bukan berarti semua orang harus mendapatkan penghargaan yang sama. Justru, setiap orang bisa memiliki momen untuk bersinar tanpa membuat anggota lainnya merasa kalah.
Timnas mengingatkan kita bahwa sebelas pemain tidak perlu mencetak gol semuanya untuk disebut menang. Satu orang bisa mencetak gol. Satu tim merayakannya. Satu negara ikut bangga.
Mungkin begitu juga seharusnya kita bekerja. Ketika satu rekan berhasil, kita tidak kehilangan kemenangan. Karena kalau kita benar-benar satu tim, keberhasilan dia juga bagian dari keberhasilan kita.
Kepemimpinan
Manisha adalah editor dan penulis di Leaderonomics. Ia percaya tulisan memiliki kekuatan untuk belajar dan membawa perubahan dengan menginspirasi banyak orang.






