Cara Pemimpin Berhenti Terjebak dalam Kebiasaan “Menyelamatkan”

pch.vector, Freepik
Dalam organisasi yang bergerak cepat, urgensi sering menggantikan proses bertumbuh.
Ketika melihat anggota tim kesulitan, insting pertama adalah turun tangan. Kamu mungkin ingin menulis ulang deck-nya, menghubungi klien, atau membimbing mereka di setiap langkah. Rasanya seperti cara paling efisien agar pekerjaan cepat selesai.
Awalnya terlihat membantu, sampai akhirnya tidak.
Perlahan, anggota tim berhenti melihat tantangan sebagai tanggung jawab mereka. Dukungan yang awalnya positif berubah menjadi ketergantungan yang melemahkan akuntabilitas. Kamu bukan lagi pengambil keputusan, tetapi orang yang mereka datangi untuk menyerahkan masalah.
Inilah alasan para pemimpin perlu memahami perbedaan antara memberi dukungan dan menyelamatkan.
Dukungan vs. Menyelamatkan
Pemimpin perlu hadir secara sengaja. Kepemimpinan bukan lagi soal mengerjakan semuanya sendiri, tetapi membangun tim yang mampu menyelesaikan pekerjaan tanpa bergantung pada intervensi konstan.
Setiap kali tim menghadapi tantangan, kamu dapat memilih untuk membimbing mereka atau tanpa sadar mengambil alih. Memahami batas ini sangat penting.
Baca Juga: Pemimpin Penting Memiliki Karisma Tapi Ada Batasnya
1. Dukungan = Memberdayakan
- Kamu membimbing, mengajukan pertanyaan, dan memperjelas.
- Kamu membantu mereka belajar, berkembang, dan tetap bertanggung jawab.
- Kamu berjalan di samping mereka, bukan di depan mereka.
2. Menyelamatkan = Mengambil Alih
- Kamu menyelesaikan masalah untuk mereka.
- Kamu meredakan kegelisahan diri sendiri, bukan kebutuhan mereka.
- Kamu mengambil kesempatan mereka untuk berpikir, mencoba, dan bertumbuh.
Dalam jangka panjang, dukungan membangun kapabilitas, sementara menyelamatkan membangun ketergantungan.
Mengapa Pemimpin Mudah Terjebak Mode Menyelamatkan

pch.vector, Freepik
Pemimpin secara alami suka memecahkan masalah. Banyak yang turun tangan karena peduli.
Namun, niat baik tidak selalu mencegah pola yang melemahkan.
Menurut Dr. Jennifer Garvey Berger dalam Leadership Mind Traps: How to Thrive in Complexity, manusia memiliki pola mental yang dulunya membantu kita bertahan hidup, tetapi menjadi kontra-produktif di situasi kompleks. Pola ini membuat menyelamatkan terasa benar, meskipun sebenarnya melemahkan tim.
Beberapa jebakan tersebut adalah:
- Simplicity: “Lebih cepat kalau aku kerjakan sendiri.”
- Rightness: “Pasti caraku yang paling benar.”
- Agreement: “Tidak mau menambah stres. Biar aku saja yang handle.”
- Control: “Kalau aku turun tangan, pasti hasilnya bagus.”
- Ego: “Mereka butuh aku. Aku penyelamatnya.”
Ini bahkan bersifat biologis. Otak menyukai kepastian dan melihat ketidakpastian sebagai ancaman. Dalam banyak kasus, menyelamatkan mencerminkan kecemasan pemimpin, bukan kebutuhan tim.
Konsekuensi Tersembunyi dari Menyelamatkan
Menyelamatkan terasa seperti solusi cepat. Tetapi sebenarnya menciptakan masalah jangka panjang:
- Tim menjadi bergantung dan berhenti berinisiatif.
- Inovasi mandek karena pemimpin selalu punya jawaban.
- Pemimpin kelelahan karena mengerjakan pekerjaan semua orang.
- Kepercayaan diri tim menurun.
- Kecepatan tim mengikuti kecepatan pemimpin, yang berarti melambat ketika kamu sibuk.
Menyelamatkan menyelesaikan hari ini, tetapi merusak masa depan.
Cara Memberikan Dukungan Tanpa Menyelamatkan
1. Tetapkan Ekspektasi dengan Jelas
Banyak momen “menyelamatkan” terjadi karena tim tidak memahami apa yang diminta sejak awal.
Dengan kejelasan, tim bisa saling mendukung dan tidak hanya mengandalkan kamu.
Contoh:
Alih-alih, “Tolong siapkan proposalnya,” gunakan, “Kita menargetkan proposal 3 halaman yang menyorot X, Y, dan Z. Kalau ada yang belum jelas, tanyakan sejak awal supaya tetap selaras.”
2. Bertanya Sebelum Menjawab
Jangan langsung memberi solusi. Biarkan mereka memiliki situasi ini.
Contoh:
- “Menurut kamu, langkah selanjutnya apa?”
- “Opsi apa saja yang sedang kamu pertimbangkan?”
3. Biarkan Mereka Berada dalam Prosesnya
Untuk masalah yang masih bisa dieksplor, jangan biarkan kegelisahanmu mengambil alih kesempatan mereka untuk belajar.
Contoh:
- “Pikirkan dulu, lalu kembali dengan rekomendasi kamu.”
- “Mulai dengan draft, nanti kita lihat bersama.”
Baca Juga: Langkah Awal Membangun Kebiasaan Kepemimpinan yang Efektif
4. Beri Dukungan yang Relevan untuk Pertumbuhan
Dukungan yang efektif dimulai dari memahami bakat, motivasi, dan perkembangan masing-masing individu. Tidak ada pendekatan satu untuk semua.
- Performa tinggi mungkin membutuhkan lebih banyak otonomi dan tantangan.
- Anggota baru membutuhkan umpan balik lebih sering.
- Anggota yang pendiam mungkin memerlukan undangan yang lebih lembut agar berani bersuara.
Pertumbuhan akan muncul ketika dukungan terasa personal.
Kesimpulan
Memberikan dukungan tanpa menyelamatkan memang tidak mudah. Ini menuntut kamu untuk menahan ketidakpastian, meredam insting, dan percaya pada seseorang sebelum mereka percaya pada dirinya sendiri.
Tim terkuat bukan dibentuk oleh pemimpin yang selalu punya jawaban, tetapi oleh pemimpin yang memberi ruang bagi orang lain untuk menemukannya.
Kepemimpinan
Tags: Jadilah Seorang Pemimpin, Kepemimpinan Tanpa Batas, Pertumbuhan, Konsultasi
Anggie adalah editor bahasa Inggris di Leaderonomics. Sehari-harinya ia banyak berkutat dengan pembuatan konten, ditemani setia oleh secangkir teh hijau hangat atau iced latte.






