4 Pelajaran Kepemimpinan dari Seorang Samurai

Oleh Roshan Thiran|24-10-2020 | 2 Min Read
Jangan Berhenti Belajar dan Bertumbuh Bak Samurai

Pada tahun 2014, ketika peluncuran program mentoring / pendampingan “Perempuan dalam Kepemimpinan” yang diadakan oleh TalentCorp, Datuk Seri Idris Jala sebagai pembicara utama mengajukan pertanyaan kepada setiap orang yang hadir: 

“Mengapa seorang Samurai sangat sulit dikalahkan?”

Dia kemudian dengan cepat menjelaskan bahwa seorang Samurai memiliki sikap siap mati dalam medan perang. Untuk membunuh seseorang yang siap mati adalah hal yang hampir mustahil. Ketika saya merenungkan hal ini, saya menyadari bahwa saya harus menggali / mengamati para prajurit Samurai dan gaya kepemimpinannya. Ketika saya mengamati mereka, saya menemukan beberapa wawasan yang luar biasa mengenai gaya kepemimpinan dan kehidupan mereka.

Berikut ini adalah pelajaran yang saya dapatkan:

Pelajaran Kepemimpinan Samurai 1: Kekalahan bukanlah sebuah pilihan

Pejabat Echigo pada abad ke 16 menjelaskan bagaimana dia memberikan semangat peperangan kepada para Samurai yang akan memasuki medan pertempuran:

“Nasib kita adalah di Surga, baju besi terpasang di dada kita,  kemenangan ada di kaki kita. Memasuki medan perang dengan semangat kemenangan dan kamu akan pulang kembali tanpa terluka sedikitpun.” Juga menambahkan: “Berperanglah seperti kamu ditentukan untuk mati maka kamu akan tetap hidup; ketika kamu berharap kamu akan bertahan di medan peperangan, sudah dapat dipastikan kamu akan mati di sana. Ketika kamu meninggalkan rumahmu dengan menyadari bahwa kamu tidak akan melihatnya lagi, maka kamu akan kembali pulang dengan aman; ketika kamu memiliki pemikiran untuk kembali, maka kamu tidak akan pernah kembali,” Lanjutnya lagi, “Kamu mungkin berpikir bahwa dunia ini akan selalu berubah, tetapi seorang prajurit seharusnya tidak menghibur diri dengan pemikiran seperti itu, karena nasibnya selalu sudah ditentukan.”

Bagi para pemimpin dan orang-orang hebat, kekalahan bukanlah sebuah pilihan yang mereka miliki.
Meredith Grey, seorang ahli bedah dalam Grey’s Anatomy mengatakan, “Kekalahan bukanlah sebuah pilihan bagi kami para ahli bedah. Kami tidak akan meninggalkan meja operasi sampai nafas terakhir. Kami tidak mudah terintimidasi. Kami tidak takut dan tersentak. Kami tidak mundur dan pastinya tidak menyerah, tidak sedikitpun.”
“... Untuk melakukan pekerjaan kami, kami harus percaya bahwa menyerah kalah bukanlah sebuah pilihan. Tidak peduli seberapa besar penyakit pasien-pasien kami, selalu ada harapan bagi mereka, namun sekalipun harapan kami harus diperhadapkan dengan kenyataan yang membuat kami akhirnya harus menyerah, itu artinya kami kalah hari ini, tetapi kami akan terus berjuang di pertempuran selanjutnya.” (Season 5, Episode 19 – Sweet Surrender)

Kami sadar bahwa jalan menuju kesuksesan selalu dipenuhi dengan kegagalan. Hanya ketika kita benar-benar percaya bahwa pada akhirnya kita akan menang dan berhasil, kita akan dapat menyingkirkan kegagalan-kegagalan tersebut dan meraih kemenangan.
Dengan menyadari sepenuhnya bahwa kekalahan bukanlah pilihan yang harus kita ambil, kita akan terus bertindak dan bertahan untuk mencapai tujuan kita. Kegagalan bukan berarti kita kalah. Kegagalan akan menjadi kekalahan ketika kita menyerah. Kekalahan berarti kita tidak lagi ingin menghadapi kegagalan berikutnya dan tidak ingin bangkit dari kegagalan.

Sejarah menceritakan tentang seorang penakluk Spanyol bernama Hernán Cortés yang membakar semua kapalnya tepat saat tentaranya memasuki wilayah musuh pada tahun 1519. Dia melakukannya untuk memastikan tentaranya tidak memiliki kesempatan untuk mundur dan bahwa mereka mengorbankan semua yang mereka miliki untuk menang. Sudahkah kita mengorbankan semua yang kita miliki? Semuanya? Atau apakah kita masih memiliki pilihan untuk menyerah ketika kita sedang malas, lelah, dan tidak bersemangat?

Baca juga artikel yang berjudul "Pelajaran Kepemimpinan dari Star Trek"

Pelajaran Kepemimpinan Samurai 2: Kemenangan dimulai dari dalam

Steven Covey dalam bukunya yang berjudul The 7 Habits of Highly Effective People, menggambarkan kemenangan pribadi yang mendahului kemenangan besar. Ini mirip dengan prinsip yang dimiliki oleh prajurit samurai.

Sebelum memasuki medan perang, mereka harus memenangkan perang di dalam diri mereka sendiri. Sun Tzu menulis:

Prajurit yang menang harus menang terlebih dahulu sebelum memasuki medan perang, sedangkan mereka yang kalah adalah para prajurit yang memasuki medan perang lebih dahulu baru mencari kemenangan.


Ada perang yang berkecamuk di dalam diri kita masing-masing. Kita harus menyelesaikan perang dalam pikiran kita dan mengetahui dengan jelas kesuksesan seperti apa yang ingin kita capai sebelum kita memasuki dunia nyata. Banyak dari kita tidak memiliki visi yang jelas, dan juga tidak tahu bagaimana tujuan akhir yang ingin kita capai. Jika kita tidak menyelesaikan ini sebelum membuat karya nyata di masyarakat, maka apapun hasilnya kita tidak akan bisa melihat kesuksesan kita.

Masing-masing dari kita memiliki tujuan, sasaran, dan cita-cita yang berbeda. Jika kita tidak bisa menjelaskan maksud atau tujuan, maka kita mungkin tidak akan pernah bisa mencapai impian kita.  Hal ini harus dimulai dari dalam. Sudahkah kita menyadari pentingnya hal ini dan mulai menetapkan tujuan kita?

Pelajaran Kepemimpinan Samurai 3: Alasan-alasan itu sampah   

Kebanyakan dari kita biasanya memiliki alasan yang bagus ketika kita gagal. Seringkali itu adalah alasan yang jelas.
Untuk seorang prajurit samurai, tidak pernah ada alasan yang masuk akal. Jika mereka gagal, itu berarti mereka gagal. Tidak peduli bahkan jika alasan kegagalan mereka begitu sempurna. Tetap saja itu berarti mereka gagal. Ketika kita belajar dari mereka, kita akan menyadari bahwa ada kekuatan dari ketiadaan alasan. Apa artinya?

Karena seringkali alasan -alasan memberi kita kesempatan untuk terus melakukan kesalahan. Ketika kita memiliki alasan mengapa kita gagal, kita tidak akan melihat ke dalam diri kita sendiri dan kekurangan kita yang perlu diperbaiki.

Alasan-alasan ini mencegah kita untuk melihat kesalahan dan kegagalan kita yang sebenarnya. Saya perhatikan bahwa di banyak organisasi, termasuk di organisasi saya, ada banyak orang yang menunjukkan kesalahan yang terjadi untuk menjelaskan mengapa mereka gagal. Mereka memilih untuk mengeluh dan menyalahkan dunia (atau kantor), daripada berusaha memperbaiki diri.

Cara terbaik untuk mengubah dunia adalah dengan mengubah diri kita sendiri terlebih dahulu. Sebaliknya, dengan selalu memiliki alasan, mau tidak mau kita akan mudah menyalahkan orang lain dan tidak pernah menyadari bahwa kesalahan mungkin ada pada diri kita sendiri. Ibarat seorang Samurai, ketika kita gagal mencapai sesuatu atau gagal mencapai target atau tujuan, lihat dulu ke dalam diri kita, mungkin kesalahan ada pada diri kita. Singkirkan keinginan untuk menyalahkan orang atau hal lain. Sadarilah bahwa tidak ada alasan untuk kegagalan atau kesalahan kita.

Melihat dan menyadari kekurangan kita, dan memiliki rencana yang baik untuk memperbaiki diri. Kami kurang lebih akan menjadi seperti pemimpin yang berpikiran samurai karena kami terus melakukan ini setiap hari.
Miyamoto Musashi, seorang Samurai terbaik menulis sebuah buku berjudul The Book of Five Rings yang menceritakan tentang kode etik Bushido Samurai. Salah satu prinsip dasar yang digariskan dalam buku ini adalah untuk selalu jujur, terutama jujur ​​pada diri sendiri. Jadi tidak ada alasan. Yang ada hanyalah kejujuran penuh.             
   

Baca juga artikel ini dalam bahasa Inggris "4 Leadership Lessons From The Samurai"

Pelajaran Kepemimpinan Samurai 4: Terus-menerus melakukan peningkatan

Musashi, yang hidup dari tahun 1584 hingga 1645, menulis hal penting lainnya dalam bukunya tentang kode etik Bushido Samurai. Beliau menjelaskan bahwa faktor yang mempengaruhi kesuksesan dalam hidup ini adalah adanya keinginan untuk terus meningkatkan kemampuan dan pengetahuan kita.

Lebih dari 500 tahun yang lalu, Musashi dan pejuang Samurai lainnya menyadari pentingnya untuk terus berubah dan berkembang.
Banyak dari kita menyukai kondisi yang begitu-begitu saja. Kita menyukai kondisi kehidupan  yang tetap  ditempat dan membenci perubahan. Dalam bukunya, Musashi juga menjelaskan secara detail tentang pentingnya selalu berpikiran terbuka dan siap menerima perubahan yang terjadi.

Kita perlu terus belajar dan berkembang. Belajar adalah proses yang menyakitkan karena menuntut kita untuk mengubah pola pikir kita, meningkatkan kemampuan kita, mengubah kebiasaan kita, atau bahkan mengubah keterampilan dan kemampuan kita. Perubahan bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Tetapi agar kita terus meningkat dan menjadi lebih besar dari sebelumnya, kita perlu terus belajar dan berubah.

Berapa banyak dari kita yang benar-benar meluangkan waktu untuk memperbaiki diri setiap hari? Jika kita benar-benar ingin meningkatkan keterampilan kepemimpinan kita, sudahkah kita meluangkan waktu untuk membaca dan belajar tentang keterampilan kepemimpinan dari para pemimpin hebat lainnya?

Hanya dengan menghabiskan 10 menit sehari kita bisa belajar tentang kepemimpinan para pemimpin besar dunia. Menghabiskan hanya beberapa menit setiap hari untuk belajar adalah hal yang berat.

Tapi, kita perlu menjadwalkannya dan terus menerus memperbaiki diri, baik dalam kehidupan pribadi, dunia kerja maupun dalam setiap aspek kehidupan kita. Sudahkah Anda menjadwalkan diri Anda untuk terus melakukan perbaikan dalam hidup Anda.

Kesimpulan

Martin Luther King Jr pernah berkata:

“Kita itu seperti teh celup. Kita tidak pernah tahu kekuatan kita yang sebenarnya sampai kita dimasukkan ke dalam air panas.”        

Banyak dari kita sebenarnya memiliki kekuatan dan ketangguhan seperti seorang Samurai. Merekapun adalah manusia biasa sama seperti kita. Tetapi untuk mengeluarkan kekuatan yang luar biasa dari dalam diri kita, kita perlu membuang semua alasan dan memfokuskan diri untuk terus bertumbuh dan berkembang. Mulailah segala sesuatu dari dalam diri kita dan jangan biarkan kekalahan menjadi pilihan kita.
Tonton juga video berjudul "Gagasan Kepemimpinan TOYOTOMI HIDEYOSHI Si Samurai Tanpa Pedang" dibawah ini:

Share artikel ini

Kepemimpinan

Tags: Jadilah Seorang Pemimpin

Roshan is the Founder and CEO of the Leaderonomics Group. He believes that everyone can be a leader and "make a dent in the universe", in their own special ways. He is constantly featured on TV, radio and numerous publications sharing the Science of Building Leaders and on leadership development. Follow him at www.roshanthiran.com
Leaderonomics Logo

Wow, Anda telah scroll hingga ke bawah! Anda pasti sangat menyukai kami.

Karena Anda sudah disini, kami ingin meminta Anda untuk mempertimbangkan memberikan donasi untuk pemeliharaan situs kami, yang ternyata cukup tinggi.

Banyak yang tidak memiliki akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan penuh mereka. Itulah sebabnya konten kami akan selalu gratis, dan kami akan selamanya berterima kasih kepada mereka yang membantu mewujudkan ini.

Earn your one-way ticket to heaven.

© 2022 Leaderonomics Sdn. Bhd. All rights reserved.

Disclaimer: The opinions expressed on this website are those of the writers or the people they quoted and not necessarily those of Leaderonomics.