Fandom Marketing: Kisah Cinta Amanda Brownies dan Toshiba TV

Ilustrasi oleh @embiayy dan @karaage273 (X)
Beberapa tahun lalu, mungkin terdengar aneh membayangkan brand brownies, marketplace, brand elektronik, aplikasi belajar bahasa, dan brand skincare berada di satu semesta cerita yang sama. Namun, media sosial X kembali diramaikan oleh tren tak terduga. Kolaborasi organik antara Amanda Brownies, Tokopedia, Toshiba TV, Duolingo, dan Somethinc menunjukkan bagaimana brand bisa menarik perhatian banyak orang melalui upaya yang tidak disengaja.
Kolaborasi ini tidak dimulai dari press release atau tagar resmi. Ia tumbuh dari banter antar brand, visual kreatif, dan narasi Alternate Universe (AU) yang sudah sangat familiar bagi pengguna X, terutama Gen Z. Alih-alih menayangkan iklan, netizen dibuat ramai dengan drama percintaan antara Amanda Brownies dan Toshiba TV.
Ketika Brand Berhenti Terlihat Seperti Brand
Interaksi ‘geng’ ini terasa natural dan menghibur karena tiap brand hadir dengan persona uniknya masing-masing. Amanda Brownies tampil sebagai gadis asal Bandung yang emosional dan cerewet, Tokopedia dengan persona playful yang sudah konsisten, Duolingo tetap setia dengan karakter burung hijaunya yang absurd, Somethinc hadir dengan gaya khas Gen Z, sementara Toshiba TV hadir mengambil peran sebagai pria mapan yang berwibawa.
Alih-alih menjual produk, mereka menjual kehadiran. Brand tidak berbicara kepada audiens, tetapi bersama audiens. Dalam konteks Gen Z, pendekatan ini terasa lebih jujur. Brand bukan lagi institusi yang jauh dan formal, melainkan entitas yang terasa “nyambung”.
Cerita ini bermula dari hal yang sangat sederhana. Amanda Brownies, yang memang aktif dan responsif di X, menjawab pertanyaan netizen dengan gaya santai khasnya. Di titik itu, Toshiba datang mendekat lewat basa-basi ringan yang terasa spontan, bukan promosi. Percakapan kecil ini kemudian menarik perhatian brand lain. Tokopedia dan Duolingo ikut nimbrung, mencoba memikat Amanda dengan gaya masing-masing. Hingga akhirnya Somethinc hadir bukan sebagai “pesaing”, melainkan teman, yang kemudian menciptakan dinamika baru yang bahkan membuat Duolingo berpaling. Dari satu balasan ke balasan lain, lahirlah semesta percakapan yang tumbuh organik, tanpa skrip, tanpa kampanye resmi.

Baca Juga: 83% Milenial Mau Brand Etis: Diam Berisiko, Keberanian Moral adalah Kunci Kesuksesan Bisnis
Ketika Netizen Ikut Membangun Semesta Brand

Kompilasi fanart oleh berbagai ilustrator di X
Seiring maraknya AU yang dibuat oleh netizen, percakapan berkembang ke tahap yang lebih kreatif. Muncul visualisasi karakter versi netizen bergaya komik dan anime. Karakter-karakter ini dibuat oleh komunitas yang merasa terlibat dalam cerita.
Amanda Brownies kemudian mengabadikan karya-karya tersebut melalui tagar #AmandArt sebagai bentuk apresiasi terhadap para ilustrator. Langkah sederhana namun bermakna ini memberikan panggung yang sukses menjangkau banyak pihak. Dalam ekosistem digital, apresiasi semacam ini sering kali lebih bernilai daripada kompetisi berhadiah.
Di titik ini, brand memainkan peran unik sebagai kurator seni. Netizen secara umum pun ikut tertarik menyaksikan fan art yang bermunculan dan menantikan kelanjutan kisah cinta Amanda Brownies dan Toshiba TV.
Aktivasi Bisnis di Balik Fandom Marketing
AU dan fandom culture sudah lama menjadi bagian dari ekosistem X. Menariknya, Toshiba TV secara terbuka menjelaskan bahwa banyak brand sebelumnya mengalihkan fokus ke TikTok dan Instagram, sehingga kampanye di X tidak sebesar dulu. Kondisi ini justru menjadikan X sebagai ‘blue ocean’—ruang yang relatif lebih sepi, tapi penuh potensi.
Amanda Brownies muncul sebagai pemantik awal yang menghidupkan kembali keseruan di X. Brand lain kemudian melakukan tap-in. Namun seiring waktu, hanya beberapa nama yang konsisten muncul di percakapan awal dan terus relevan, yakni Amanda Brownies, Toshiba, Duolingo, Tokopedia, dan Somethinc. Hal ini menunjukkan bahwa di ruang yang longgar sekalipun, konsistensi tetap menjadi kunci.
Baca Juga: Labubu, Stanley, dan Matcha Hype: Pelajaran tentang Perilaku Konsumen
Kolaborasi ini tidak berhenti di engagement. Toshiba TV memanfaatkan momentum tersebut untuk mengaktivasi Big Sale Ramadan dan Promo 2.2, dibungkus dalam narasi yang sudah hangat di benak netizen. Promosi hadir sebagai kelanjutan cerita.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa engagement dan konversi penjualan dapat berjalan beriringan, selama brand memahami konteks dan momentum yang tepat.
Kesimpulan: Cara Brand Menjaga Relevansi
Di balik layar, strategi ini menegaskan bahwa keberhasilan kampanye digital tidak hanya soal admin yang responsif. Demi memanfaatkan momentum, brand mengambil keputusan berani untuk menjalankan kampanye yang tidak biasa. Keputusan ini mencerminkan kepercayaan pada tim media sosial, keberanian bereksperimen di platform yang sebelumnya tidak diprioritaskan, serta keyakinan pada nilai jangka panjang komunitas dan kreator. Realitanya, pola audiens yang terus berubah mendorong pemasaran di era saat ini untuk keluar dari pendekatan yang konvensional.
Hal ini juga disampaikan oleh Toshiba TV, yang menyinggung tujuan lebih luas untuk menghidupkan kembali ekosistem kreator dan KOL di X yang terdampak pergeseran platform. Di luar membangun awareness, brand turut berperan menjaga ruang tempat percakapan itu tetap hidup.
Namun, tidak semua brand perlu terlibat dalam AU atau fandom culture. Strategi ini membutuhkan sensitivitas, pemahaman kontekstual, dan lagi-lagi, momentum yang tepat. Kisah Amanda Brownies dan Toshiba TV berlanjut karena kesesuaian berbagai elemen yang terlibat. Hal ini membuktikan bahwa apresiasi sering kali efektif daripada promosi, sebagaimana brand yang gagal membaca konteks rentan menerima kritik karena citra yang mereka tampilkan tidak sejalan dengan persepsi publik.
Bisnis
Manisha adalah editor dan penulis di Leaderonomics. Ia percaya tulisan memiliki kekuatan untuk belajar dan membawa perubahan dengan menginspirasi banyak orang.






