FOMO, JOMO, dan Ada Apa dengan Cinta?

jcomp, Freepik
Film yang dirilis pada tahun 2002 ini bukan hanya menjadi salah satu film Indonesia paling ikonik, tetapi juga menghadirkan banyak dialog yang masih diingat sampai sekarang. Kisah tentang Cinta dan Rangga sering kali dibicarakan sebagai cerita tentang pertemanan, cinta, dan pencarian jati diri.
Namun jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, film ini juga menggambarkan dua cara melihat kehidupan: mengikuti arus atau memilih jalan sendiri. Dalam istilah yang lebih modern, mungkin kita bisa menyebutnya sebagai FOMO (Fear of Missing Out) dan JOMO (Joy of Missing Out).

Film Ada Apa dengan Cinta?
Ketika Kita Takut Tertinggal
FOMO sering muncul ketika kita merasa harus menjadi bagian dari segala sesuatu. Kita takut tertinggal dari orang lain. Baik dalam pertemanan, pengalaman, maupun pencapaian.
Dalam film AADC, kehidupan Cinta cukup menggambarkan hal ini. Ia aktif di sekolah, populer, dan selalu berada di tengah lingkaran pertemanan yang ramai. Segala sesuatu tampak berjalan sesuai dengan ekspektasi.
Namun ketika Rangga mulai hadir dalam hidupnya, semuanya terasa berbeda. Rangga bukan tipe orang yang merasa perlu berada di tengah keramaian.
Ada satu dialog yang cukup menggambarkan sikap Rangga terhadap dunia di sekitarnya:
Kadang kita perlu pergi untuk tahu arti pulang.
Kalimat ini sederhana, tetapi menunjukkan cara pandang Rangga yang berbeda. Ia tidak merasa harus mengikuti apa yang dilakukan semua orang. Ia memilih mengambil jarak, berjalan dengan ritmenya sendiri, dan menemukan makna dari pilihan itu.
Baca Jugqa: FOMO: Ketika Takut Tertinggal Mengganggu Ketenangan Hidup
Menemukan JOMO dalam Pilihan Kita
Jika FOMO membuat kita merasa harus ikut semua hal, maka JOMO justru memberi kita ruang untuk berkata, “Tidak apa-apa jika aku melewatkan ini.”
Rangga dalam film tersebut sering digambarkan sebagai sosok yang tidak terlalu peduli dengan popularitas atau ekspektasi sosial. Ia lebih banyak membaca, menulis, dan menghabiskan waktu sendiri.
Dalam salah satu adegan, ia bahkan berkata dengan santai:
Ini bukan tentang siapa yang benar. Ini tentang apa yang kamu percaya.
Sikap seperti ini sering kali terlihat sederhana, tetapi sebenarnya membutuhkan keberanian. Tidak mudah untuk tetap berjalan dengan pilihan kita sendiri ketika orang lain tampak bergerak ke arah yang berbeda.
Di dunia kerja maupun kehidupan sehari-hari, kita juga sering menghadapi situasi yang sama. Ada banyak peluang, tren, atau aktivitas yang terlihat menarik. Rasanya seperti semua hal harus diikuti agar kita tidak tertinggal.
Padahal kenyataannya, tidak semua hal perlu kita kejar dalam waktu yang bersamaan.
Fokus Datang dari Keberanian Memilih
Sering kali kita berpikir bahwa kesuksesan datang dari melakukan sebanyak mungkin hal. Namun dalam banyak kasus, yang justru membuat seseorang berkembang adalah kemampuannya untuk memilih.
- Memilih mana yang benar-benar penting.
- Memilih mana yang sejalan dengan tujuan kita.
- Dan memilih apa yang bisa kita lewatkan tanpa rasa takut.
Jika FOMO membuat kita terus berlari mengejar apa yang dilakukan orang lain, maka JOMO mengingatkan kita untuk berhenti sejenak dan melihat arah kita sendiri.
Seperti yang secara tidak langsung ditunjukkan dalam kisah Cinta dan Rangga, setiap orang memiliki cara berbeda dalam menjalani hidupnya.
Dan mungkin, salah satu bentuk kebebasan terbesar adalah ketika kita bisa berkata dengan tenang: tidak semua hal harus kita ikuti.

Komunitas
Tags: Pertumbuhan
Manisha adalah editor dan penulis di Leaderonomics. Ia percaya tulisan memiliki kekuatan untuk belajar dan membawa perubahan dengan menginspirasi banyak orang.





