Saya Pernah Ditolak PTN, Tapi Hidup Tidak Berhenti

ᛟᛞᚨᛚᚹ ᚨᚱᚲᛟᚾᛊᚲᛁ, Pexel
Kemarin, 31 Maret 2026, menjadi hari yang spesial.
Bagi sebagian orang, hari itu dipenuhi kebahagiaan karena putra, putri, atau saudaranya dinyatakan lolos perguruan tinggi negeri melalui jalur SNBP. Namun bagi sebagian lainnya, hari itu justru meninggalkan rasa kecewa. Ada yang sudah menaruh harapan besar, ada yang merasa nilainya cukup, ada juga yang bahkan termasuk siswa unggulan, tetapi tetap belum berhasil lolos.
Saya sangat memahami perasaan itu.
Karena kurang lebih 30 tahun lalu, saya juga pernah berada di titik yang sama, tidak berhasil masuk PTN.
Saat itu rasa kecewanya tentu nyata. Apalagi pada masa tersebut pilihan jalur masuk belum sebanyak sekarang. Tidak seperti hari ini yang masih memiliki banyak alternatif seperti jalur tes, mandiri, IUP, talent scouting, SIMAK, dan lainnya. Waktu itu, ketika tidak lolos, rasanya seolah pintu masa depan ikut tertutup.
Kalau saya melihat kembali dengan jujur, saat itu memang saya belum mempersiapkan diri sebaik yang seharusnya. Saya masih terlalu banyak bermain, belum cukup serius belajar, dan bahkan ketika mengikuti bimbingan belajar pun saya tidak menjalaninya dengan sepenuh hati. Jadi kalau ditanya apakah saya kecewa? Tentu. Tetapi kalau ditanya apakah saya perlu mengevaluasi diri? Jawabannya juga iya.
Baca Juga: Kemajuan Pribadi: 8 Tips untuk Meningkatkan Diri
Pada akhirnya saya melanjutkan kuliah di universitas swasta di Padang, yaitu Universitas Bung Hatta, dengan mengambil jurusan arsitektur karena saat itu saya bercita-cita menjadi arsitek. Dan saya bersyukur, karena kampus tersebut tetap memberi saya ruang untuk terus melangkah. Pada masanya, Universitas Bung Hatta merupakan salah satu universitas swasta terbaik di Sumatera. Mahasiswanya datang bukan hanya dari Padang, tetapi juga dari Medan, Pekanbaru, Jambi, dan berbagai kota lainnya.
Waktu terus berjalan.
Dan hidup, seperti yang sering kita alami, ternyata tidak selalu bergerak sesuai rencana awal.
Saya memang tidak kuliah di PTN ternama. Saya juga tidak menempuh jalan yang dulu mungkin saya bayangkan sebagai “jalur ideal”. Namun hari ini, ada satu hal yang diam-diam saya syukuri sekaligus banggakan. Dalam perjalanan karier saya, saya pernah dipercaya memimpin tim dengan latar belakang pendidikan dari kampus-kampus besar seperti Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, dan Universitas Indonesia.
Di titik itu saya menyadari bahwa ditolak oleh sebuah kampus tidak berarti ditolak oleh kehidupan.
Kadang kita masih terlalu muda untuk memahami bahwa kegagalan di usia 17 atau 18 tahun hanyalah satu episode kecil, bukan keseluruhan cerita. Pada saat itu kita merasa kalah. Padahal sebenarnya hidup hanya sedang memaksa kita mengambil rute yang berbeda.
Dan rute yang berbeda tidak selalu berarti rute yang lebih buruk.
Banyak orang berhasil bukan karena mereka selalu lolos di pintu pertama, melainkan karena mereka tidak berhenti melangkah setelah pintu pertama tertutup. Mereka masuk melalui pintu lain. Mereka belajar lebih keras. Mereka bekerja lebih serius. Mereka membangun reputasi sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya dunia memberi mereka tempat yang mungkin dahulu bahkan tidak pernah mereka bayangkan.
Bagi saya, inilah bentuk sweet revenge yang paling baik.
Bukan balas dendam yang dipenuhi kemarahan. Bukan pula sibuk membuktikan diri kepada orang lain. Tetapi membuktikan kepada hidup bahwa penolakan itu tidak berhasil menghentikan langkah kita.
Baca Juga: Jika Bermimpi Besar Bisa Mengubah Hidup, Mengapa Tidak?
Kalau hari ini ada yang sedang kecewa karena belum lolos PTN, izinkan saya mengatakan bahwa kecewa itu wajar. Sedih juga wajar. Tetapi jangan berhenti di sana. Kampus memang penting, namun masa depan tidak hanya dibentuk oleh nama almamater. Masa depan dibentuk oleh karakter, disiplin, kemauan untuk terus belajar, dan daya tahan ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana.
Masih banyak jalan menuju cita-cita. Masih banyak cara untuk bertumbuh. Dan masih banyak kesempatan untuk membangun versi terbaik dari diri kita.
Karena pada akhirnya, hidup tidak hanya bertanya, “Kamu kuliah di mana?” Hidup lebih sering bertanya, “Setelah itu, kamu menjadi siapa?”
Artikel ini diterbitkan dari akun LinkedIn milik Gustia R. Anasril.
Kepribadian
Gustia R. Anasril adalah HR Director/CHRO senior di industri pertambangan, berpengalaman dalam membangun dan mengembangkan organisasi. Ia menggabungkan strategi dan eksekusi dalam HR untuk mendorong kinerja, keselamatan, dan keberlanjutan bisnis melalui pengelolaan talenta, hubungan industrial, serta transformasi HR berbasis digital.





