Kuatkan Diri, Bantu Orang Lain

May 13, 2026 4 Min Read
Ketika kepastian menjadi sebuah persembahan

Seorang teman pernah mengatakan sesuatu kepada saya baru-baru ini.

Ia sedang menghadapi penyakitnya sendiri. Di saat yang sama, ia juga merawat ibunya yang sudah lanjut usia. Sang ibu berusaha untuk tidak merepotkan siapa pun, tetapi tanpa sadar justru menjadi beban paling berat bagi orang-orang yang paling mencintainya. Teman saya bolak-balik antara janji temu medisnya sendiri dan rumah ibunya, mengurus keduanya tanpa banyak keluhan. Dan ibunya tidak mengetahui kondisi dirinya. Ada diam yang bukan sekadar rahasia. Ada diam yang lahir dari kasih sayang.

Lalu ia menoleh kepada saya dan berkata:

"Stay strong and help others."

Saya memikirkan kalimat itu cukup lama.

Sehari sebelumnya, saya sedang menonton Brené Brown.

Saya pertama kali mengenal karyanya sekitar tahun 2016. Saat itu saya masih bekerja di dunia korporat, lingkungan yang menghargai kepastian, ketenangan, dan citra seolah semuanya terkendali. TED Talk-nya tentang kelemahan (vulnerability) terasa tidak nyaman bagi saya. Ia memberi nama pada sesuatu yang selama ini saya bawa tanpa benar-benar memahaminya.

Perfeksionisme.

Dulu saya selalu menganggapnya sebagai kekuatan. Standar tinggi. Perhatian terhadap detail. Tidak mau menerima hasil yang biasa-biasa saja. Semua itu dianggap nilai tambah dalam manajemen proyek. Hampir seperti bagian dari deskripsi pekerjaan.

Namun Brown mengatakan sesuatu yang membuat saya berhenti sejenak. Perfeksionisme bukan tentang menjadi lebih baik. Perfeksionisme adalah tentang mencari penerimaan dari orang lain. Keyakinan bahwa jika saya melakukan semuanya dengan sempurna, jika tidak ada kelemahan yang terlihat, maka tidak ada yang bisa mengkritik saya. Dan jika tidak ada yang mengkritik saya, saya tidak perlu merasa malu.

Saya langsung merasa tersentuh.

Diam teman saya bukanlah perisai. Itu adalah bentuk perlindungan. Sedangkan saya berbeda. Ketakutan saya bersembunyi di balik standar yang tinggi. Takut dianggap tidak cukup baik. Takut “terbongkar”. Menampilkan citra kompeten sebagai cara untuk melindungi diri dari kelemahan. Kesadaran itu mengubah banyak hal dalam diri saya.

Inilah yang saya pelajari sejak saat itu.

Vulnerability bukan kelemahan. Itu bukan berarti membuka semua hal tanpa batas. Bukan juga berarti runtuh di depan tim atau mengakui setiap keraguan di setiap rapat. Maknanya jauh lebih tenang dan lebih dalam dari itu.

Vulnerability adalah keberanian untuk jujur tentang apa yang tidak kita ketahui. Berani berkata, “Saya salah.” Berani meminta bantuan sebelum semuanya berubah menjadi krisis. Memberi ruang bagi orang lain untuk melihat diri kita yang nyata, bukan sekadar versi yang sudah dipoles.

Baca Juga: Keunggulan dalam Kelemahan

Ketika saya mulai melakukannya, perlahan dan hanya kepada orang-orang yang saya percaya, hubungan saya berubah. Tidak secara dramatis, tetapi terasa jelas. Orang-orang mulai membawa masalah mereka yang sebenarnya, bukan versi yang sudah “dirapikan”. Percakapan menjadi lebih jujur. Jarak antara apa yang diucapkan dalam rapat dan apa yang benar-benar dirasakan mulai mengecil.

Selama ini saya terlalu sibuk menjadi orang yang punya semua jawaban, sampai-sampai saya membuat orang lain kesulitan membawa pertanyaan mereka.

Budaya manajemen proyek sangat rentan terhadap jebakan ini.

Kita dilatih untuk mengelola risiko, mengantisipasi kegagalan, dan menampilkan keyakinan kepada klien maupun pemangku kepentingan. Semua itu memang penting. Klien membutuhkan rasa percaya. Tim membutuhkan arah. Deadline memang nyata.

Namun ada versi dari ketenangan profesional yang bisa berubah menjadi sesuatu yang berbahaya. Pemimpin yang tidak pernah menunjukkan keraguan akan melahirkan tim yang terbiasa menyembunyikan masalah. Pemimpin yang terlihat tidak boleh goyah menciptakan budaya di mana mengaku kesulitan terasa seperti kegagalan. Akhirnya, masalah bergerak diam-diam di bawah permukaan. Dan ketika muncul, semuanya sudah berubah menjadi krisis besar.

Saya sudah melihat pola ini berkali-kali. Proyek yang terlihat baik-baik saja di laporan status tiba-tiba runtuh tanpa peringatan. Anggota tim yang berjuang sendirian selama berbulan-bulan tetapi tidak pernah berbicara karena budaya kerja tidak memberi ruang untuk itu.

Perfeksionisme di level atas sering melahirkan kesunyian di bawahnya.

Lalu apa yang harus kita lakukan dengan kalimat teman saya tadi?

"Stay strong and help others."

Saya rasa ia tidak salah. Kekuatan memang nyata. Dalam kepemimpinan maupun kehidupan, ada momen ketika kita harus tetap teguh di tengah ketidakpastian. Saat tim mulai cemas, ketenangan kita penting. Saat proyek bermasalah, kepanikan tidak membantu. Kekuatan bukan ilusi.

Namun kekuatan sejati bukanlah tidak memiliki kelemahan. Kekuatan sejati muncul ketika kita berhenti berpura-pura seolah kita tidak memilikinya.

Teman saya adalah salah satu orang terkuat yang saya kenal. Dan ia sedang memikul beban yang seharusnya tidak ditanggung sendirian. Kekuatannya bukan karena ia tidak terluka. Tetapi karena ia tetap berjalan sambil sepenuhnya sadar akan berat yang ia bawa. Diam-diam. Tanpa perlu dilihat. Tanpa menuntut pengakuan.

Brené Brown mengubah sesuatu dalam diri saya satu dekade lalu. Dan kata-kata teman saya kemarin membawa saya kembali pada masa-masa ketika saya juga memikul terlalu banyak hal seorang diri, bukan karena kasih sayang, tetapi karena takut dianggap lemah.

Mungkin inilah pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama.

Dalam pekerjaan, kepemimpinan, maupun hubungan, apakah cara kita “tetap kuat” justru membuat orang lain menjauh? Apakah ketenangan kita menjadi hadiah bagi orang lain, atau justru berubah menjadi tembok?

Baca Juga: Uncaring Boss: Kesalahan Pemimpin yang Membuat Tim Menjauh

Kekuatan dan kelemahan bukanlah dua hal yang bertentangan. Dalam bentuk terbaiknya, keduanya bisa menjadi hal yang sama.

Apa yangkelemahan (vulnerability) ambil dari diri Anda, atau justru berikan kepada Anda, sebagai seorang pemimpin?

Share artikel ini

Alt

Param Sivalingam adalah veteran industri konstruksi dengan pengalaman lebih dari 45 tahun memimpin tim lintas budaya dan disiplin di Malaysia, Singapura, Qatar, dan India. Berbekal keahlian dalam teknik sipil, integrasi sistem, dan kepemimpinan manusia, ia dikenal mampu membangun tim berkinerja tinggi untuk menyelesaikan proyek kompleks secara efektif. Saat ini, beliau turut berkontribusi dalam proyek East Coast Rail Link (ECRL) dan meyakini bahwa ketahanan diri serta disiplin pribadi merupakan fondasi penting bagi keunggulan profesional dan kepemimpinan.

Alt

Mungkin Anda Juga Menyukai

Tangan Beberapa Orang Bertumpuk Di Tengah Meja

Apakah Budaya Kerja Anda Terlalu "Baik" untuk Berinovasi?

Oleh Anthony J. James menjelaskan bahwa budaya kerja yang terlalu "baik" sering terlihat sehat, tetapi bisa menjadi penghambat inovasi. Inovasi membutuhkan ruang untuk perbedaan pendapat, ketegangan kreatif, dan keberanian untuk jujur.

Oct 11, 2025 2 Min Read

written note with stickers

Karir Sukses dengan Meningkatkan Inisiatif

Oleh Fanny Winara membahas dengan singkat bagaimana meningkatkan inisiatif dapat membantu membuka peluang kemajuan karir bagi karyawan yang merasa karirnya stagnan di tengah tekanan dan tantangan.

Mar 06, 2026 15 Min Video

Jadi Seorang Pembaca Leader's Digest