Self-Sabotage: Pengertian, Contoh, dan Cara Mengatasinya

Oct 23, 2023 6 Min Read
wanita sedang bermalas-malasan main handphone
Sumber:

Karolina Grabowska dari Pexels.com

Pernahkah kamu membuat rencana untuk olahraga di pagi hari, Kemudian niat sudah dibulatkan pada malam harinya, tetapi ketika jam 6 pagi esok harinya, semuanya menjadi ambyar karena mendadak mager (malas gerak)?

Atau sering kali kita sudah berniat untuk bangun pagi dan menyetel alarm, namun esok harinya begitu alarm berbunyi kita matikan kembali?

Hal yang wajar. Saya juga sering begitu. Membatalkan komitmen kepada diri sendiri. Padahal saya tahu persis kalau saya olahraga rutin di pagi hari bermanfaat untuk masa depan saya. Saya juga tahu kalau saya bangun lebih pagi maka saya akan lebih produktif.

Tapi kenapa itu semua saya batalkan sendiri? 

Saya berikan contoh lain misalnya, saya suka sekali makan gorengan. Bagi saya gorengan itu menjadi menu sarapan yang entah kenapa terasa nikmat sekali.

Padahal saya tahu persis berdasarkan jurnal-jurnal kesehatan, terlalu banyak makan gorengan tidak baik untuk tubuh dalam jangka panjang.

Tapi, kenapa saya tetap makan gorengan tanpa merasa bersalah? Apakah saya yang memang tidak peduli kesehatan tubuh saya dalam jangka panjang ataukah ada penyebab lain yang membuat saya mengabaikan semua itu?

Mengapa begitu sulit untuk melakukan hal-hal yang kita tahu baik untuk kita dalam jangka panjang tetapi tidak nyaman untuk kita saat ini? 

Dalam behavioral science, ini disebut dengan Hyperbolic Discounting.

Baca juga: Menghadapi Emosi Negatif? Bagus, Jangan Sia-siakan!

Apa Itu Hyperbolic Discounting?

Premis utamanya adalah otak kita terkecoh dengan ketidaknyamanan yang kita rasakan saat ini. Padahal secara sadar kita tahu bahwa olahraga dan mengurangi gorengan adalah penghargaan jangka panjang untuk kita.

Hal ini terkait dengan habit loop, dimana kita sulit untuk berhenti melakukan hal yang sama seperti yang selalu kita lakukan, hanya karena kita selalu melakukannya. Apalagi ketika habit loop ini membawa ilusi kenyamanan dan kenikmatan pada saat ini. 

Jadi, apa itu hyperbolic discounting? Hyperbolic discounting adalah cara berpikir yang menjelaskan bahwa otak manusia memang dirancang untuk menyukai kenikmatan atau penghargaan instan daripada manfaat jangka panjang. 

Saya mencoba memberikan ilustrasi hyperbolic discounting, perhatikan gambar di bawah ini:

hyperbolic discounting

Contoh saya mendadak malas gerak untuk berolahraga di pagi hari, adalah salah satu contoh di mana saya lebih menyukai kenikmatan instan. Saya memilih leyeh-leyeh daripada olahraga. Padahal otak saya tahu persis, kalau saya olahraga maka dalam jangka panjang akan menjadi lebih bugar.

Saya berikan contoh lain, misalnya kebiasaan menabung. Kita semua tahu persis bahwa kebiasaan menabung itu jauh lebih baik daripada kebiasaan boros dan impulsif.

Tapi kenapa saya dan mungkin orang-orang lain memilih untuk melakukan pemborosan dan pembelian impulsif, padahal saya tahu sifat boros itu tidak bermanfaat positif di masa depan.

Baca juga: Wajib Tahu, Ini 6 Cara Efektif Mencegah Burnout!

Apakah Ini Maksudnya Kita Tidak Boleh Menikmati Hidup?

Begini, premis dasarnya adalah tanpa kita sadari banyak sekali keputusan penting tentang kesehatan, kebugaran, keuangan, dan karier kita, dipengaruhi oleh hyperbolic discounting ini. 

Saya ulangi, banyak sekali. Berita buruknya adalah kebanyakan dari kita tidak sadar. Otak kita terkecoh oleh salah satu anggota keluarga besar bias kognitif yang paling berbahaya ini. 

Kenapa saya katakan paling berbahaya? Karena semua pilihan-pilihan tersebut akan menyangkut pertukaran kesenangan dan kenikmatan instan untuk kebaikan masa depan kita.

Ketika kita menunda-nunda, kita memilih kepuasan instan untuk menikmati waktu saat ini daripada penghargaan di masa depan. 

Kita memilih menikmati rebahan di pagi hari daripada bugar di masa depan. Kita memilih gurihnya bakwan panas di pagi hari daripada jantung sehat di masa depan. Kita memilih terlihat kaya dan keren saat ini daripada tabungan di masa depan.

Itu semua adalah bias kognitif yang mengecoh otak kita. Bias yang sangat berbahaya, karena kita menjadi seakan-akan hanya hidup di masa sekarang.

Padahal kita tahu semua kebiasaan positif tadi, mulai dari bangun pagi, kemudian olahraga dan tidak makan gorengan, adalah penghargaan bagi diri kita sendiri di masa depan.

Penghargaan dalam bentuk tubuh yang bugar, jantung yang sehat dan bisa menikmati masa depan yang lebih baik.

Selain itu, hal yang terburuk adalah kita tidak sadar bahwa masa depan itu bukan hanya milik kita. Masa depan kita juga adalah milik orang-orang yang kita sayangi.

Baca juga: Kenali Mental Block, Penyebab Turunnya Produktivitasmu

Dampak Buruk dari Hyperbolic Discounting (Self-Sabotage)

menunda pekerjaan di kasur

Sumber: Ketut Subiyanto dari Pexels.com

Selain membahayakan diri kita di masa depan, hyperbolic discounting ini juga dapat mengakibatkan pengambilan keputusan yang buruk, karena mendorong mengambil keputusan yang impulsif dan instan.

Apalagi otak kita memang cenderung suka hal-hal yang sifatnya instan dan jangka pendek. Secara naluriah, hal ini akan membuat kita mengabaikan penghargaan jangka panjang.

Coba sekarang kita bayangkan contoh ekstrim, merokok. Kebiasaan yang satu ini memang memberikan aliran dopamin yang menyenangkan, tapi tanpa sadar kita mempertaruhkan kesehatan masa depan. 

Belum lagi timbul masalah baru, kecanduan nikotin. Padahal saya yakin kita tahu bahwa merokok itu memang berbahaya, tapi kita tetap saja melakukannya.

Menurut saya ini semua bermuara pada satu pandangan bahwa "diri kita sekarang" dan "diri kita masa depan", adalah dua orang yang berbeda.

Itulah mengapa lebih nyaman rebahan di tempat tidur daripada lari pagi. Lebih menikmati gorengan panas daripada kesehatan jantung.

"Ah, bodo amat, tidak bugar itu masalah nanti-nanti saja". Otak kita disini mulai terkecoh.

"Ah, di luar mendung, cuaca dingin, lebih enak tarik selimut". Otak kita makin terkecoh.

15 menit kemudian, "Ah, hujan-hujan enaknya makan gorengan panas". Selesai sudah. Selamat! Kita sudah benar benar terkecoh.

Baca juga: Menjaga Api Inspirasi di Tempat Kerja

Cara Mengatasi Hyperbolic Discounting

olahraga pagi

Sumber: Tirachard Kumtanom dari Pexels.com

Berdasarkan pengalaman saya dan hasil pengamatan terhadap orang-orang yang berhasil mengatasi hyperbolic discounting ini, ada beberapa pendekatan yang bisa saya sarankan sebagai berikut:

1. Buat "diri kita di masa depan" menjadi prioritas: Ini memang sulit. Saya pernah mencobanya dan prosesnya tidak mudah. Tapi saya berhasil membuat komitmen terhadap diri saya sendiri. Saya harus lebih baik dari hari kemarin. Iya, saya tahu ini sangat klise.

Tapi bagi saya lebih baik saya konsisten, menjadi lebih baik secara perlahan daripada tidak sama sekali.

2. Bergabung dengan orang-orang yang punya mindset positif: Misalnya, saya bergabung dengan salah satu platform menulis karena saya melihat value dari para penulis di platform tersebut positif. Membuat saya bergairah menulis. Bagi saya menulis 10 menit lebih baik daripada saya menghabiskan satu gorengan bakwan di pagi hari.

3. Buat rutinitas positif: Sekali lagi maafkan saya untuk memberi saran yang klise, tetapi kita dapat menghindari bahaya hyperbolic discounting ini dengan mengurangi dilema memutuskan sesuatu hal sejak awal.

Saat kita sudah mengotomatiskan rutinitas positif tersebut, kita mengurangi risiko bahaya hyperbolic discounting karena rutinitas positif ini sudah kita bentuk dan autopilot terulang di masa depan.

Tiga langkah yang memang tidak mudah. Saya yakin akan banyak hambatan, terutama dari otak kita yang lebih suka kenyamanan instan. Kuncinya adalah keberanian untuk berkomitmen terhadap diri kita masing-masing.

Kesimpulan

Otak kita memang tidak pernah diprogram untuk menjadi benar-benar rasional, karena terlalu banyak informasi untuk diproses. Jadi secara tanpa sadar, kita berevolusi untuk memproses informasi secara selektif untuk membuat keputusan dengan cepat.

Namun, terkadang proses tersebut tidak berjalan sesuai dengan harapan kita. Proses tersebut terkadang malah membawa kita ke situasi yang tidak menguntungkan di masa depan.

Kita menunda hal-hal di masa depan karena kita berpikir itu mudah. Mudah karena kita berasumsi di masa depan energi dan inspirasi kita tidak terbatas.

Namun sayangnya, visi masa depan kita yang sempurna itu tidaklah semudah yang dibayangkan.

Saya ingin mengakhiri artikel ini dengan satu kesimpulan penutup bahwa setelah kita memahami bahwa kebiasaan dapat berubah, kita otomatis memiliki kebebasan dan tanggung jawab untuk mengubahnya kembali. 

Mengubah kebiasaan negatif ke arah lebih positif atau meneruskan kebiasaan positif menjadi konsisten dan persisten.

Hyperbolic discounting ini nyata. Kita harus segera sadar untuk mengevaluasi masa sekarang dan rencana masa depan. Hal ini bisa membantu kita melakukan hal yang benar untuk masa depan yang lebih baik.

Terakhir, tidak ada masa kini ataupun masa depan yang terlalu buruk ataupun terlalu baik. Yang ada hanyalah bagaimana kita selalu melakukan introspeksi terhadap diri kita saat ini dan berani berubah untuk masa depan yang lebih baik lagi.

Salam hangat.

Artikel ini diterbitkan dari akun LinkedIn milik Dr. Andesna Nanda

Share artikel ini

Kepribadian

Mungkin Anda Juga Menyukai

self awareness

3 Cara Mengenali Diri Sendiri (Self Awareness)

Sebagian besar dari kita percaya bahwa untuk menjadi seorang pemimpin hal utama yang kita harus pahami adalah diri kita sendiri. Namun, apakah yakin cara yang selama ini kita gunakan untuk mengenali diri sudah benar? Atau justru kita memaksa diri untuk meyakini hanya karena kita ingin diakui sebagai orang yang demikian?

Nov 29, 2021 5 Min Read

Jadi Seorang Pembaca Leader's Digest