Multitasking Membuat Kita Cepat Lelah

May 18, 2026 3 Min Read
woman cries in despair
Sumber:

wayhomestudio, Magnific

Menulis artikel tentang multitasking ternyata cukup ironis, karena saya sendiri juga melakukannya saat ini.

Sambil mengetik, saya membuka dan mengerjakan tugas lain di tab sebelah. Sesekali saya berhenti mengetik hanya untuk membuka WhatsApp, membalas chat, lalu tanpa sadar scroll media sosial beberapa menit sebelum kembali lagi ke tulisan ini. Dan anehnya, kondisi seperti ini terasa normal. Mungkin karena saya sudah terlalu terbiasa hidup dengan banyak “tab” di kepala. Bukan cuma di browser, tapi juga di hidup kita sehari-hari.

Kita bekerja sambil scroll media sosial. Mendengarkan meeting sambil membalas chat. Menonton film sambil membuka marketplace. Bahkan saat sedang istirahat pun, otak kita tetap berpindah-pindah dari satu hal ke hal lain.

Ironisnya, semua itu sering kita anggap sebagai tanda produktif.

Terlalu Banyak Fokus yang Diperebutkan

Multitasking tidak selalu membuat kita lebih efektif. Kadang justru membuat kita lebih cepat lelah tanpa benar-benar menyelesaikan apa pun dengan maksimal.

Saya pernah merasa sangat sibuk seharian penuh. Rasanya seperti terus bergerak dari pagi sampai malam. Tapi ketika malam tiba dan mencoba mengingat apa yang benar-benar selesai hari itu, ternyata tidak banyak.

Ada tugas yang setengah jadi. Ada pesan yang lupa dibalas. Ada pekerjaan yang harus dibaca ulang karena ternyata tadi tidak fokus saat mengerjakannya.

Dan salah satu penyebab terbesarnya adalah kebiasaan berpindah fokus terlalu cepat.

Setiap kali notifikasi masuk, perhatian ikut terpecah. Setiap kali membuka media sosial “sebentar saja”, otak butuh waktu lagi untuk kembali fokus ke pekerjaan utama. Lama-lama energi terkuras bukan karena pekerjaannya terlalu berat, tapi karena otak dipaksa terus berpindah jalur.

Yang lebih sulit lagi, multitasking sering terasa menyenangkan di awal.

Ada rasa puas ketika berhasil melakukan banyak hal sekaligus. Rasanya seperti sedang produktif dan efisien. Tapi sebenarnya, otak kita tidak benar-benar mengerjakan banyak hal dalam waktu bersamaan. Kita hanya berpindah fokus dengan cepat.

Dan perpindahan kecil itu ternyata melelahkan.

Baca Juga: Otak Bukan Lemah, Kita yang Membuatnya Kelelahan

Saat Fokus Menjadi Hal yang Langka

Saya mulai menyadari dampaknya ketika attention span terasa makin pendek. Baru beberapa menit mengerjakan sesuatu, tangan otomatis ingin membuka HP. Bahkan saat sedang menonton video atau membaca artikel pun rasanya sulit bertahan tanpa mengecek aplikasi lain.

Seolah-olah diam dan fokus pada satu hal sudah terasa asing.

Mungkin ini juga yang dialami banyak orang sekarang. Kita hidup di era yang membuat otak selalu aktif. Selalu ada notifikasi baru, informasi baru, dan konten baru yang terus datang tanpa jeda. Akhirnya, kita terbiasa merasa harus selalu melakukan sesuatu.

Padahal kadang yang benar-benar dibutuhkan bukan menambah aktivitas, tapi mengurangi distraksi.

Hal-Hal Kecil yang Mulai Saya Coba

Saya belum sepenuhnya berhasil lepas dari kebiasaan multitasking. Sehingga saya berhasil menemukan beberapa hal kecil yang mulai membantu pikiran saya terasa lebih tenang:

  • Meletakkan HP sedikit jauh saat sedang bekerja.
  • Menyelesaikan satu tugas kecil terlebih dahulu sebelum pindah ke tugas lain.
  • Mematikan notifikasi yang sebenarnya tidak terlalu penting.
  • Memberi jeda beberapa menit tanpa layar setelah terlalu lama bekerja.
  • Mendengarkan musik tanpa scroll media sosial.
  • Membuka media sosial di waktu tertentu supaya tidak terus-menerus terdistraksi.

Baca Juga: 5 Kebiasaan Orang Produktif Menghindari Distraksi Digital

Awalnya terasa aneh, bahkan membosankan. Tapi pelan-pelan saya menyadari bahwa fokus penuh pada satu hal ternyata bisa membuat pikiran terasa lebih ringan.

Menjadi multitasker bukan berarti lemah atau tidak disiplin. Terkadang itu cuma bentuk adaptasi dari dunia yang bergerak terlalu cepat. Kita terbiasa dituntut responsif, cepat, dan selalu online.

Namun mungkin sesekali, kita perlu memberi kesempatan pada diri sendiri untuk berhenti membuka terlalu banyak “tab”. Bukan supaya hidup jadi sempurna dan super produktif. Tapi supaya kita bisa benar-benar hadir dalam apa yang sedang dikerjakan.

Karena di tengah dunia yang terus meminta perhatian kita setiap detik, fokus mungkin sudah menjadi bentuk istirahat yang paling langka.

Share artikel ini

Kepribadian

Tags: Pertumbuhan, Sifat Positif

Alt

Manisha adalah editor dan penulis di Leaderonomics. Ia percaya tulisan memiliki kekuatan untuk belajar dan membawa perubahan dengan menginspirasi banyak orang.

Alt

Mungkin Anda Juga Menyukai

new year word blocks

Mengapa 92% Orang Gagal Melakukannya?

Oleh Terry Small. Sebanyak 92% orang gagal mempertahankan resolusi mereka. Artikel ini mengungkap peran kebiasaan, kesadaran, dan celah kecil dalam otak yang menentukan apakah kita berubah atau tetap terjebak.

Jan 11, 2026 4 Min Read

Wawancara Kepemimpinan: Kepemimpinan Yang Melayani

Kepemimpinan Yang Melayani

Theo Litaay, SH, LLM, Ph.D, membahas penerapan kepemimpinan yang melayani dalam organisasi untuk meningkatkan kinerja tim dan kesejahteraan.

Feb 19, 2025 56:41 Min Video

Jadi Seorang Pembaca Leader's Digest