Luka yang Tidak Bisa Disembuhkan oleh Kesuksesan

Scott Webb, Unsplash
Suka membaca artikel seperti ini? Subscribe newsletter kami dan dapatkan insight terbaru setiap bulan.
Ada sebuah kenyataan yang terasa aneh, tetapi jarang dibicarakan.
Saya masih ingat ketika berdiri di belakang panggung di Melbourne, delapan menit sebelum berjalan ke hadapn 900 orang, dan tiba-tiba pikiran itu muncul, seperti yang selalu terjadi. Bukan rasa gugup. Bukan adrenalin sebelum tampil yang biasanya muncul. Hanya satu pikiran kecil yang telah mengikuti saya sejak masih kecil: Mengapa saya tidak pernah cukup?
Kemudian lampu menyala. Saya berjalan ke atas panggung. Saya menyampaikan pidato utama. Tepuk tangan yang diberikan begitu meriah, begitu pula tanggapan yang saya terima. Namun, dalam perjalanan pulang malam itu, sendirian di dalam mobil, pikiran itu masih ada. Duduk diam di kursi penumpang, persis seperti sebelum saya melangkahkan kaki ke atas panggung.
Anda bisa membangun bisnis yang sukses. Menulis buku. Berbicara di berbagai panggung. Memimpin tim. Membesarkan anak. Melewati berbagai tantangan yang mungkin membuat banyak orang menyerah. Namun, Anda tetap bisa membawa luka dari masa kecil, luka yang berbisik pelan di sela-sela tepuk tangan: “Mengapa saya tidak pernah cukup?”
Selama bertahun-tahun, saya percaya bahwa jika saya bekerja cukup keras, mencapai cukup banyak hal, membantu cukup banyak orang, dan menjadi cukup sukses, rasa sakit itu akan hilang.
Ternyata tidak.
Karena kesuksesan dan penyembuhan adalah dua hal yang berbeda. Tidak ada trofi, jabatan, atau tepuk tangan yang meriah yang dapat mengisi ruang kosong akibat merasa tidak dilihat oleh orang-orang yang seharusnya paling mampu melihat kita.
Apa yang Dikatakan Penelitian
Saya tidak mencari penelitian untuk membenarkan apa yang saya rasakan. Saya mencarinya karena saya perlu tahu bahwa ada alasan mengapa luka ini tidak bisa disembuhkan oleh pencapaian, seperti hal-hal lain dalam hidup saya.
Dr. Gabor Maté, salah satu tokoh terkemuka dunia dalam bidang trauma dan perkembangan manusia, mengingatkan bahwa luka terdalam bukan hanya disebabkan oleh apa yang terjadi pada kita, tetapi juga oleh apa yang kita butuhkan dan tidak kita dapatkan. Menurutnya, pengabaian emosional dapat meninggalkan bekas yang nyata, sama seperti luka fisik.
Saat pertama kali membaca hal itu, saya merasa seperti bisa bernapas lega. Ternyata bukan sebuah peristiwa tertentu yang selama ini saya bawa. Melainkan sebuah ketidakhadiran. Dan ketidakhadiran lebih sulit untuk ditunjukkan, lebih sulit dijelaskan kepada orang lain, dan lebih sulit untuk disembuhkan karena tidak ada satu kejadian yang bisa kita ingat kembali. Yang ada hanyalah ruang kosong di tempat sesuatu seharusnya hadir.
Ilmu saraf juga mendukung hal ini. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penolakan dan pengucilan sosial mengaktifkan jalur saraf yang sama dengan rasa sakit fisik. Ketika keluarga meninggalkan kita, mengabaikan kita, atau meremehkan kita, hal itu bukan hanya menyakitkan secara emosional. Otak juga mencatatnya sebagai ancaman yang nyata.
Artinya, bagi kita yang terbiasa mengejar pencapaian, mengejar pencapaian berikutnya untuk meredakan rasa sakit tersebut kurang lebih seperti mencoba mengompres lutut yang sakit, padahal yang sebenarnya membutuhkan perhatian adalah hati.
Namun, kita justru mengecilkan rasa sakit itu. Kita mengatakan kepada diri sendiri untuk melupakannya. Kita memilih untuk terus berprestasi.
Beban Tersembunyi Orang-Orang Berprestasi Tinggi
Bagian ini sangat saya pahami karena saya sendiri telah mengalaminya dari berbagai sisi.
Banyak dari kita menghabiskan hidup dengan berusaha mendapatkan cinta, persetujuan, pengakuan, atau penerimaan yang tidak pernah benar-benar kita terima. Kita menjadi orang-orang yang berprestasi tinggi. Berusaha menyenangkan orang lain. Menjadi pengasuh. Menjadi penyelamat. Kita menjadi sangat pandai untuk menjadi orang yang dibutuhkan, karena merasa dibutuhkan terasa lebih aman daripada sekadar menjadi diri sendiri.
Psikolog Dr. Kristin Neff, peneliti terkemuka dunia dalam bidang self-compassion, menemukan bahwa orang-orang berprestasi tinggi sering kali justru paling tidak berbelas kasih kepada diri sendiri. Mereka didorong oleh suara kritis dalam diri yang terbentuk sejak masa kanak-kanak, terutama dari lingkungan tempat cinta terasa bersyarat.
Saya melihat hal ini terus terjadi pada para pemimpin yang saya dampingi. Mereka yang memiliki jabatan paling mengesankan sering kali justru menjadi orang yang paling keras terhadap diri sendiri ketika tidak ada orang lain yang melihat. Saya pun pernah menyadari diri saya melakukan hal yang sama, memberikan lebih banyak pengertian atas kesalahan staf junior dibandingkan yang pernah saya berikan kepada diri sendiri.
Kita belajar menunjukkan kekuatan sambil diam-diam membawa kesedihan. Kita tersenyum dalam rapat. Kita hadir untuk semua orang. Kita berusaha menjaga semuanya tetap baik-baik saja. Kemudian kita pulang sendirian dan bertanya-tanya mengapa kita masih merasa begitu hampa.
Kenyataannya, luka itu tidak peduli seberapa mengesankan profil LinkedIn Anda. Luka itu tidak peduli dengan pendapatan, reputasi, atau ketangguhan Anda. Ia hidup di tempat yang lebih sunyi, tempat seorang anak pernah menunggu untuk dipilih, dirayakan, dan dilihat.
Tubuh Mengingatnya
Dr. Bessel van der Kolk, penulis buku The Body Keeps the Score, menulis bahwa rasa sakit yang tidak diproses tidak begitu saja menghilang. Rasa sakit itu hidup di dalam tubuh, sistem saraf, dan pola-pola yang terus kita ulang. Sampai kita menghadapinya dengan kelembutan, rasa sakit tersebut akan terus membentuk banyak hal dalam hidup kita.
Saya memikirkan hal ini setiap kali menyadari bahu saya terangkat mendekati telinga ketika berada di ruangan yang membuat saya merasa sedikit saja tidak diterima. Reaksi tersebut sebenarnya tidak ada hubungannya dengan ruangan itu, tetapi sangat berkaitan dengan ruangan-ruangan yang saya tempati 30 tahun lalu.
Belum lama ini, saya mengalami sebuah momen yang memberikan kejelasan mendalam. Saya ingin menceritakan dengan baik seperti apa momen tersebut karena menurut saya, prosesnya jauh lebih penting daripada kesimpulannya.
Momen itu tidak dramatis. Tidak ada ledakan emosi, tidak ada satu percakapan yang tiba-tiba membuka semuanya. Momen itu terjadi pada sebuah malam biasa, di antara kegiatan menyiapkan makan malam dan memeriksa email, ketika saya menyadari bahwa selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, saya terus menjalani pola yang sama.
Saya terus berusaha memahami mengapa orang-orang tertentu tidak bisa hadir untuk saya seperti yang saya butuhkan. Mengapa mereka tidak bisa melihat saya? Mengapa mereka tidak bisa merayakan saya? Mengapa mereka tidak bisa menemui saya di tempat saya berada?
Saya bahkan telah membangun berbagai teori tentang hal itu. Saya melakukan riset. Menulis jurnal. Membicarakannya dalam terapi. Memikirkannya berulang kali, mencari sudut pandang yang akhirnya bisa membuat semuanya masuk akal, seolah-olah memahami alasannya akan membuat lubang itu terasa lebih kecil.
Kemudian, dengan tenang dan hampir tanpa terasa, sesuatu berubah.
Saya merasakannya secara fisik sebelum benar-benar memahaminya secara mental. Ada semacam kelonggaran di dada saya, seperti rasa lega ketika kita meletakkan tas yang ternyata sudah kita bawa selama berjam-jam.
Pertanyaan yang selama sebagian besar kehidupan dewasa saya terus tanyakan tiba-tiba tidak lagi terasa masuk akal untuk dipertanyakan.
Mungkin pertanyaannya bukan, “Mengapa mereka tidak memilih saya?”
Mungkin pertanyaan yang sebenarnya adalah, 'Kapan saya akan memilih diri saya sendiri?'
Malam itu, saya duduk bersama pertanyaan tersebut cukup lama. Saya tidak berusaha memperbaikinya. Tidak mengubahnya menjadi rencana lima langkah. Saya hanya duduk dan merasakan betapa berbeda rasanya ketika mengajukan pertanyaan yang jawabannya benar-benar berada dalam kendali saya.
Seperti Apa Penyembuhan yang Sebenarnya?
Penyembuhan bukan berarti berpura-pura bahwa rasa sakit itu tidak pernah terjadi. Bukan pula berarti melupakannya. Bahkan, penyembuhan tidak selalu berarti memaafkan, setidaknya belum sekarang dan bukan berdasarkan waktu yang ditentukan orang lain.
Penelitian mengenai duka dan keterasingan dalam keluarga menunjukkan bahwa memaksakan diri untuk memaafkan sebelum kita siap justru dapat memperdalam luka. Penyembuhan yang sebenarnya berlangsung dengan caranya sendiri, dengan kejujuran dan self-compassion sebagai panduan.
Terkadang, penyembuhan sesederhana memutuskan bahwa ketidakmampuan seseorang untuk mencintai kita dengan baik tidak lagi menentukan bagaimana kita memandang diri sendiri.
Penyembuhan berarti memilih kedamaian daripada terus membuktikan diri. Memilih batasan daripada menyimpan kebencian. Memilih penerimaan daripada terus mencari penjelasan. Penyembuhan berarti berduka atas apa yang seharusnya kita dapatkan tetapi tidak pernah kita terima, lalu dengan perlahan dan penuh kasih memutuskan untuk memberikannya kepada diri sendiri.
Anda Berhak Menentukan Akhir Ceritanya
Bagi saya, ini berarti menyadari sesuatu yang seandainya saya pahami sejak dulu: Saya bukanlah seseorang yang gagal dilihat oleh orang lain. Saya adalah seseorang yang memilih untuk menjadi seperti sekarang meskipun pernah mengalami hal itu.
Orang-orang yang menyakiti kita, yang mengabaikan kita, mengucilkan kita, atau meremehkan kita, tidak berhak menentukan akhir cerita kita. Kitalah yang menentukan. Sejak awal, memang selalu begitu.
Jika Anda membaca ini dan merasakan sesuatu yang terasa begitu dekat dengan pengalaman Anda, rasa lelah karena terus berprestasi sambil tetap membawa luka, kesepian karena harus selalu kuat untuk semua orang sementara tidak ada yang bertanya apakah Anda baik-baik saja, saya ingin Anda mengetahui satu hal.
Anda tidak terlalu berlebihan. Anda tidak pernah terlalu berlebihan. Anda hanya berada di ruangan yang salah, bersama orang-orang yang salah, menunggu pengakuan yang sejak awal bukan milik mereka untuk diberikan.
Pekerjaan yang sebenarnya, pekerjaan yang paling dalam dan membutuhkan keberanian terbesar, adalah belajar menjadi saksi bagi diri sendiri. Menjadi pendukung bagi diri sendiri. Menjadi tempat yang aman bagi diri sendiri.
Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan menunggu orang lain akhirnya memahami bahwa diri kita berharga.
Anda boleh berhenti menunggu. Anda boleh memilih diri sendiri. Lagi, dan lagi, dan lagi.
Dan mungkin, di situlah kebebasan bermula.
Artikel ini pertama kali diterbitkan di LinkedIn Sonia McDonald.
Kepribadian
Tags: Pertumbuhan, Sifat Positif
References:
- Maté, G. (2003). When the Body Says No: The Cost of Hidden Stress. Knopf Canada.
- van der Kolk, B. (2014). The Body Keeps the Score: Brain, Mind, and Body in the Healing of Trauma. Viking.
- Neff, K. (2011). Self-Compassion: The Proven Power of Being Kind to Yourself. William Morrow.
- Gibson, L. (2015). Adult Children of Emotionally Immature Parents. New Harbinger Publications.
- Tawwab, N. (2021). Set Boundaries, Find Peace. TarcherPerigee.
- Doyle, G. (2020). Untamed. The Dial Press.
- Brown, B. (2010). The Gifts of Imperfection. Hazelden Publishing.
- Miller, A. (1979). The Drama of the Gifted Child. Basic Books.
- Eisenberger, N.I. & Lieberman, M.D. (2004). Why rejection hurts: a common neural alarm system for physical and social pain. Trends in Cognitive Sciences, 8(7), 294–300.
- Neff, K.D. (2003). Self-compassion: An alternative conceptualisation of a healthy attitude toward oneself. Self and Identity, 2(2), 85–101.
Sonia adalah CEO LeadershipHQ dengan pengalaman luas dalam pengembangan organisasi, pembelajaran, fasilitasi, dan pengembangan kepemimpinan. Ia berkomitmen membangun kemitraan jangka panjang dengan klien serta berfokus pada pencapaian hasil terbaik bagi bisnis dan karyawan mereka.





