Selalu Senyum dan Berfikir Positif Seperti Soichiro

Oleh Roshan Thiran|12-08-2021 | 3 Min Read
Source: Gettyimages
Berfikir Positif dan Menhadapi Situasi Terburuk dengan Senyuman dari Soichiro

Minggu lalu, saat kami memiliki jadwal rapat yang padat, dua karyawan saya datang terlambat. Saya tersenyum pada mereka berdua saat mereka berjalan ke ruang pertemuan. Salah satu dari mereka menanggapi senyum saya dengan positif. Dia menafsirkan senyum saya sebagai perasaan lega karena mereka telah datang dan karena mereka adalah bagian penting dari tim. Dia percaya bahwa senyum saya menandakan saya benar-benar membutuhkannya untuk menyelesaikan tugas yang ada. Namun, karyawan lain menafsirkan senyum yang sama dengan arti yang sama sekali berbeda. Dia melihat bahwa senyumku adalah senyum sinis yang menandakan kekesalan dan kemarahanku karena dia tidak tepat waktu. 

Seminggu kemudian, ketika saya meninjau kinerja mereka di pertemuan itu, Anda bisa melihat perbedaan yang signifikan antara keduanya. Salah satu dari mereka melihat pekerjaan sebagai kebahagiaan positif, sementara yang lain melihat tidak lebih dari pekerjaan rutin yang harus dilakukan, dan dia masih merasa kesal dan tersinggung dengan senyum saya.

Senyuman yang sama, tetapi menghasilkan reaksi yang sangat bertolak belakang. Sir Winston Churchill pernah menjelaskan bahwa ada dua tipe orang yang berbeda dan mereka memiliki pandangan yang berbeda tentang suatu hal, "Seorang pesimis selalu melihat kesulitan dalam setiap kesempatan, sedangkan mereka yang optimis selalu melihat peluang dalam setiap kesulitan." Seseorang yang dapat menjadi contoh positif yang sangat sempurna dalam dunia bisnis adalah Soichiro Honda, pendiri Honda Motor.

Baca juga artikel berjudul "6 Pelajaran Utama Mengenai Kepemimpinan Dari Steve Jobs"

Tahun-tahun Awal yang Penuh dengan Keoptimisan


Honda lahir pada 17 November 1906, anak seorang penenun bernama Mika dan ayah seorang pandai besi profesional bernama Gihei yang juga menjalankan bisnis servis sepeda.

Honda merasa putus asa  dengan studinya, dia tidak memiliki prestasi gemilang di sekolah. Karena tidak ingin mengecewakan ayahnya, ia kemudian membuat stempel sendiri yang berisi lambang keluarganya dari ban karet bekas dan menandatangani rapornya sendiri menggunakan stempel yang ia buat. Awalnya dia lolos menggunakan strategi itu. Bahkan, dia mulai membuat stempel simbol keluarga palsu untuk teman-teman sekelasnya. 

Tapi, kemudian dia tertangkap. Ketika gurunya berteriak dan memarahinya, namun dia terus tersenyum positif. Ayahnya menghukumnya dengan menyuruhnya duduk di sudut sepanjang hari tanpa memberinya makanan sama sekali, dia menghukumnya bukan karena ketidak jujurannya, tetapi hukuman itu diberikan karena kebodohannya karena dia ditangkap oleh gurunya.

Sumber: Max Fishcer di Pexels

Ketika dia dikeluarkan dari sekolah pada usia 15 tahun, dia melihat bahwa tidak salah untuk mengatakan bahwa, "Ijazah dari sekolah tidak lebih dari tiket bioskop." Ini adalah awal dari prinsip dasarnya, di mana Soichiro selalu memandang positif setiap peristiwa, baik atau buruk, sebagai hal yang positif. Pada usia 15 tahun, tanpa gelar pendidikan formal, Honda meninggalkan rumah sambil tersenyum, dan pergi ke Tokyo untuk mencari pekerjaan.

Lalu ia mendapat kesempatan untuk magang di bengkel Art Shokai. Namun, sebagai karyawan termuda di sana, pekerjaannya hanya mencakup membersihkan bengkel dan menyiapkan makanan untuk karyawan lain. Hal itu tidak lantas membuatnya putus asa. Dia melihat pengalaman itu sebagai hal positf dan baik, dan hal inilah yang membuatnya bekerja lebih keras.
 
Ketika terjadi gempa tahun 1923, ketika semua orang sibuk menyelamatkan diri, Honda mengendarai 3 mobil dan menyelamatkan mobil dari kebakaran, tindakannya saat itu sangat heroik. Ini karena Honda bahkan tidak pernah duduk di setir untuk mengemudi. Dia kemudian bekerja selama 6 tahun di Art Shokai sebagai mekanik mobil. Dia menerima paten untuk produk yang dia temukan dan memimpin Shoka untuk meningkatkan pendapatannya secara signifikan. Dia mencoba mengembangkan ring piston, tetapi direktur Shokai menganggap tindakannya tidak masuk akal dan di luar ambang kemampuannya. Jadi Honda berhenti dari pekerjaanya, kembali ke rumahnya, dan memulai bisnis bengkel mobil miliknya sendiri di usianya yang ke 22 tahun.

Baca juga artikel ini dalam bahasa Inggris "Smile Like Soichiro Honda"


Seseorang yang Begitu Optimis dan Percaya Diri


Pada tahun 1930-an, Jepang sangat terpengaruh oleh depresi besar yang melanda dunia saat itu. Honda sudah mulai mendirikan bengkel sendiri bernama Tkai Seiki, ia terus berusaha secara positif untuk mengembangkan konsep ring piston. Dia berharap bisa menjual ring - ring itu ke Toyota. Dia bekerja siang dan malam, bahkan menghabiskan malam di tempat kerjanya. Dia kemudian kehabisan uang. Meski begitu, ia tetap berpikir positif bahwa idenya tentang ring piston ini pasti akan berhasil, sehingga ia memberanikan diri menggadaikan perhiasan istrinya sebagai modal kerja.

Akhirnya, ia menyelesaikan produk ring pistonnya, dan mengirimkan contohnya ke Toyota. Para teknisi di sana menertawakannya dan memberi tahu Honda bahwa cincin itu tidak memenuhi standar mereka.Hal ini tidak membuatnya fokus pada kegagalannya, da terus bekerja untuk mengembangkan ring piston. Perjuangan dan kerja keras selama dua tahun nyaris membuahkan hasil. Dia kemudian memenangkan kontrak kerja sama dengan Toyota. Suasana hati dan sikap yang positif umumnya akan menghasilkan hasil yang positif juga.

Nasib Buruk Tidak Pernah Membuat Para Pemimpin Berkecil Hati


Baru saja ketika Honda sedang mengalami kebangkitan dan menjalankan bisnisnya, dia diwajibkan mengikuti wajib militer. Dia sebenarnya tidak ingin hal ini mengalihkan fokusnya dari tujuan-tujuan yang telah ditetapkannya dalam bisnis, tetapi sesuai dengan tipikalnya, Soichiro memandang positif hal ini dan dia meninggalkan segala pekerjaannya untuk bergabung dalam militer dan melakukan yang terbaik di sana.

Untungnya, saat pemeriksaan kesehatan, ia ditemukan mengidap buta warna. Berkat diagnosa tersebut, dia akhirnya terbebas dari kewajiban untuk masuk dalam militer dan kembali ke Tkai Seiki dan memproduksi ring piston untuk Toyota.

Kemudian, perang dimulai, tetapi semua pikiran Honda terfokus pada membangun pabrik untuk memproduksi ring piston, karena ia mendapat kontrak kerja dari Toyota. Namun, saat itu pasokan bahan bangunan semakin menipis. Lantas, apa yang dilakukan Honda? Ia menemukan cara baru dalam mengolah konstruksi beton bangunan yang memungkinkannya mendirikan pabrik saat itu. Pabrik dengan cepat dibangun, tetapi untuk kesekian kalinya nasib buruk menimpa Honda lagi. Bangunan pabriknya dibom dua kali. Tak kenal lelah, Honda membangun kembali pabriknya. Belakangan, ia menghadapi kesulitan lagi ketika pasokan baja habis saat itu. Lagi-lagi hal buruk menimpanya lagi. Apakah Honda mengeluh dan menyerah?

Tidak sama sekali. Dia tidak habis akal dan menggunakan fikiran positif lantas ia mulai mengumpulkan sisa kaleng bensin yang begitu banyak berserakan dan dibuang oleh pesawat tempur Amerika, dan dia menyebutnya sebagai “hadiah dari Presiden Truman”, semua kaleng-kaleng bekas tersebut digunakannya sebagai “bahan baku” baru yang dipakainya untuk proses produksi.    

Akhirnya, gempa bumi Mikawa menghancurkan kembali pabriknya dan merenggut semua mimpi besarnya. Honda tidak memiliki apa-apa saat itu, tetapi dia masih mempunyai sebuah harta yang tidak dapat direnggut gempa saat itu, yaitu semangatnya yang positif. Setelah perang selesai, terjadilah kelangkaan bensin, sehingga orang-orang terpaksa berjalan kaki atau mengendarai sepeda. Honda melihat tren ini sebagai peluang positif dan mulai mencoba mengembangkan sebuah mesin berukuran kecil yang dapat dipasang di sepedanya. Hal ini membuat semua orang ingin memiliki sepeda seperti yang dimilikinya, dan akhirnya lahirlah perusahaan Honda Motors. Tetapi, bencana kembali melanda dan sangat sulit menemukan bahan untuk membuat sepeda motor tersebut untuk memenuhi permintaan yang ada.

Honda terus menyikapi hal ini dengan positif dan senyuman. Dia kemudian menulis surat yang isinya begitu menginspirasi kepada 18.000 pemilik toko sepeda dan meminta mereka untuk bekerja sama dengannya membangun kembali negara Jepang. Lima ribu dari mereka akhirnya menjawab suratnya dengan memberikannya pinjaman uang untuk mengembangkan proyek sepeda motornya. Sayangnya, model pertama yang ia buat terlihat terlalu besar (tidak ramping). Dia terus mengembangkan produknya dan melakukan berbagai adaptasi, hingga akhirnya ia berhasil meluncurkan “The Super Cub” atau sepeda motor bebek Honda menjadi kenyataan dan meraih kesuksesan yang besar di pasar. Setelah sukses menaklukkan pasar Jepang, Honda mulai mengekspor sepeda motornya ke Eropa dan Amerika.  

Berulang kali Honda Motors sempat hampir tutup karena kebangkrutan, tetapi Honda terus berjuang mencegah hal itu terjadi. Ketika skuter Juno keluarannya gagal bersaing dengan skuter lain pada masa itu dan mengisyaratkan kebangkrutan yang akan terjadi di perusahaannya, Honda malah berusaha secara positif untuk menampilkan performa sepeda motornya di ajang balapan The Tourist Trophy (yang saat itu dikenal sebagai ajang balapan yang sangat sulit dimenangkan), yang akhirnya membawanya dan perusahaannya menjadi pusat perhatian. Honda selalu memiliki sikap yang positif sepanjang hidupnya. Pada tahun 1970an, kembali terjadi kelangkaan bahan bakar yang menyebabkan Amerika memerlukan mobil dengan ukuran yang lebih kecil sebagai media transportasi. Honda dengan cepat kembali menjawab kebutuhan pasar yang terjadi saat itu dengan memproduksi mobil kecil keluaran Honda Corp. Hal inilah yang akhirnya mengantarnya kepada keberhasilan yang lebih besar lagi.  
 
Tonton juga video berjudul " SOICHIRO HONDA (Sukses Karena Berani Gagal)" di bawah ini:

 

Share artikel ini

Kepemimpinan

Tags: Jadilah Seorang Pemimpin

Roshan is the Founder and CEO of the Leaderonomics Group. He believes that everyone can be a leader and "make a dent in the universe", in their own special ways. He is constantly featured on TV, radio and numerous publications sharing the Science of Building Leaders and on leadership development. Follow him at www.roshanthiran.com
Leaderonomics Logo

Wow, Anda telah scroll hingga ke bawah! Anda pasti sangat menyukai kami.

Karena Anda sudah disini, kami ingin meminta Anda untuk mempertimbangkan memberikan donasi untuk pemeliharaan situs kami, yang ternyata cukup tinggi.

Banyak yang tidak memiliki akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan penuh mereka. Itulah sebabnya konten kami akan selalu gratis, dan kami akan selamanya berterima kasih kepada mereka yang membantu mewujudkan ini.

Earn your one-way ticket to heaven.

© 2022 Leaderonomics Sdn. Bhd. All rights reserved.

Disclaimer: The opinions expressed on this website are those of the writers or the people they quoted and not necessarily those of Leaderonomics.