Percaya Atau Ragu-ragu

Oleh Roshan Thiran|02-12-2020 | 2 Min Read
Percaya merupakan kunci inovasi dari sebuah ketidakmungkinan
“Manusia harus diajar seolah-olah anda tidak mengajar mereka, dan hal-hal yang tidak diketahui dianggap sebagai hal-hal yang dilupakan." — Benjamin Franklin, 'The Autobiography of Benjamin Franklin'


Benjamin Franklin adalah salah satu Bapak Pendiri Amerika Serikat. Ia juga dikenal luas sebagai pakar di berbagai bidang. Dia adalah pahlawan saya, terutama karena baginya, yang tidak mungkin hanyalah kemungkinan yang terlupakan. Dengan kata lain, tidak ada yang 'mustahil' - dia percaya satu-satunya penghalang antara apa yang terjadi dan apa yang mungkin terjadi adalah pikiran kita yang terbatas. Begitu kita mulai berpikir "Ini tidak bisa dilakukan...", 90 persen perjuangan kita telah gagal. Keyakinan adalah pemicu rasa ingin tahu, dan mendorong inovasi yang mengarah pada penciptaan.


Percayalah

Belum lama ini, kami di Leaderonomics mengadakan sesi rekreasi untuk semua staf. Kami benar-benar menikmati waktu kebersamaan yang menyenangkan. Di akhir sesi, saya diberi waktu satu jam untuk 'menginspirasi' mereka yang hadir sebelum berangkat ke dunia nyata.

Saat saya merenungkan mengapa kami berhasil dan gagal di Leaderonomics, jawaban jelas yang melekat di benak saya adalah rasa percaya. Jadi, saya menggunakan waktu itu untuk menantang tim kami untuk mengeksplorasi pikiran mereka. Apa yang mereka yakini? Apakah mereka yakin dan percaya bahwa mereka bisa 'mengubah dunia' dan 'mengubah negara'? Apakah mereka ragu?

Jika mereka tidak memiliki keyakinan, maka kami tidak akan mencapai visi kami. Apakah mereka percaya pada sains dalam membangun pemimpin? Apakah mereka mengira kita terlalu kecil untuk membuat perubahan? Apakah mereka benar-benar percaya bahwa semua yang mereka lakukan akan mempengaruhi alam semesta? Saat setiap anggota tim menganalisis keyakinan mereka masing-masing, jelas bahwa kita harus percaya sebelum kita dapat menjelajahi dunia.

Banyak orang mendekati tantangan itu dengan pola pikir yang sudah terbentuk sebelumnya bahwa "Ini tidak mungkin". Jadi, mau tidak mau, masalah yang ada tidak bisa diatasi. Akhirnya kegagalan ini memperkuat gagasan 'tidak mungkin' di benak mereka yang tidak mau memikirkan kemungkinan.

Untung ada pemimpin seperti Benjamin Franklin yang punya kebiasaan memulai sesuatu dengan "Kenapa tidak?"

Franklin adalah tokoh utama di era pencerahan Amerika dan dipuji karena teorinya yang berhubungan dengan kelistrikan. Dia juga seorang penemu yang sukses, menciptakan inovasi termasuk penangkal petir dan dwi fokus pada kacamata. Dia sangat rajin dan mendedikasikan hidupnya untuk memberi nilai kepada orang lain. Dalam otobiografinya, dia mengatakan membaca adalah satu-satunya hobi favoritnya.
Tetapi pada usia yang relatif muda 20 tahun, Franklin mulai mengembangkan apa yang bisa dibilang proyek paling ambisius, yakni proyeknya sendiri. Dia menciptakan '13 Kebajikan' yang terkenal dan mendedikasikan sisa hidupnya untuk meningkatkan setidaknya beberapa aspek karakternya.

Saya selalu tertarik dengan ketekunan yang ditunjukkan oleh tokoh-tokoh sejarah yang menempatkan formasi diri di urutan teratas. Saya yakin Franklin mengerti bahwa dia sendiri tidak mungkin sempurna; tetapi kita harus mengagumi mereka yang berusaha untuk meletakkan dasar terbaik untuk diri mereka sendiri.


Baca juga artikel ini dalam bahasa Inggris "Are You A Believer Or A Skeptic?"

Sumber: Pexels.com

Bisakah saya ? 

Baru-baru ini, saya meluangkan waktu untuk memikirkan tentang situasi di seluruh dunia, serta kehidupan saya sendiri: apa yang saya pelajari sepanjang tahun; area mana yang bisa ditingkatkan; mengevaluasi kembali hal-hal penting dalam hidup saya; dan cara memberi nilai kepada orang lain suatu bentuk penghormatan kepada tokoh sejarah yang terus menginspirasi saya dengan komitmennya untuk memperbaiki diri dan membantu orang lain.

Terkadang, kita melihat diri kita sendiri dan mengeluh karena ada begitu banyak hal yang harus dilakukan.

Terutama jika ini melibatkan hal-hal yang 'salah dengan dunia di sekitar Anda', rasanya tantangan itu terasa sangat besar ketika ingin memberikan contoh yang baik agar dapat membuat perubahan yang baik demi dunia disekitar kita.

Dalam contoh Franklin dan banyak orang lain seperti dia, ternyata kita menemukan bahwa 'tidak mungkin' hanyalah sebuah frase yang didorong oleh keyakinan yang membatasi, yang bermain dalam pikiran kita dari waktu ke waktu.

Menciptakan perubahan memang tidak mudah, tetapi yang lebih memuaskan adalah menjadi bagian dari sesuatu yang menciptakan perubahan yang langgeng dan mengetahui bahwa upaya kita akan terus bermanfaat bagi masyarakat di tahun-tahun mendatang.

Dalam pandangan saya, ada dua cara untuk menjalani hidup: kita bisa melihat kemungkinan yang menghalangi kita dan menyerah sebelum mencoba; atau, kita dapat mencoba tidak peduli seberapa sulit rintangan itu menerpa.

Sepanjang sejarah manusia, mereka yang menciptakan perubahan dan inovasi yang kita anggap mustahil adalah mereka yang melihat kehidupan dari perspektif yang berbeda.

Bagi saya, inilah mengapa saya kembali ke cerita Franklin. Dia menunjukkan kepada kita pentingnya komitmen, dedikasi dan ketekunan. Kisahnya membuktikan bahwa tidak ada rintangan yang tidak dapat diatasi: kita akan dapat mencapai apapun yang kita inginkan jika kita benar-benar berusaha untuk mencapainya.

Saya selalu terinspirasi oleh cerita mereka yang berhasil mengatasi rintangan dan tantangan yang datang dan mencapai tujuan dan ambisi mereka.

Baca juga artikel berjdul "7 Cara Mengembangkan Potensi Diri"

Jamie Andrew

Beberapa tahun yang lalu, saya bertemu dengan seorang pendaki gunung Skotlandia bernama Jamie Andrew.

Pada 1999, hidup Jamie hancur ketika temannya meninggal sementara tangan dan kaki Jamie harus diamputasi akibat kecelakaan saat mendaki di Pegunungan Alpen Prancis.

Walaupun tidak lagi memiliki tangan dan kaki, Jamie bersumpah akan mendaki lagi. Baginya, tidak ada yang mustahil dan dia percaya. Dalam 10 tahun, Jamie tidak hanya berhasil berjalan (menggunakan kaki palsu), dia mendaki gunung lagi, termasuk gunung es yang dulu telah merenggut nyawa temannya dan merusak tubuhnya.

Keyakinan Jamie yang tak terbagi memungkinkannya mencapai hal yang mustahil.

Kembali ke Franklin. Dia adalah salah satu pemimpin hebat yang mendorong saya untuk selalu melakukan yang terbaik, setiap hari, dan pantang menyerah tidak peduli betapa sulitnya hidup ini.
Kita tidak pernah tahu kapan impian kita menjadi kenyataan, namun melalui dedikasi dan persiapan, kita akan selalu siap untuk saat itu ketika impian itu tiba.

Sumber: Pexels.com

13 nilai kebaikan Franklin 

  1. Kesederhanaan: Jauhkan dari makan dan minum yang berlebihan. 
  2. Diam: Jangan berbicara, kecuali apa yang dapat bermanfaat bagi orang lain atau bagi diri anda sendiri.  Hindari percakapan yang remeh.
  3. Aturan: Letakkan semua hal anda pada tempatnya yang teratur. Atur agar semuanya mempunyai waktunya tertentu.
  4. Pendirian: Memutuskan untuk melakukan apa yang seharusnya.  Lakukan tanpa gagal apa yang anda harus selesaikan.
  5. Berhemat: Jangan mengeluarkan uang selain untuk kebaikan orang lain atau diri anda sendiri, jangan lakukan yang sia-sia.
  6. Kerajinan: Jangan buang waktu. Senantiasa melakukan yang bermanfaat. Singkirkan perbuatan yang tidak perlu.
  7. Ketulusan: Jangan menyakiti dengan tipu daya. Berpikirlah dengan polos dan adil; dan berbicaralah sewajarnya.
  8. Keadilan: Jangan mencederakan atau menghilangkan manfaat yang menjadi kewajiban anda.
  9. Wajar: Hindari hal-hal ekstrim. Jangan berlebihan dalam melampiaskan luka.
  10. Kebersihan: Jangan mentolerir kotoran apapun pada tubuh, pakaian atau tempat tinggal.
  11. Kesucian: Jangan gunakan hubungan intim, kecuali untuk tujuan yang benar atau untuk memiliki anak, dan jangan sekali-kali hanya untuk melawan kebosanan, kelemahan atau cedera pada diri sendiri atau mengancam kedamaian dan reputasi orang lain.
  12. Ketenangan:  Jangan terganggu oleh hal-hal sepele, atau kecelakaan biasa ataupun yang tidak dapat dielakkan.
  13. Rendah hati: Contohi Yesus dan Socrates.


Kesimpulan

Setiap pemimpin hebat yang saya kenal telah mengabdikan hidup mereka untuk peningkatan diri dan pembelajaran. Mereka tahu itu menyakitkan, namun mereka terus memaksakan diri. Dan yang lebih penting, masing-masing mereka percaya, jauh di lubuk hati, bahwa ‘tidak mungkin itu’ adalah tidak berarti. Semuanya bisa dicapai dengan kesabaran, pembelajaran, dan kerja keras. Itulah rahasia kesuksesan mereka - percaya!

Tonton juga video berjudul "Tidak Ada Yang Tak Mungkin" di bawah ini :

Share artikel ini

Kepemimpinan

Tags: Jadilah Seorang Pemimpin

Roshan is the Founder and CEO of the Leaderonomics Group. He believes that everyone can be a leader and "make a dent in the universe", in their own special ways. He is constantly featured on TV, radio and numerous publications sharing the Science of Building Leaders and on leadership development. Follow him at www.roshanthiran.com
Leaderonomics Logo

Wow, Anda telah scroll hingga ke bawah! Anda pasti sangat menyukai kami.

Karena Anda sudah disini, kami ingin meminta Anda untuk mempertimbangkan memberikan donasi untuk pemeliharaan situs kami, yang ternyata cukup tinggi.

Banyak yang tidak memiliki akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan penuh mereka. Itulah sebabnya konten kami akan selalu gratis, dan kami akan selamanya berterima kasih kepada mereka yang membantu mewujudkan ini.

Earn your one-way ticket to heaven.

© 2022 Leaderonomics Sdn. Bhd. All rights reserved.

Disclaimer: The opinions expressed on this website are those of the writers or the people they quoted and not necessarily those of Leaderonomics.