Memimpin dari Dalam: Pelajaran Penting dari Malaysia Leadership Summit 2026 (Bagian 1)

Jul 10, 2026 11 Min Read
malaysia leadership summit 2026
Sumber:

Malaysia Leadership Summit 2026

Melampaui Kerangka Kepemimpinan Tradisional

Setiap tahun, Malaysia Leadership Summit mempertemukan para pemimpin dari berbagai industri untuk saling belajar dan berbagi pengalaman. Edisi 2026 melanjutkan tradisi tersebut melalui serangkaian sesi sepanjang hari yang mengeksplorasi seperti apa kepemimpinan di luar sekadar pencapaian bisnis.

Sepanjang acara, para pembicara mengulas realitas memimpin di dunia yang semakin didorong oleh kecerdasan buatan (AI). Mulai dari meredakan kekhawatiran terhadap teknologi baru hingga membangun budaya organisasi yang mampu beradaptasi dan berkembang di tengah perubahan. Benang merah yang menghubungkan setiap sesi adalah keyakinan bahwa organisasi yang kuat dibangun oleh para pemimpin yang terlebih dahulu berinvestasi pada diri mereka sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Sejalan dengan komitmen untuk menciptakan dampak yang bermakna, seluruh hasil bersih dari penyelenggaraan summit ini akan disumbangkan kepada Together We Can Change the World untuk mendukung berbagai inisiatif bagi para pengungsi. Memberikan kembali kepada masyarakat telah lama menjadi bagian dari misi Malaysia Leadership Summit, sehingga diskusi yang berlangsung sepanjang acara tidak berhenti di ruang konferensi, tetapi juga membawa manfaat bagi komunitas yang ingin mereka layani.

Mulai dari CEO berpengalaman, pakar teknologi, hingga ahli strategi organisasi, setiap pembicara menghadirkan perspektif yang berbeda mengenai tantangan yang dihadapi para pemimpin saat ini. Berikut beberapa pelajaran penting dari sesi mereka.

1. The Core, the Code, and the Cargo

Roshan Thiran Founder dan CEO Leaderonomics

Alt

Roshan Thiran

Roshan Thiran membuka summit dengan menggambarkan kesuksesan layaknya sebuah gunung es. Menurutnya, dunia hanya melihat 10% yang tampak di permukaan, sementara kepemimpinan sejati ditempa oleh 90% yang tidak terlihat, yaitu siapa diri kita ketika tidak ada seorang pun yang memperhatikan. Ia mengingatkan bahwa kepemimpinan yang sesungguhnya berakar pada identitas, bukan strategi. Ketika menghadapi tekanan yang besar, seorang pemimpin tidak akan naik mengikuti strateginya, tetapi akan kembali pada identitas inti yang dimilikinya.

Roshan menjelaskan gagasan tersebut melalui kerangka tiga lapis yang menunjukkan bagaimana transformasi yang bertahan lama dapat terjadi:

  • The Core: Keyakinan, nilai-nilai, dan tujuan hidup yang menjadi fondasi.
  • The Code: Kebiasaan, sistem, dan perilaku yang menerjemahkan nilai-nilai tersebut menjadi tindakan sehari-hari.
  • The Cargo: Hasil yang terlihat, seperti pencapaian, reputasi, dan jabatan.

Ketika core seseorang kuat, seluruh aspek lainnya memiliki fondasi yang kokoh untuk berkembang. Strategi, budaya, dan kinerja menjadi cerminan dari identitas, bukan penggantinya.

Pertanyaanlah yang mengubah dunia, bukan jawaban.

2. Mendefinisikan Ulang DEI dan Kekuatan Slow Brain

Paul LarsenGlobal Speaker, Executive Coach, Founder @ Find Your V.O.I.C.E. Coaching Academy

Alt

Paul Larsen

Paul Larsen mengakui bahwa pada awal kariernya ia pernah menyamakan antara mengelola dengan memimpin. Saat itu, ia percaya bahwa kepemimpinan berarti memiliki semua jawaban dan mengarahkan orang lain menuju tujuan tertentu. Seiring berjalannya waktu, serta setelah melalui berbagai kegagalan yang ia gambarkan sebagai proses "jatuh bangun", Paul menyadari bahwa kepemimpinan yang autentik justru dimulai dari kerentanan.

Dengan menunjukkan sisi tersebut, ia mampu membangun hubungan yang lebih kuat dan memperoleh kepercayaan yang tidak mungkin didapat hanya melalui otoritas. Alih-alih memandang DEI (Diversity, Equity, and Inclusion) sebagai konsep yang statis, Paul mengajak peserta melihatnya sebagai serangkaian tindakan nyata. Menurutnya, pemimpin perlu:

  • Decide, dengan mempertanyakan asumsi yang memengaruhi siapa yang memperoleh kesempatan.
  • Engage, dengan menciptakan ruang yang aman secara psikologis agar beragam perspektif dapat disampaikan.
  • Inspire, dengan membangun budaya yang membuat setiap orang benar-benar merasa menjadi bagian dari organisasi.

Di balik semua itu, Paul mengingatkan bahwa otak manusia secara alami dirancang untuk bereaksi secara spontan. Kepemimpinan yang inklusif muncul ketika pemimpin bersedia berhenti sejenak untuk mempertanyakan naluri tersebut sebelum memberikan respons.

Inklusi bukan sesuatu yang kita miliki. Inklusi adalah sesuatu yang kita lakukan.

3. Menavigasi Ketidakpastian dengan Strategic Foresight

Rohit TalwarMotivational Futurist Peringkat #2 Dunia & Keynote Speaker

Alt

Rohit Talwar

Di tengah perubahan geopolitik yang begitu cepat dan disrupsi teknologi yang terus berkembang, futuris Rohit Talwar menjelaskan pentingnya kemampuan mengambil keputusan meskipun informasi yang dimiliki belum sepenuhnya lengkap. Menurutnya, ketika sebuah organisasi akhirnya memiliki informasi yang sempurna, sering kali peluangnya sudah terlewat. 

Ia juga menyoroti bahwa penerapan strategic foresight secara terstruktur memberikan dampak nyata terhadap nilai perusahaan. Organisasi yang menerapkan pendekatan ini tercatat mampu meraih keuntungan 33% lebih tinggi, sekaligus menunjukkan kinerja harga saham yang jauh lebih baik dalam jangka panjang.

Menanggapi kekhawatiran yang masih meluas terhadap AI, Rohit memaparkan lima faktor utama yang dimiliki oleh sedikit organisasi yang benar-benar berhasil memanfaatkan AI.

  • Memprioritaskan pembelajaran berkelanjutan untuk membangun pemahaman teknologi yang mendalam.
  • Menjadikan tujuan bisnis sebagai dasar penerapan AI, bukan sekadar mengadopsi teknologi karena tren.
  • Membangun kepercayaan melalui keterbukaan mengenai dampak penggunaan AI terhadap organisasi.
  • Mengatasi hambatan struktural sejak awal dengan memperjelas kepemilikan lintas fungsi sebelum implementasi.
  • Berfokus pada pertumbuhan, bukan hanya efisiensi biaya, dengan memanfaatkan AI untuk menciptakan peluang baru.

4. Disiplin Batin di Balik Kinerja Kelas Dunia

Nishant Kasibhatla Human Performance Expert & Certified Speaking Professional (CSP)

Alt

Nishant Kasibhatla

Menurut Nishant Kasibhatla, pemegang Guinness World Record di bidang daya ingat, kualitas kepemimpinan seseorang dibatasi oleh kualitas sistem operasional dalam dirinya sendiri. Kemampuan memusatkan perhatian, kapasitas belajar, dan kesadaran diri menjadi fondasi bagi seluruh aspek kepemimpinan. Untuk memperkuat kemampuan tersebut sekaligus membantu seseorang beralih dari sekadar mengonsumsi pengetahuan menjadi benar-benar menguasainya, Nishant memperkenalkan Framework FRR:

  • Focus: Gunakan alur kerja 1-3-50-0. Pilih satu tugas yang paling berdampak, ambil tiga tarikan napas dalam untuk beralih dari kesibukan sehari-hari, fokus penuh selama 50 menit, dan hilangkan seluruh gangguan.
  • Recall: Hindari sekadar menyerap informasi secara pasif dengan melakukan instant replay. Setelah rapat, menonton video, atau membaca laporan, berhentilah sejenak dan cobalah mengingat tiga poin utama tanpa melihat catatan.
  • Reflect: Bangun kebiasaan refleksi singkat setiap malam dengan mengajukan satu pertanyaan penting kepada diri sendiri agar Anda belajar dari pengalaman, bukan hanya dari informasi.

Kualitas kepemimpinan Anda pada akhirnya ditentukan oleh kualitas cara Anda berpikir.

5. Memanfaatkan The Magnificent Seven

Frank FurnessPembicara Global Sales & AI

Alt

Frank Furness

Banyak orang memandang kecerdasan buatan (AI)  hanya sebagai kumpulan perangkat lunak canggih yang mempermudah pekerjaan. Namun, Frank Furness menggambarkan perubahan teknologi ini sebagai transformasi mendasar terhadap cara pemimpin bekerja setiap hari. Tantangan sesungguhnya bagi para pemimpin adalah mengetahui secara tepat di mana otomatisasi perlu diterapkan agar mereka dapat meluangkan lebih banyak waktu untuk interaksi manusia yang bernilai tinggi.

Agar perubahan ini lebih mudah diterapkan, Frank menjelaskan bagaimana tech stack yang dioptimalkan dapat meningkatkan kecepatan kerja profesional:

  • Sintesis Instan & Data Langsung: Tools seperti Perplexity mengubah cara kita mengumpulkan intelijen pasar dengan menggantikan mesin pencari tradisional yang dipenuhi tautan menjadi data yang langsung dirangkum lengkap dengan sumber aslinya. Sementara itu, Grok menyediakan analisis real-time mengenai topik global yang sedang tren, sehingga pemimpin dapat memantau percakapan pasar secara langsung.
  • Konteks Mendalam & Konsistensi Brand: Alih-alih mengandalkan hasil AI yang bersifat umum, Frank menyoroti Claude karena kemampuannya menyusun konten panjang dengan nuansa yang lebih baik serta kemampuannya menyesuaikan gaya penulisan dengan identitas sebuah merek. Untuk pembuatan berbagai jenis konten, brainstorming awal, maupun aset visual, ChatGPT dan Gemini menjadi mitra utama yang sangat membantu.
  • Eksekusi yang Lebih Cepat ke Pasar: Hambatan administratif dapat dikurangi secara sistematis. Tools seperti Gamma App mampu mengubah ide mentah menjadi presentasi profesional beserta tata letak slide hanya dalam hitungan detik. Sementara itu, platform seperti Hunter.io mempermudah proses outreach profesional dengan membantu menemukan kontak email B2B yang relevan secara cepat.

Pada akhirnya, Frank mendorong para pemimpin untuk tidak hanya terpaku pada perangkat lunaknya, tetapi lebih melihat perubahan struktural yang dimungkinkannya. Dengan membangun sistem yang mampu menangani pekerjaan berat seperti riset, penyusunan materi, dan outreach, para pemimpin dapat keluar dari rutinitas operasional yang menyita waktu. Tujuan membangun tech stack modern bukanlah menggantikan peran manusia, melainkan melindunginya, sehingga para pemimpin memiliki ruang untuk fokus pada hal-hal yang tidak dapat digantikan oleh otomatisasi.

Sistem dan kebiasaan menghasilkan hasil. Namun, AI tidak dapat menciptakan kepercayaan, empati, keberanian, maupun budaya yang hanya bisa dibangun oleh manusia.

6. Geometri Kepercayaan

Tareef Jafferi Founder Happily.ai & Pakar Budaya Organisasi

Alt

Tareef Jafferi

Ilmuwan Tareef Jafferi mengajak para peserta untuk memandang kepercayaan bukan sebagai sebuah perasaan, melainkan sebagai sebuah prediksi. Menurutnya, setiap interaksi dibentuk oleh upaya diam-diam otak kita untuk menjawab satu pertanyaan:

"Bisakah saya mengandalkan orang ini?"

Menurut Tareef, secara naluriah kita membuat penilaian tersebut dengan melihat tiga hal, yaitu kemampuan seseorang (capability) “Apakah dia bisa melakukan pekerjaan ini?”, benevolence apakah ia benar-benar peduli kepada orang lain”, dan karakternya (character"Apakah mereka akan bertindak dengan benar ketika hal itu benar-benar dibutuhkan?". Dengan kata lain, apakah orang tersebut mampu menjalankan tugasnya, memiliki kepedulian terhadap orang lain, dan akan melakukan hal yang benar ketika situasi menuntutnya.

Seiring waktu, ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut terjawab melalui berbagai pengalaman, kepercayaan berkembang melalui tiga tahap. Tahap pertama adalah calculus-based trust, ketika orang-orang masih saling menilai secara hati-hati melalui interaksi kecil. Setelah berbagai pengalaman positif terus berulang, hubungan berkembang menjadi knowledge-based trust. Pada tingkat tertinggi, kepercayaan berubah menjadi identity-based trust, yaitu ketika orang-orang memiliki tujuan bersama dan dapat saling mengandalkan hampir secara naluriah.

Tareef kemudian menghubungkan konsep ini dengan kehidupan organisasi sehari-hari. Meskipun perusahaan memiliki struktur pelaporan dan hierarki formal, informasi sering kali tidak mengalir melalui jalur tersebut ketika orang perlu menyelesaikan masalah dengan cepat. Sebaliknya, informasi bergerak melalui individu-individu yang dipercaya, yaitu mereka yang secara alami menghubungkan berbagai tim, menjembatani silo organisasi, dan membantu orang lain menghadapi ketidakpastian.

Menurutnya, para pembangun kepercayaan informal ini sering kali memiliki pengaruh terbesar terhadap kemampuan organisasi untuk beradaptasi. Walaupun mereka belum tentu memiliki jabatan tertinggi, justru merekalah yang paling sering menjadi tempat pertama orang lain mencari bantuan.

Kepercayaan sejatinya merupakan prediksi tentang masa depan. Dan hal itu bersifat sangat personal.

7. Ilmu di Balik Pertumbuhan Bisnis

Rejie SamuelBoard Member, Air International Thermal Systems

Alt

Rejie Samuel

Rejie Samuel mengajak para peserta kembali ke tahun 2008, ketika ia mendapati dirinya duduk sendirian di sebuah kamar hotel di Pattaya sambil menghadapi situasi yang tampak mustahil untuk diatasi.

Krisis keuangan global telah menghapus 60% bisnis perusahaannya hanya dalam semalam setelah salah satu pelanggan terbesar mereka dinyatakan bangkrut. Pada saat yang sama, CEO perusahaan didiagnosis menderita kanker sehingga menciptakan kekosongan kepemimpinan. Keadaan semakin sulit ketika salah satu kreditur menuntut pembayaran segera atas aset manufaktur yang baru diakuisisi, sementara perusahaan sudah tidak mampu membayarnya.

"Seorang pemimpin tidak diukur dari tindakannya ketika keadaan berjalan mulus, tetapi dari apa yang dilakukannya ketika segala sesuatunya mulai berantakan secara bersamaan." 

Alih-alih bereaksi dengan panik, Rejie memilih mencari berbagai kemungkinan solusi. Saat meninjau kembali dokumen-dokumen lama terkait akuisisi perusahaan, ia menemukan sebuah klausul yang terlupakan yang memungkinkan perusahaan memperoleh pinjaman dari vendor dengan bunga rendah. Penemuan tak terduga tersebut menjadi sumber pendanaan yang menyelamatkan operasional perusahaan sekaligus menjadi fondasi bagi pertumbuhan di masa depan.

Pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya tentang kepemimpinan. Menurutnya, ketika menghadapi krisis, seorang pemimpin tidak bisa berusaha menyelesaikan semua masalah sekaligus. Mereka harus terlebih dahulu menentukan apa yang paling penting.

Pemikiran tersebut kemudian melahirkan kerangka kerja Reduce, Stabilise, Grow:

  • Reduce: Tanyakan, "Jika kita memulai bisnis ini hari ini, apakah kita masih akan memilih untuk mempertahankan hal ini?"
  • Stabilise: Bangun kembali rutinitas dan kepercayaan diri yang memungkinkan organisasi bergerak maju bersama.
  • Grow: Setelah fondasi benar-benar kuat, barulah organisasi berinvestasi pada ekspansi dan inovasi.

Setelah Air International berhasil bangkit, perusahaan mulai berinvestasi lebih awal pada teknologi kendaraan listrik, memperluas operasinya ke berbagai negara, dan mengubah model bisnisnya dari sekadar pemasok komponen menjadi penyedia sistem manajemen termal yang terintegrasi. Perusahaan yang semula bernilai sekitar US$120 juta tersebut akhirnya berkembang menjadi bisnis global dengan nilai lebih dari US$2 miliar.

Memimpin dari Dalam

Secara keseluruhan, seluruh sesi dalam Malaysia Leadership Summit 2026 mengeksplorasi fondasi kepemimpinan yang efektif. Mulai dari memahami jati diri dan cara memimpin orang lain, hingga membangun kepercayaan serta ketangguhan untuk menghadapi ketidakpastian.

Pada akhirnya, setiap sesi mengajak para pemimpin untuk tidak hanya berfokus pada tantangan berikutnya, tetapi juga berinvestasi pada kualitas-kualitas kepemimpinan yang akan tetap relevan dan bertahan dalam jangka panjang.

Dengarkan lagu tema resmi Malaysia Leadership Summit 2026:

Share artikel ini

Alt

Anggie adalah editor bahasa Inggris di Leaderonomics. Sehari-harinya ia banyak berkutat dengan pembuatan konten, ditemani setia oleh secangkir teh hijau hangat atau iced latte.

Alt

Mungkin Anda Juga Menyukai

head on table

Menunda atau Menghindar?

Oleh Amirah Nadiah. Menunda sering kali bukan soal waktu, tetapi bentuk penghindaran terhadap hal yang tidak nyaman.

May 01, 2026 2 Min Read

business man with pawns

Orang Cerdas dan Pemimpin Itu Dilahirkan atau Diciptakan?

Bersama Kuliah Kehidupan membahas enam kemampuan utama yang membantu seseorang membaca pola, menganalisis sistem, mengambil keputusan, serta memimpin organisasi dengan visi yang jelas.

May 05, 2026 15 Min Video

Jadi Seorang Pembaca Leader's Digest