Mengapa Kepemimpinan Membutuhkan Lebih Banyak Perempuan

pikisuperstar, Freepik
Dalam sebuah acara kepemimpinan di Paris, Barack Obama membagikan pandangan menarik tentang topik yang sering menjadi perbincangan dalam dunia kepemimpinan, yaitu “siapa yang menjadi pemimpin lebih baik, perempuan atau laki-laki?”
Menurut Obama, dunia membutuhkan lebih banyak perempuan dalam posisi kepemimpinan “karena laki-laki tampaknya sedang menghadapi beberapa masalah akhir-akhir ini.” Ia juga menambahkan, “Bukan untuk melakukan generalisasi, namun perempuan terlihat memiliki kemampuan tertentu yang lebih kuat dibandingkan laki-laki, sebagian dipengaruhi oleh proses sosialisasi mereka.”
Namun, ketika membahas pertanyaan “siapa yang lebih baik?”, ada kelemahan yang perlu disadari. Pertanyaan seperti ini dapat menciptakan perpecahan yang tidak perlu dan mendorong generalisasi yang terlalu luas.
Kita bisa saja mengajukan pertanyaan serupa, seperti siapa yang lebih baik dalam mengemudi atau memasak, laki-laki atau perempuan. Pada kenyataannya, semuanya kembali pada individu. Ada perempuan yang jauh lebih mahir mengemudi dibandingkan sebagian laki-laki, dan ada pula laki-laki yang mampu menghasilkan masakan luar biasa dibandingkan sebagian perempuan.
Meski demikian, kesenjangan dalam kepemimpinan masih terlihat jelas ketika membandingkan jumlah perempuan dan laki-laki dalam posisi kepemimpinan. Berbagai penelitian juga mendukung pandangan bahwa dunia akan mendapatkan manfaat jika lebih banyak perempuan memegang peran kepemimpinan.
Baca Juga: Perempuan yang Memimpin Setiap Hari
Survei yang dilakukan oleh Zenger Folkman menunjukkan bahwa meskipun perempuan di Amerika Serikat memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian negara tersebut, kehadiran mereka di ruang dewan direksi masih jauh lebih rendah.
Penelitian oleh Joe Folkman dan timnya yang melibatkan lebih dari 60.000 pemimpin di Amerika Serikat dan secara global menemukan bahwa perempuan dinilai sebagai pemimpin yang lebih efektif dibandingkan laki-laki.
Terkait kepemimpinan yang efektif, presiden Zenger Folkman menyatakan bahwa,
Seorang pemimpin yang hebat mampu membangun koneksi dengan orang lain. Ketika seseorang naik ke tingkat kepemimpinan yang lebih tinggi, kemampuan untuk berempati dan memahami orang lain menjadi semakin penting. Jika seorang pemimpin tidak melakukannya, mereka akan kesulitan membangun keterlibatan dan komitmen yang kuat dari tim.
Mengapa Perempuan?
Salah satu area di mana perempuan secara umum unggul adalah dalam aspek kecerdasan emosional serta kemampuan membangun hubungan yang kuat, baik di dalam tim maupun dalam jaringan yang lebih luas.
Menurut Barack Obama, kemampuan dan kemauan perempuan untuk mengajukan pertanyaan yang tepat juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan mereka sebagai pemimpin.
Sebagai contoh, pemimpin perempuan sering memberikan perhatian besar pada upaya memberdayakan orang-orang di sekitar mereka. Mereka tidak hanya berfokus pada kesuksesan pribadi, tetapi juga memiliki dorongan kuat untuk membantu orang lain berkembang.
Selain itu, perempuan umumnya lebih terstruktur dalam hal pengelolaan dan organisasi. Hal ini memungkinkan mereka untuk mendorong kolaborasi yang lebih baik dan memastikan semua pihak bergerak menuju tujuan bersama.
Di Malaysia, masih banyak upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan jumlah perempuan dalam posisi kepemimpinan. Namun, kemajuan yang ada mulai menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan memiliki peran penting, dan menutup kesenjangan ini dapat memberikan dampak besar terhadap produktivitas, kemajuan, serta kesejahteraan negara.
Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Johan Merican dan Shareen Ghani, disebutkan bahwa,
Kepentingan mendorong perempuan di tempat kerja dan dalam kepemimpinan adalah karena mereka memberikan manfaat bagi semua pihak, baik laki-laki maupun perempuan. Malaysia tidak akan mencapai status negara berpendapatan tinggi tanpa mengoptimalkan potensi setengah dari populasinya, terutama ketika perempuan saat ini menjadi kelompok yang semakin terdidik.
Kesimpulan
Secara tradisional, konsep kepemimpinan banyak didominasi oleh model “Great Man”. Model ini mulai berubah sejak World War II, ketika perempuan mengambil alih banyak peran di tempat kerja saat laki-laki pergi berperang.
Pada masa itulah kemampuan, kecerdasan, dan ketangkasan perempuan di dunia kerja mulai benar-benar diakui. Sejak saat itu, meskipun kemajuannya berjalan perlahan, semakin terlihat bahwa mengabaikan potensi perempuan adalah sebuah kerugian besar.
Baca Juga: Redefinisi Kepemimpinan: Perempuan di Ruang Dewan
Ketika organisasi benar-benar mengakui potensi kepemimpinan perempuan, banyak hal akan membaik. Tingkat keterlibatan meningkat, efektivitas organisasi bertambah, kesenjangan berkurang, dan organisasi menjadi lebih peka secara emosional serta sosial.
Ketika pandangan para pemimpin dunia selaras dengan data penelitian, sebagai pemimpin bisnis kita tidak dapat mengabaikan pesan ini: jika bisnis, komunitas, dan negara kita ingin terus berkembang, kita tidak hanya perlu mendorong lebih banyak perempuan berbakat untuk mengambil peran kepemimpinan, tetapi juga harus bergerak lebih cepat untuk menutup kesenjangan yang ada.
Dengan melakukan hal tersebut, manfaatnya akan dirasakan oleh semua pihak dan menjadikan masyarakat kita lebih kuat.
Masterclass Mendatang untuk Senior Leaders:
Malaysia Leadership IMMERSION WEEK 2026
Organisasi masa depan membutuhkan lebih banyak pemimpin perempuan, bukan hanya untuk kesetaraan, tetapi karena mereka membawa kekuatan dalam empati, kolaborasi, komunikasi, dan kemampuan membangun budaya yang inklusif serta penuh kepercayaan. Leaderonomics Malaysia Leadership IMMERSION WEEK 2026 (24 Juni – 1 Juli 2026) hadir untuk memperkuat peran perempuan sebagai pemimpin, membekali mereka dengan perspektif, kepercayaan diri, dan kemampuan untuk memimpin dengan dampak yang nyata di organisasi modern.
Daftar Sekarang di events.leaderonomics.com

Kepemimpinan
Tags: Wanita dan Kepemimpinan, Jadilah Seorang Pemimpin, Kepemimpinan Tanpa Batas





