Kekuatan dari Tidak Mengetahui

Jannoon028, Freepik
Belum lama ini, saya diundang ke sebuah “sesi brainstorming” di sebuah perusahaan teknologi tinggi. Investor utama, yang baru saja mengambil alih, ingin mengetahui pandangan saya tentang situasi yang sebenarnya sedang ia hadapi.
Saya membayangkan pertemuan yang intim dan strategis. Namun, yang saya temui justru sebuah “produksi” korporat berskala penuh. Semua eksekutif senior dan manajer tingkat menengah dikumpulkan di auditorium perusahaan.
CEO berdiri di podium. Ia mengatakan bahwa kami berkumpul untuk menyelamatkan perusahaan melalui ide-ide berani. Namun, yang terjadi selanjutnya bukanlah brainstorming, melainkan semacam pertunjukan birokrasi. Para eksekutif berdiri satu per satu, menyampaikan presentasi yang rapi dan janji-janji yang samar. Intinya sederhana: beri kami lebih banyak dana, percayalah pada kami, kali ini akan berbeda.
Seiring waktu berlalu dan saya mulai diam-diam memikirkan cara untuk keluar dari ruangan, sesuatu yang tak terlupakan terjadi. Investor utama, yang tidak dikenali oleh sebagian besar orang di ruangan itu, berdiri dari kursinya, berjalan dengan tenang ke panggung, mengambil spidol, lalu menggambar angka nol besar di papan tulis. Setelah itu, ia pergi begitu saja.

Ruangan langsung gempar. Siapa dia? Apa arti angka nol itu? Sebuah protes? Seni? Ancaman diam-diam? CEO, dengan wajah pucat, menoleh kepada saya dan bertanya apa maksud angka nol tersebut. Saya sempat tergoda untuk tampil seperti seorang ahli dan langsung memberikan interpretasi.
Namun, saya menahan diri untuk tidak memberikan makna instan, dan justru memberikan saran yang cukup radikal. Saya menyarankan agar ia duduk bersama rasa tidak nyaman itu. Mendengarkan percakapan yang berkembang di seluruh gedung. Membiarkan kebingungan bekerja. Bahkan mungkin membawanya tidur. Di luar dugaan, ia setuju.
Kebijaksanaan dari Sebuah Angka Nol
Saat sendirian, saya juga menatap angka nol itu. Apakah itu berarti toleransi nol? Bahwa kesabaran investor sudah habis? Atau “zero hour”, tanda bahwa waktu sudah habis? Atau mungkin itu pernyataan bahwa semua pembicaraan, strategi besar, dan pertunjukan tadi sebenarnya tidak menghasilkan apa-apa?
Mengenal investor tersebut, saya menduga ada maksud yang lebih cerdik. Ia ingin membawa ketidakpastian ke dalam ruangan yang terlalu penuh dengan kepastian dan jargon. Ia ingin mengguncang zona nyaman para eksekutif. Membuka ruang untuk pemikiran yang lebih nyata. Atau mungkin, seperti saya, ia memang sangat tidak suka rapat.
Keesokan paginya, CEO mengatakan bahwa kejadian itu terus mengganggu pikirannya sepanjang malam. Ia menyadari bahwa selama ini ia menghindari keputusan-keputusan sulit. Dari situ, ia menyusun rencana nyata yang benar-benar menyasar masalah inti perusahaan. Investor tersebut tampaknya terkesan. CEO tidak dipecat, justru diberdayakan. Ketidaktahuan ternyata menyelamatkan keadaan.
Bertahan dalam “Ketidakpastian, Misteri, dan Keraguan”
Tidak mengetahui itu sulit. Kita secara alami ingin mencari kepastian. Kita ingin memperbaiki masalah, dan terlihat mampu melakukannya. Bahkan dalam coaching atau terapi, yang seharusnya berfokus pada eksplorasi, sering kali coach atau terapis diam-diam menyiapkan “solusi penyelamatan”. Mereka ingin memberikan jawaban, kebijaksanaan, penutup.
Padahal kenyataannya, memberi tahu orang apa yang harus dilakukan jarang berhasil. Insight yang benar-benar bertahan adalah yang ditemukan sendiri oleh individu tersebut.
Jika kita mampu bertahan dalam rasa tidak nyaman karena tidak tahu, ruang untuk refleksi dan transformasi akan terbuka. Jika kita tidak terburu-buru merapikan kekacauan, terkadang justru kekacauan itu sendiri yang menyimpan jawabannya.
Penyair Inggris John Keats menyebut ini sebagai “negative capability”, yaitu kemampuan untuk tetap berada dalam ketidakpastian, misteri, dan keraguan, tanpa tergesa-gesa mencari fakta atau alasan. Bagi Keats, ini adalah cara untuk memahami dunia. Artinya, kita menahan dorongan untuk mengontrol atau memperbaiki, dan memberi waktu bagi sesuatu yang lebih dalam untuk muncul.
Para guru Zen menggunakan kōan, yaitu cerita paradoks atau teka-teki tanpa jawaban, untuk melewati cara berpikir analitis. Kōan memang dirancang untuk mengganggu, membingungkan, dan membuat pola pikir kita yang biasa tidak lagi bekerja. Dalam hal ini, Zen sudah jauh lebih dulu dibanding praktik modern seperti coaching, terapi, atau konsultasi, yang pada dasarnya juga mengajak seseorang untuk bergulat dengan pikirannya sendiri.
Baca Juga: Harapan: Keterampilan Hidup yang Perlu Kamu Miliki
Bergulat dengan Pikiran
Psikoanalis Jerman-Amerika Erich Fromm pernah mengibaratkan pencerahan sebagai perjalanan keluar dari gua penuh bayangan menuju cahaya realitas. Dalam terapi, ini disebut sebagai proses “working through”, yaitu mengenali pola lama, bergulat dengannya, dan perlahan berubah. Kōan bekerja dengan cara yang sama. Tujuannya bukan untuk “memecahkan” teka-teki, tetapi membiarkan teka-teki itu mengubah diri kita.
Salah satu kōan klasik berbunyi seperti ini: Dua biksu berdebat. Yang satu berkata, “Bendera itu bergerak.” Yang lain berkata, “Tidak, angin yang bergerak.” Seorang biksu ketiga lewat dan berkata, “Bukan benderanya. Bukan anginnya. Pikiranlah yang bergerak.”
Intinya, kōan bukanlah jawaban. Ia dirancang untuk mengganggu dan membuat kita mempertanyakan segalanya.
Terkadang, ketika seorang klien merasa buntu, saya menggunakan pendekatan seperti kōan. Saya menjadikan masalah itu sendiri sebagai “obat”. Saya menyarankan orang yang cemas untuk lebih mencemaskan lagi. Orang yang suka mengontrol untuk merencanakan lebih obsesif. Orang yang suka menunda untuk menjadwalkan penundaannya. Ini seperti judo terapeutik, menggunakan energi mereka sendiri untuk membawa mereka pada insight.
Inilah sebabnya coaching, terapi, dan praktik spiritual sering terasa mirip. Semuanya menuntut kita untuk bertahan dalam ambiguitas. Semuanya meminta kita melepaskan ilusi akan kepastian mutlak. Semuanya melibatkan proses yang tidak mudah, yaitu melepaskan hal-hal yang kita pikir sudah kita pahami.
Penutup
Kepemimpinan bukan tentang memiliki semua jawaban. Kepemimpinan adalah tentang menciptakan kondisi di mana pertanyaan yang lebih baik bisa muncul.
Terkadang, semuanya dimulai dari sebuah angka nol di papan tulis. Sebuah jeda yang disengaja.
Tidak mengetahui memang tidak nyaman. Namun, dari situlah sesuatu yang nyata bisa dimulai.
Collaborator Description:
Artikel ini dipublikasikan atas izin INSEAD Knowledge, portal yang menyajikan wawasan dan perspektif bisnis terbaru dari The Business School for the World. Hak cipta INSEAD 2026.
Kepemimpinan
Tags: Jadilah Seorang Pemimpin, Kepemimpinan Tanpa Batas, Konsultasi, Pertumbuhan
Manfred F. R. Kets de Vries adalah akademisi manajemen, psikoanalisis, konsultan, dan profesor bidang ilmu Pengembangan Kepemimpinan dan Perubahan Organisasi di INSEAD.





