Ibu Sebagai Pemimpin

Oleh Hanaa Aliifah Puteri|20-08-2021 | 1 Min Read
Source: Pexels.com
Seorang Ibu sebagai pemimpin yang menginspirasi putrinya

Keluarga yang lengkap terdiri dari ayah, ibu, anak, dan saudara. Namun, kenyataannya tidak semua keluarga lengkap. Kehilangan sosok orang tua memberikan dampak yang besar bagi keluarga. Tidak mudah bagi orang tua tunggal dalam menjalani kehidupannya setelah kehilangan salah satu anggota keluarga yaitu suami, karena segala sesuatu yang harus ditanggung sendiri. Di mana sebelumnya, segala beban dan pekerjaan dilakukan dua orang menjadi satu orang. Menurut Badan Pusat Statistik Tahun 2013, di Indonesia, jumlah single mother atau ibu tunggal lebih banyak dari jumlah ayah tunggal. Hal ini dibuktikan dengan persentase ibu tunggal sebesar 14,84%. Persentase ibu tunggal jauh lebih besar dari persentase ayah tunggal yang hanya 4,05%. 

Lembaga sosial pertama manusia adalah keluarga. Perkembangan manusia yang tidak terbatas, serta pengetahuan dan kecerdasan intelektual pertama berasal dari keluarga, didikan kedua orang tua. Dalam kasus saya, saya tumbuh tanpa sosok ayah.  Kehilangan sosok pemimpin di usia yang sangat muda bukanlah hal mudah. Saya dihadirkan di situasi dimana kehadiran ayah haruslah ada. Dimana keluarga yang seharusnya memiliki pemimpin seketika lenyap. Semuanya terlihat menakutkan disebabkan oleh label yang diciptakan oleh masyarakat bahwa ayah adalah pemimpin, kepala keluarga. Ayah berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung, dan pemberi rasa aman. Sedangkan ibu mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan mendidik anak-anaknya. 

Seketika, label tersebut pun patah. Pandangan saya beralih. Ibu merupakan seorang pemimpin juga. Bukan karena hanya ditinggalkan oleh sang suami, tetapi sedari dulu ibu merupakan pemimpin, penanggung jawab. Titel itu tidak lagi berlaku. Semua orang bisa jadi pemimpin. Tumbuh besar tanpa sosok ayah menjadikan saya berpikiran bahwa ibulah sosok pemimpin sebenarnya. Seorang ibu yang memikul tugas kepala keluarga, mengurus rumah tangga, dan merawat anak anak merupakan hal yang menakjubkan. Dedikasi yang diberikan ibu sangatlah berarti bagi keberlangsungan hidup saya. 

Dari situlah saya belajar bahwa ibu memiliki nilai kepemimpinan yang dapat saya petik. Pola pikir yang ibu ciptakan mencerminkan dengan jelas bagaimana seharusnya pemimpin itu. Merawat dan membesarkan anak memiliki banyak rintangan. Misalnya, seorang adik yang menangis karena tidak diberikan mainan yang sama dengan kakaknya. Ibu mampu untuk menarik garis lurus disetiap masalah yang muncul untuk mendapatkan garis besarnya. Kemudian akan menandai setiap poin masalah dan menciptakan ide solutif untuk mengatasinya. Ibu memberitahu sang kakak untuk bergantian dan bermain bersama adiknya. Sikap yang dapat ditarik dari ibu adalah bertanggung jawab, bersikap adil, dapat mencari solusi, dan memahami kondisi. Hal tersebut mencerminkan sosok seorang pemimpin.

Baca juga artikel "Kebiasaan yang Dilakukan Para Perempuan Sukses"

Anak yang tumbuh dengan satu sosok orang tua akan beranjak dewasa dengan berpikir bahwa orang tua yang merawatnya adalah pemimpin. Seorang anak dikandung ibunya selama 9 bulan dan 10 hari. Kepemimpinan seorang ibu sudah dilakukan sejak sang bayi masih dalam kandungan. Ibu secara tidak langsung mempengaruhi emosional dan watak bayi tersebut sehingga ibu memiliki tanggung jawab yang besar dalam memimpin anak. Karena mereka diasuh dan dibesarkan oleh satu sosok yang mengatur segala seluk beluk kehidupan mereka.  Pribadi pemimpin harus mempunyai kecakapan sehingga dia mampu mempengaruhi orang lain demi suatu pencapaian. Seorang yang memiliki tanggung jawab dan menginspirasi. Tanggung jawab merupakan hal yang tidak mudah. Tanggung jawab yang sulit ini harus dijalani meski tidak mendapatkan imbalan materiil. Ibu merupakan sosok yang tepat untuk menjalani hal tersebut. 

Selain itu, jika bicara tentang sosok ibu, jawaban saya adalah ibu. Wanita yang menginspirasi dan mengubah dunia saya, putrinya, dengan kasih sayang dan ketulusan yang hakiki. Ibu saya adalah sosok yang sangat istimewa dan tidak pernah akan tergantikan. Ibu yang membesarkan saya tanpa figur seorang ayah. Ibulah yang mengubah pandangan saya mengenai kepemimpinan.

Share artikel ini

Kepemimpinan

Tags: Wanita dan Kepemimpinan

Hanaa adalah seorang mahasiswi Biologi di Universitas Indonesia. Hobi menulisnya bermula dari kebiasaan membaca sedari kecil. Selain menulis dan membaca, ia gemar akan ilmu pengetahuan, terutama sains. Saat ini, ia merupakan tutor biologi di sebuah platform mengajar online.
Leaderonomics Logo

Wow, Anda telah scroll hingga ke bawah! Anda pasti sangat menyukai kami.

Karena Anda sudah disini, kami ingin meminta Anda untuk mempertimbangkan memberikan donasi untuk pemeliharaan situs kami, yang ternyata cukup tinggi.

Banyak yang tidak memiliki akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan penuh mereka. Itulah sebabnya konten kami akan selalu gratis, dan kami akan selamanya berterima kasih kepada mereka yang membantu mewujudkan ini.

Earn your one-way ticket to heaven.

© 2022 Leaderonomics Sdn. Bhd. All rights reserved.

Disclaimer: The opinions expressed on this website are those of the writers or the people they quoted and not necessarily those of Leaderonomics.