Bisakah Pemimpin Tertawa? Haruskah Mereka?

John Cardamone, Unsplash
Suka membaca artikel seperti ini? Subscribe newsletter kami dan dapatkan insight terbaru setiap bulan.
Hanya sedikit manusia yang lebih melelahkan untuk diajak bersama dibandingkan orang yang tidak memiliki selera humor. Mereka mungkin teliti, sukses secara profesional, menyayangi binatang, dan sangat cermat dalam memilah sampah untuk didaur ulang. Namun, setelah dua puluh menit berada di dekat mereka, kita mulai memahami mengapa peradaban menciptakan alkohol.
Bertentangan dengan anggapan umum, humor bukanlah hal yang sepele. Dalam sebuah esai singkat, Freud menggambarkannya sebagai sesuatu yang memiliki kualitas membebaskan. Humor adalah cara seseorang menolak untuk dikuasai oleh berbagai hantaman realitas. Contoh klasiknya adalah seorang tahanan yang dijatuhi hukuman mati. Dalam perjalanan menuju eksekusinya pada Senin pagi, ia berkata bahwa setidaknya ini adalah awal yang baik untuk minggu tersebut.
Ego yang Tergelincir karena Kulit Pisang
Menertawakan diri sendiri adalah sebuah keajaiban psikologis kecil. Selama beberapa detik, kita menjauh dari narasi “heroik” tentang kehidupan kita sendiri dan mengamati, dari jarak tertentu, makhluk konyol bernama “saya” ini. Semoga martabat kita berhasil selamat dari pengalaman tersebut.
Orang yang mampu berkata, “Saya benar-benar mempermalukan diri sendiri,” lalu sungguh-sungguh menertawakannya, melakukan sesuatu yang jauh lebih kompleks daripada sekadar merendahkan diri. Mereka menunjukkan bahwa identitas mereka cukup kokoh untuk bertahan ketika dihadapkan pada bukti bahwa mereka tidak sempurna. Sebaliknya, ego yang rapuh tidak mampu menikmati kemewahan ini. Bagi orang yang secara psikologis rapuh, ditertawakan terasa seperti serangan terhadap keutuhan dirinya.
Karena itu, semakin kuat rasa diri seseorang, semakin kecil kebutuhannya untuk menganggap dirinya terlalu serius. Bahkan, orang yang mati-matian ingin terlihat penting sering kali justru menjadi tahanan dari rasa pentingnya sendiri. Tidak banyak ruang tersisa untuk ironi, keceriaan, atau kemampuan menertawakan diri. Ketika rasa penting diri semakin besar, humor pun semakin menghilang.
Bayangkan seorang eksekutif yang penuh keangkuhan memasuki ruangan layaknya seorang bangsawan. Tidak ada yang menyela perkataannya. Jika ia tertawa, seluruh ruangan ikut tertawa. Jika ia tidak tertawa, semua orang menganggap bahwa ucapan tersebut memang sejak awal tidak lucu. Kekuasaan memberikan banyak keuntungan, tetapi kemampuan untuk mendapatkan informasi yang akurat tentang seberapa lucu diri kita sendiri jarang menjadi salah satunya.
Bagaimana dengan Orang yang Tidak Tertawa atau yang Selalu Tertawa?
Setiap orang memiliki selera humor yang sangat berbeda. Sebagian orang yang pendiam mungkin memiliki selera humor yang luar biasa, tetapi jarang menunjukkannya di depan umum. Orang yang jarang tertawa mungkin sedang mengalami depresi, memiliki banyak hal dalam pikiran, atau dibatasi oleh norma budaya. Bisa juga mereka dikelilingi oleh orang-orang yang memang tidak terlalu menghibur. Bahkan gender pun berpengaruh.
Bagi sebagian orang lainnya, keseriusan telah menjadi bagian dari identitas. Mereka mengaitkan sikap serius dengan kompetensi, kewibawaan, atau superioritas. Bagi mereka, keseriusan mungkin menjadi semacam pelindung psikologis. Orang-orang seperti ini dapat merasa tidak nyaman dengan tawa karena tawa mengancam rasa kendali mereka.
Tentu saja, humor juga bisa menjadi mekanisme pertahanan. Sebagian orang terus-menerus bercanda karena keseriusan membuat mereka takut. Saat itulah setiap percakapan yang menyakitkan berubah menjadi pertunjukan komedi, dan setiap perasaan tidak nyaman menjadi kesempatan untuk melontarkan lelucon. Lelucon kemudian menjadi cara untuk menghindari perasaan. Sama seperti keseriusan, kebiasaan bercanda tanpa henti juga dapat menjadi bentuk kekakuan emosional.
Kesehatan psikologis terletak pada kemampuan untuk berpindah di antara berbagai cara mengekspresikan diri tanpa terjebak dalam salah satunya. Artinya, kita mampu bersikap serius ketika realitas menuntut keseriusan, bermain ketika ada ruang untuk bermain, dan tetap memiliki kemampuan untuk menggunakan humor bahkan ketika keadaan menjadi sangat serius.
Sama seperti demokrasi tanpa pelawak bisa menjadi berbahaya, perusahaan tanpa pelawak juga tidak jauh lebih sehat.
Sang Raja dan Pelawaknya
Jauh sebelum para psikoanalis mulai memasang tarif per jam untuk mengatakan hal-hal yang tidak nyaman kepada orang-orang berkuasa, para raja sudah mempekerjakan pelawak istana. Mengenakan pakaian berwarna-warni, lonceng, dan terkadang topi dengan telinga keledai, seorang pelawak dapat mengatakan hal-hal yang mungkin membuat pejabat istana biasa kehilangan kepalanya.
Pelawak yang baik menjalankan fungsi psikologis yang penting: ia membawa realitas ke dalam sebuah sistem yang dibangun untuk menyenangkan penguasa. Bahkan hingga hari ini, setiap orang yang memiliki kekuasaan membutuhkan seseorang yang bisa berkata, “Yang Mulia, itu konyol,” dan masih dapat hidup untuk menikmati sarapan keesokan harinya.
Pemimpin yang memiliki rasa aman dalam dirinya menciptakan “pelawak istana” di dalam organisasinya. Mereka bisa berupa penasihat tepercaya, orang yang berani berbeda pendapat, direktur independen, jurnalis, pihak yang suka menantang pandangan umum, pasangan, teman lama, atau siapa pun yang diberi ruang psikologis yang cukup untuk mengingatkan ketika seseorang mulai terlalu membesar-besarkan dirinya sendiri. Sebaliknya, pemimpin yang tidak aman akan menyingkirkan mereka.
Ketiadaan pelawak istana menghasilkan sesuatu yang mudah diprediksi. Begitu pelawak menghilang, semua orang menjadi serius. Ketika semua orang menjadi serius, sang raja mulai menganggap dirinya jenius. Cepat atau lambat, kerajaan pun runtuh.
Karena itu, tugas pelawak bukan sekadar membuat sang raja tertawa. Ia membantu sang raja berpikir. Sama seperti demokrasi tanpa pelawak bisa menjadi berbahaya, perusahaan tanpa pelawak juga tidak jauh lebih sehat.
Beragam Warna Humor
Mengatakan bahwa seseorang memiliki selera humor ternyata memberi tahu kita sangat sedikit. Yang penting bukan sekadar apakah seseorang menggunakan humor, tetapi humor seperti apa yang digunakannya.
Psikolog asal Kanada, Rod Martin, dan rekan-rekannya memperkenalkan Humour Styles Questionnaire (HSQ) pada 2003. Mereka mengidentifikasi empat gaya humor berdasarkan fungsi psikologis dan interpersonalnya.
1. Humor afiliasi berkata, “Kita menghadapi ini bersama.”
Teman-teman yang saling menggoda dengan penuh kasih sedang menegaskan kedekatan mereka. Hal itu menunjukkan bahwa hubungan tersebut cukup aman untuk memberi ruang bagi bermain. Bagaimanapun, tawa bersama dapat menurunkan pertahanan diri dan menciptakan rasa memiliki.
Dengan demikian, humor menjadi perekat sosial yang mengingatkan kita bahwa, terlepas dari berbagai perbedaan, kita semua adalah pemeran dalam komedi manusia yang sama, yang luar biasa sekaligus penuh ketidaksempurnaan.
2. Humor yang memperkuat diri berkata, “Ini memang buruk, tetapi saya akan melewatinya.”
Humor semacam ini membantu kita mengambil jarak dari kesulitan tanpa berpura-pura bahwa kesulitan tersebut tidak ada. Humor ini tumbuh subur di tempat-tempat yang penuh kegelapan seperti rumah sakit, medan perang, dan penjara.
Misalnya, gallows humour, atau humor di tengah situasi yang sangat buruk, tidak selalu menunjukkan ketidakpedulian terhadap penderitaan. Terkadang, humor justru menjadi sesuatu yang membuat penderitaan lebih mudah ditanggung. Hal yang sama berlaku untuk lelucon tentang penuaan. Seseorang yang lebih tua dan bercanda tentang semakin banyaknya dokter dalam buku alamatnya mungkin sedang berusaha menjaga kewarasannya sendiri.
3. Humor yang merendahkan diri berkata, “Lihatlah, saya ini benar-benar seperti keledai yang tidak punya harapan.”
Orang yang tidak percaya diri mungkin menjadikan dirinya sendiri sebagai bahan lelucon sebelum orang lain melakukannya. Ini merupakan bentuk serangan terhadap diri sendiri sebagai tindakan pencegahan.
Humor yang sehat terhadap diri sendiri memungkinkan kita mengakui kebodohan atau kesalahan kita, tetapi tidak pernah berubah menjadi vonis terhadap harga diri kita. Kita bisa menertawakan diri sendiri tanpa harus merendahkan diri.
4. Humor agresif berkata, “Kamu itu konyol.”
Ejekan, cemoohan, dan sarkasme dapat berubah menjadi instrumen untuk membangun hierarki dan mendominasi orang lain. Sebuah peribahasa Salomo mengatakan: “Seperti orang gila yang menembakkan panah api yang mematikan adalah orang yang menipu sesamanya lalu berkata, ‘Saya hanya bercanda!’”
Rasanya seperti mendapat pukulan dua kali: seseorang menyakiti Anda, lalu menjadikan protes Anda sebagai bukti bahwa Anda tidak memiliki selera humor. Para perundung memahami hal ini tanpa perlu membaca Freud.
Tawa Terakhir
Pada akhirnya, humor mungkin merupakan ukuran kebebasan psikologis. Bisakah saya menerima kontradiksi dan bahkan ketidaksempurnaan? Bisakah saya menyadari bahwa saya salah tanpa merasa hancur? Bisakah saya tertawa ketika lelucon itu justru ditujukan kepada saya? Kemampuan-kemampuan ini memiliki kaitan yang sangat erat dengan apa yang kita sebut sebagai kematangan psikologis, kualitas yang sangat berharga bagi seorang pemimpin.
Humor membutuhkan kemampuan untuk melepaskan kendali. Untuk sesaat, kita meninggalkan versi heroik dari diri kita sendiri. Kita mengakui bahwa kita adalah makhluk mamalia yang penuh kesombongan, ketakutan, nafsu, kecemburuan, dan keangkuhan, yang mengerahkan energi luar biasa untuk berpura-pura sebaliknya.
Kita membangun perusahaan dan kerajaan, lalu berjalan lurus menabrak pintu kaca yang tidak kita lihat.
Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri adalah sebuah pencapaian psikologis. Anak-anak ingin dianggap serius. Remaja ingin terlihat keren. Orang dewasa yang matang akhirnya menemukan sebuah rahasia yang mengerikan: semua orang itu konyol. Presiden dan profesor, miliarder dan psikoanalis, jenderal dan kekasih, peraih Nobel dan penulis esai, terutama orang-orang yang menulis esai tentang humor.
Fungsi terdalam seorang pelawak adalah melindungi kekuasaan agar tidak percaya begitu saja pada citra yang dibangunnya sendiri. Selama para raja masih mampu mendengar, “Anda juga bisa salah,” lalu tertawa, masih ada harapan bagi kerajaan mereka.
Hal yang sama mungkin berlaku bagi kita dan organisasi kita hari ini.
Collaborator Description:
Artikel ini diterbitkan atas izin INSEAD Knowledge, portal yang menyajikan wawasan dan pandangan bisnis terkini dari The Business School for the World. Hak cipta INSEAD 2026
Edited by: Isabelle Laporte
Kepemimpinan
Manfred F. R. Kets de Vries adalah akademisi manajemen, psikoanalisis, konsultan, dan profesor bidang ilmu Pengembangan Kepemimpinan dan Perubahan Organisasi di INSEAD.






