Apa yang Ditunggu Tim Anda (Namun Tidak Mereka Dapatkan)

May 27, 2026 6 Min Read
businesswoman working with her laptop
Sumber:

Pressfoto, Magnific

Kredibilitas kepemimpinan hidup atau mati pada kemampuan menepati janji.

Akhir tahun lalu, suami saya dan saya menginap di sebuah hotel mewah di Melbourne untuk merayakan ulang tahun pernikahan kami. Kami sangat menantikannya. Saat tiba, staf meja depan menyambut kami dengan hangat dan menawarkan sesuatu yang menyenangkan: sebotol champagne yang akan dikirim ke kamar kami. Kami tidak memintanya, bahkan tidak mengharapkannya. Namun begitu tawaran itu diberikan, kami merasa senang.

Kami pun naik ke kamar, menunggu… namun champagne itu tidak pernah datang.

Tidak ada yang menindaklanjuti. Tidak ada yang meminta maaf. Tawaran itu begitu saja menghilang, bersama dengan sedikit rasa percaya yang sebenarnya cukup berarti.

Yang menarik, kami datang tanpa ekspektasi akan champagne. Namun saat itu ditawarkan lalu tidak ditepati, kami merasakan adanya jurang kekecewaan. Bukan karena kami merasa berhak mendapatkannya, tetapi karena sebuah janji telah dibuat lalu dilanggar.

Pengalaman itu terus teringat oleh saya. Bukan karena ia merusak perayaan ulang tahun kami, melainkan karena ia menggambarkan sesuatu yang sering saya lihat terjadi di tempat kerja.

Jurang Ekspektasi dalam Kepemimpinan

Ada istilah untuk apa yang terjadi di lobi hotel itu, dan hal yang sama juga terjadi dalam kepemimpinan.

Expectation-disconfirmation theory, yang awalnya dikembangkan dalam riset kepuasan pelanggan dan kemudian diperluas ke berbagai konteks lain, menjelaskan bahwa orang menilai sebuah pengalaman dengan membandingkan kenyataan yang mereka alami dengan harapan atau standar yang dijanjikan sebelumnya.

Kita tidak menilai pengalaman berdasarkan standar absolut, melainkan berdasarkan apa yang dijanjikan atau diisyaratkan. Ketika kenyataan tidak memenuhi harapan tersebut, jarak itu terasa sangat jelas. Terlepas dari apakah harapan awalnya masuk akal atau tidak.

Dalam kepemimpinan, hal ini terjadi terus-menerus.

Seorang pemimpin yang berjanji akan hadir, berkomunikasi dengan jelas, dan menindaklanjuti sesuatu namun gagal melakukannya, menciptakan sesuatu yang jauh lebih merusak dibanding pemimpin yang sejak awal tidak pernah membuat janji tersebut.

Ketidakkonsistenan melahirkan ketidakpercayaan. Dan ketika ketidakpercayaan sudah terbentuk, sangat sulit untuk memulihkannya kembali.

Riset terbaru dari Hogan Assessments memperjelas hal ini.

Berdasarkan profil kepribadian lebih dari 21.000 eksekutif dan respons survei dari 9.794 pekerja di 25 negara dan 1.900 organisasi, 2026 Hogan Global Leadership Effectiveness Study mengajukan pertanyaan berikut:

Apakah para pemimpin organisasi benar-benar mencerminkan apa yang diinginkan oleh orang-orang yang mereka pimpin?

Jawabannya cukup mengejutkan: Tidak.

Baca Juga: Perjanjian Tak Terlihat: Mengatur Ulang Ekspektasi yang Tak Pernah Diucapkan

Jurang Kompetensi

Hogan menemukan bahwa tidak ada irisan antara lima kompetensi utama yang ditunjukkan para eksekutif saat ini dengan lima kompetensi utama yang diinginkan karyawan dari pemimpin mereka.

Para eksekutif biasanya dihargai karena kemampuan mereka menginspirasi, bersaing, mempresentasikan ide dengan percaya diri, mengambil inisiatif, dan mendorong inovasi. Inilah kualitas yang membuat seseorang menonjol dan dipromosikan.

Namun anggota tim ternyata menginginkan sesuatu yang berbeda secara mendasar. Di seluruh 25 negara yang disurvei, lima harapan utama terhadap pemimpin tetap konsisten:

  • komunikasi yang jelas
  • pengambilan keputusan yang baik
  • akuntabilitas
  • integritas
  • kemampuan memimpin orang lain secara efektif

Lebih dari 96% responden menilai integritas dan akuntabilitas sebagai kualitas yang penting atau sangat penting dalam diri seorang pemimpin ideal. Hampir separuh responden juga menginginkan pemimpin yang menghargai kerja sama tim, koneksi antarmanusia, dan rasa memiliki. Namun ironisnya, nilai ini justru berada di posisi paling rendah dalam daftar nilai yang benar-benar dimiliki para eksekutif.

Coba pikirkan sejenak arti dari hal ini. Setiap hari, anggota tim datang ke tempat kerja dengan harapan memiliki pemimpin yang berkomunikasi dengan jelas, bertanggung jawab atas keputusan mereka, dan memprioritaskan tim. Namun kenyataannya, banyak yang tidak mendapatkannya.

Masalahnya menjadi lebih rumit karena kualitas yang membuat seseorang dipromosikan tidak otomatis hilang setelah mereka mencapai posisi tersebut. Data Hogan menunjukkan bahwa di bawah tekanan, kekuatan seperti rasa percaya diri, keberanian, dan dorongan kompetitif dapat berubah menjadi kesombongan dan ketidakstabilan emosional.

Jadi, sifat yang membawa seseorang naik jabatan justru bisa merusak kepercayaan yang dibutuhkan untuk mempertahankan kepemimpinan itu sendiri.

Harga dari Jurang Ini

Ini bukan sekadar teori kepemimpinan abstrak.

Berbagai penelitian tentang kepemimpinan dan hasil organisasi secara konsisten menunjukkan bahwa pemimpin memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap performa organisasi, baik ke arah positif maupun negatif.

Jika seorang pemimpin memiliki kesenjangan mendasar antara gaya kepemimpinan yang mereka tampilkan dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan tim, dampaknya akan menjalar ke seluruh lapisan organisasi.

Ketika pemimpin gagal memenuhi ekspektasi yang mereka bangun sendiri, orang-orang mulai kehilangan keterlibatan. Mereka mungkin tidak langsung resign, walaupun banyak yang akhirnya melakukannya. Namun mereka mulai “check out” secara emosional. Mereka bekerja sekadarnya, berhenti memberikan ide terbaik mereka, dan kehilangan komitmen yang tulus terhadap pekerjaan.

Dan siapa yang akhirnya menanggung biayanya? Anda. Karena dampaknya muncul dalam bentuk performa yang menurun, engagement yang melemah, dan hasil kerja yang tidak optimal.

Pentingnya Konsistensi

Lalu apa yang dibutuhkan untuk menutup jurang ini?

Ada satu kualitas yang tidak bisa ditawar: konsistensi.

Konsistensi adalah fondasi kepercayaan, dan kepercayaan adalah fondasi dari segalanya.

Sangat sulit bekerja untuk pemimpin yang hari ini penuh perhatian namun besok menjadi egois. Hari ini fokus, besok berantakan. Hari ini peduli, besok tidak tertarik sama sekali.

Saat membaca artikel ini, saya ingin Anda bertanya pada diri sendiri: Seberapa konsisten kualitas kepemimpinan Anda sebenarnya?

Berikut beberapa refleksi yang bisa Anda gunakan.

1. Katakan apa yang benar-benar Anda maksud, dan lakukan apa yang Anda katakan

Champagne yang tidak pernah datang bukanlah bencana besar. Namun tetap saja itu adalah janji yang dilanggar.

Dalam kepemimpinan, janji-janji kecil yang tidak ditepati akan terus menumpuk. Lama-kelamaan, itulah lensa yang digunakan orang untuk menilai semua komitmen Anda berikutnya.

Tim Anda menginginkan pemimpin yang menindaklanjuti ucapannya. Setiap kali Anda lupa, mengabaikan, atau menghindari komitmen, sekecil apa pun, sedikit demi sedikit kepercayaan akan terkikis.

Integritas bukan hanya soal momen etika besar. Integritas hidup dalam hal sederhana: apakah Anda melakukan apa yang Anda janjikan, pada waktu yang Anda katakan.

2. Berkomunikasilah sebelum orang perlu bertanya

Komunikasi yang jelas dinilai sebagai kompetensi paling penting dalam survei Hogan.

Ini bukan sekadar soal berbicara banyak. Ini tentang menghargai orang melalui komunikasi: menjaga mereka tetap mendapat informasi, mengakui ketidakpastian secara jujur, dan tidak membiarkan tim menafsirkan diam Anda sendiri. Karena ketika tidak ada komunikasi, orang akan mulai membuat asumsi mereka sendiri,  dan sering kali asumsi itu berbeda dari maksud Anda sebenarnya.

Kejelasan yang proaktif adalah salah satu perilaku dengan dampak terbesar yang bisa dimiliki seorang pemimpin.

Baca Juga: Komunikasi di Tempat Kerja: Stop Bertanya “Apakah Anda Paham?”

3. Bertanggung jawablah atas hasil, bukan hanya kemenangan

Tim Anda tidak membutuhkan pemimpin yang sempurna.

Namun mereka membutuhkan pemimpin yang mau bertanggung jawab atas keputusan, konsekuensi, dan perubahan arah yang diambil.

Pemimpin yang suka melempar kesalahan, mencari kambing hitam, atau diam-diam mengubah narasi ketika sesuatu gagal adalah pemimpin yang paling cepat kehilangan keterlibatan timnya.

4. Kelola diri Anda saat berada di bawah tekanan

Pertanyaannya bukan apakah Anda memiliki kecenderungan negatif saat tertekan; semua orang memilikinya. Pertanyaannya adalah: apakah Anda menyadarinya dan cukup disiplin untuk mengelolanya?

Kesadaran diri strategis adalah kemampuan yang membedakan pemimpin potensial dengan pemimpin yang benar-benar efektif.

Ketika Anda mengembangkan kemampuan ini, Anda menjadi lebih mampu menyesuaikan pendekatan dengan situasi, daripada sekadar bereaksi berdasarkan kenyamanan pribadi saat tekanan meningkat.

5. Prioritaskan keberhasilan tim dibanding visibilitas diri sendiri

Tim Anda menginginkan pemimpin yang melayani tim, bukan pemimpin yang menggunakan tim demi kepentingan dirinya sendiri.

Ini membutuhkan perubahan cara pandang:
dari “Bagaimana saya terlihat?” menjadi “Apa yang dibutuhkan tim ini?”

Tidak semua pemimpin secara alami memiliki orientasi ini. Namun hal tersebut bisa dikembangkan secara sengaja melalui coachingfeedback, dan sistem akuntabilitas yang menghargai performa tim sekaligus pencapaian individu.

Menutup Jurang Kepemimpinan

Jurang yang ditemukan dalam riset Hogan sebenarnya bukan hal baru. Begitu pula jurang antara bagaimana pemimpin melihat dirinya sendiri dengan bagaimana tim mereka merasakan kepemimpinan tersebut. Kabar baiknya, para pekerja dalam survei itu tidak meminta kesempurnaan yang mustahil.

Mereka hanya menginginkan pemimpin yang:

  • berkomunikasi dengan jelas
  • membuat keputusan yang baik
  • bertanggung jawab
  • bertindak dengan integritas
  • hadir untuk tim mereka

Pada dasarnya, mereka hanya meminta pemimpin yang menepati janji mereka.

Jadi, pertanyaan untuk Anda hari ini: Di mana Anda pernah membuat janji, secara langsung maupun tidak langsung, yang belum benar-benar Anda tepati?

Mungkin saja, ada “momen champagne” yang masih belum Anda kirimkan kepada tim Anda.

Dipublikasikan ulang atas izin dari michellegibbings.com.

 


Untuk para pemimpin yang memikul lebih dari sekadar jabatan… 

Jadilah Bagian dari Malaysia Immersion Week 2026! 

Ikuti perjalanan selama 8 hari (24 Juni – 1 Juli 2026) yang dirancang khusus bagi para pemimpin yang ingin memiliki waktu dan ruang untuk terhubung dengan sesama pemimpin bisnis yang sevisi. Anda akan mendapatkan akses VIP ke Malaysia Leadership Summit, mengikuti masterclass bersama para pemimpin global, serta merasakan pengalaman imersi budaya yang memberikan perspektif baru tentang diri Anda dan tim Anda.   

Daftar Sekarang!

Alt

Share artikel ini

References:

  1. Oliver, R. L. (1980). A cognitive model of the antecedents and consequences of satisfaction decisions. Journal of Marketing Research, 17(4), 460–469. https://doi.org/10.2307/3150499
  2. Hogan Assessments. (2026). The leadership divide: Global insights on who leads vs. who should. Hogan Assessments.
  3. Kaiser, R. B., Hogan, R., & Craig, S. B. (2008). Leadership and the fate of organizations. American Psychologist, 63(2), 96–110. https://doi.org/10.1037/0003-066X.63.2.96
Alt
Selain ahli di bidang kepemimpinan dan perubahan, Michelle Gibbings juga merupakan seorang founder perusahaan konsultan bisnis bernama Change Meridian. Pada tahun 2016, Gibbings menerbitkan bukunya berjudul ‘Step Up: How to Build Your Influence at Work’.
Alt

Mungkin Anda Juga Menyukai

Seorang perempuan menggunakan jas biru muda

Panduan Gen Z untuk Memasuki Peran Kepemimpinan Pertama

Bersama Anggie Rachmadevi menyadari bahwa gen z kini mulai menempati posisi kepemimpinan dan menghadirkan pendekatan baru dalam memimpin. Dari membangun budaya tim hingga menjaga tujuan kerja, mereka menunjukkan bahwa kepemimpinan modern dimulai dari kesadaran diri dan kemauan untuk terus belajar.

Nov 12, 2025 4 Min Read

jalan buntu

Apa Yang Harus Dilakukan Jika Menemui Jalan Buntu

Oleh Di hujung video ini Adon mengungkapkan apa yang harus dilakukan jika diperhadapkan dengan jalan buntu, selamat menikmati.

Jan 08, 2021 1 Min Video

Jadi Seorang Pembaca Leader's Digest