Apa yang Bisa Setiap Pemimpin Pelajari dari Olahraga Elite

Oct 14, 2026 • 6 Min Read
sprint athlete
Sumber:

Braden Collum, Unsplash

Pelajaran dari olahraga elite untuk dunia bisnis

Suka membaca artikel seperti ini? Subscribe newsletter kami dan dapatkan insight terbaru setiap bulan.

Selama satu dekade terakhir, dunia bisnis berusaha mengejar pemahaman yang telah dimiliki dunia olahraga elite sejak puluhan tahun lalu: kinerja yang berkelanjutan tidak hanya dihasilkan oleh bakat, strategi, atau usaha. Kinerja tersebut lahir dari budaya yang dibangun secara sengaja dan ditempa melalui tekanan.

Konsep rasa aman secara psikologis (psychological safety) mulai dikenal dalam pemikiran manajemen modern melalui penelitian Amy Edmondson pada 1999. Namun, istilah ini baru menjadi bagian dari percakapan di tingkat pimpinan perusahaan hampir lima belas tahun kemudian, setelah dipopulerkan oleh Project Aristotle dari Google. Sementara itu, berbagai program olahraga elite telah memprioritaskan rasa aman secara psikologis jauh sebelum konsep tersebut menjadi populer, bahkan sebelum memiliki istilah khusus.

Tentu saja, tidak semua tim olahraga berhasil membangun rasa aman secara psikologis, dan bukan berarti seluruh tim bisnis tertinggal. Banyak tim bisnis yang juga mampu menunjukkan kinerja sama tingginya. Namun, secara umum, dunia olahraga cenderung beberapa langkah lebih maju. Ada sesuatu dalam lingkungan kompetisi olahraga, mulai dari tuntutan fisik, umpan balik langsung melalui papan skor, hingga kekalahan yang disaksikan publik, yang mempercepat proses pembentukan budaya.

Jika kita mengesampingkan aspek teknis atau perbedaan konteks antara olahraga dan bisnis, upaya membangun budaya sebenarnya berakar pada hal sederhana: rasa memiliki, hubungan dengan orang lain, dan kebermaknaan merupakan kebutuhan mendasar manusia. Dorongan untuk memenuhi kebutuhan tersebut telah tertanam dalam perilaku dan motivasi kita.

Hal yang sering membedakan tim terbaik, baik dalam olahraga maupun perusahaan, adalah satu kemampuan bersama, yaitu membangun rasa aman yang adaptif (adaptive safety). Ini merupakan kemampuan kolektif tim untuk mempertahankan kepercayaan, hubungan, dan inklusivitas ketika kondisi berubah.

Fokusnya bukan lagi sekadar apakah setiap individu merasa aman, melainkan bagaimana tim secara bersama-sama mengajukan pertanyaan: 

"Bagaimana kita, melalui interaksi dan dalam kondisi saat ini, sedang menciptakan atau justru mengikis rasa aman?"

Setiap Orang Bertanggung Jawab atas Budaya Tim

Tim berkinerja tinggi memiliki satu kesamaan: setiap anggotanya merasa bertanggung jawab secara pribadi terhadap budaya tim. Mulai dari anggota yang baru bergabung hingga pemimpin paling senior, semuanya bertindak seolah-olah keberlangsungan budaya berada di tangan mereka masing-masing.

Saya selalu mengingatkan tim olahraga yang bekerja bersama saya bahwa setiap peran memiliki dua komponen, yaitu teknis dan budaya. Aspek teknis biasanya mendapatkan banyak perhatian, sedangkan aspek budaya jarang memperoleh perhatian yang sama.

Dalam konteks olahraga, tanggung jawab budaya dapat berupa mendukung pemain yang lebih muda, memperhatikan bagaimana anggota tim saling berkomunikasi selama pertandingan, atau menanyakan kondisi rekan yang sedang mengalami penurunan performa.

Evaluasi setelah pertandingan (post-game debrief) turut memperkuat prioritas tersebut. Seberapa baik seseorang menjalankan peran budayanya akan dibahas dan diberikan umpan balik terlebih dahulu, sebelum kinerja teknisnya dinilai.

Mengapa Kecepatan Tidak Selalu Menjadi Jawaban

Dunia bisnis sangat mengutamakan kecepatan, mulai dari agile sprint, iterasi cepat, hingga prinsip fail fast atau belajar dengan cepat dari kegagalan. Semua pendekatan ini memiliki manfaat nyata, tetapi juga menyimpan konsekuensi yang sering luput dari perhatian.

Tim yang terus bergerak cepat dari satu tantangan ke tantangan berikutnya dapat mengumpulkan banyak pengalaman tanpa benar-benar mengambil pelajaran berharga darinya. Mereka mengumpulkan data, tetapi kehilangan wawasan penting. Mereka juga menjalankan sesi evaluasi yang menghasilkan daftar tindakan, tanpa mengubah asumsi mendasar di balik masalah yang dihadapi.

Olahraga elite sering kali memiliki siklus kinerja yang sangat singkat. Sebuah tim mungkin hanya memiliki waktu satu minggu atau kurang untuk menganalisis pertandingan dan menerapkan hasil pembelajarannya sebelum pertandingan berikutnya. Kita mungkin mengira kondisi ini menuntut kemampuan belajar dengan cepat. Namun, secara berlawanan dengan intuisi, hal yang memungkinkan tim menyerap pembelajaran secepat itu justru merupakan kemampuan untuk belajar secara mendalam, yang saya sebut sebagai exploitative learning.

Pendekatan ini menuntut kedisiplinan untuk memperlambat proses secukupnya agar setiap lapisan pembelajaran dari suatu kejadian dapat digali. Bukan hanya memahami apa yang terjadi, tetapi juga mengapa hal itu terjadi, asumsi apa yang memengaruhinya, serta apa yang perlu diubah agar persoalan serupa tidak terulang.

Dorongan untuk mengutamakan kecepatan dibandingkan kedalaman bukan hanya dipengaruhi budaya, tetapi juga berkaitan dengan sistem saraf manusia. Rasa aman yang adaptif menjadi prasyarat penting karena tanpa rasa aman yang memadai, sistem saraf akan beralih ke mode mendeteksi ancaman. Respons melawan, menghindar, membeku, atau berusaha menyenangkan orang lain (fight, flight, freeze, or appease) kemudian mendorong seseorang untuk terburu-buru mencari kepastian, alih-alih melakukan penyelidikan secara jujur.

Inilah perbedaan antara rasa takut dan kondisi flow. Rasa takut mempersempit perhatian dan mendorong seseorang untuk melindungi diri sendiri. Sementara itu, flow dapat muncul ketika rasa aman dan tantangan hadir secara bersamaan, sehingga tim mampu bertahan menghadapi ketidaknyamanan cukup lama untuk mengambil pelajaran darinya.

Salah satu program olahraga yang pernah bekerja bersama saya menggunakan proses ini untuk menemukan bahwa pergerakan bola yang tidak konsisten ternyata sama sekali bukan disebabkan oleh masalah strategi. Akar persoalannya adalah ketegangan yang tidak pernah dibicarakan antara pemain senior dan pemain baru.

Ketika terjadi kesalahan, para pemain terburu-buru memberikan dukungan untuk menenangkan situasi, alih-alih menggali penyebabnya. Pemain senior berusaha menutupi masalah yang muncul, pemain muda memilih diam, dan sesi evaluasi pun hanya menyentuh permukaan persoalan.

Ketenangan di Bawah Tekanan Dibentuk, Bukan Bawaan Lahir

Dengan didukung pemahaman dari ilmu saraf (neuroscience), dunia olahraga juga lebih awal memahami bahwa kemampuan mengambil keputusan yang tepat dan menjaga ketenangan di bawah tekanan berkaitan dengan mekanisme neurologis, bukan sekadar sifat kepribadian.

Ketika seseorang belajar mengaitkan tekanan dengan bahaya, misalnya akibat kritik di depan umum atau budaya yang menghukum kesalahan, amigdala akan mengambil alih respons otak dan menghambat fungsi korteks prefrontal. Padahal, bagian otak inilah yang sangat dibutuhkan untuk mempertahankan penilaian yang baik dan ketenangan, terutama dalam situasi penuh tekanan.

Tim yang merespons kesalahan dengan rasa ingin tahu, bukan menyalahkan, dapat memutus siklus tersebut. Individu dengan kinerja tertinggi tidak selalu memiliki kepribadian yang paling tenang. Mereka berada dalam lingkungan yang sengaja dirancang untuk menciptakan rasa aman, sehingga mampu mengakses dan menggunakan keterampilan mereka secara lebih konsisten, terutama ketika menghadapi tekanan.

Program olahraga juga memahami bahwa rasa aman dapat meningkatkan komitmen. Penelitian dari Corporate Leadership Council menunjukkan bahwa karyawan dengan tingkat komitmen tinggi memberikan sekitar 57% lebih banyak upaya sukarela (discretionary effort) dibandingkan rekan kerja dengan komitmen rendah. Hal ini berkaitan dengan peningkatan kinerja individu sebesar 20%.

Ketika banyak organisasi berusaha mengejar peningkatan produktivitas sekecil apa pun, program olahraga justru memanfaatkan salah satu faktor pendorong yang paling hemat biaya, yaitu budaya yang membuat orang-orang ingin memberikan kontribusi lebih.

Saya pernah menyaksikan hal ini ketika bekerja bersama sebuah tim olahraga yang terdiri dari pemain muda dan belum berpengalaman. Saat berada di bawah tekanan, naluri awal mereka adalah berusaha lebih keras. Namun, hal yang benar-benar mengubah kinerja tim justru kesediaan untuk sedikit memperlambat langkah demi membangun kepercayaan dan hubungan antarpemain. Dengan demikian, kontribusi ekstra muncul secara alami dari keinginan para pemain sendiri, bukan sesuatu yang harus terus dituntut oleh pelatih.

Mengejar Ketertinggalan, Bukan Sekadar Meniru

Semua ini bukan berarti dunia bisnis harus meniru seluruh pendekatan olahraga begitu saja. Namun, prinsip-prinsip yang mendasarinya dapat diterapkan secara langsung: bangun kebiasaan dan praktik bersama, berikan ruang bagi pembelajaran yang mendalam, serta rancang lingkungan yang mampu menghadapi tekanan sebelum tekanan tersebut benar-benar datang.

Dunia olahraga elite lebih dahulu memahami hal ini karena kekalahan yang disaksikan publik setiap minggu menuntut tingkat kejujuran yang biasanya tidak dihadapi oleh dunia bisnis.

Kini, dunia bisnis mulai mengejar ketertinggalan tersebut. Organisasi yang paling cepat berkembang dalam hal ini adalah mereka yang memperlakukan budaya dengan keseriusan dan kedisiplinan yang sama seperti yang telah diterapkan dunia olahraga selama bertahun-tahun.

 


 

Siap mentransformasi budaya organisasi Anda melalui ilmu perilaku, gamifikasi, dan AI? Temukan bagaimana Happily.ai dapat membantu Anda membangun budaya berkinerja tinggi yang layak dimiliki organisasi Anda.

Setelah Anda memahami apa yang dirasakan oleh anggota organisasi, Budaya siap bermitra dengan organisasi Anda untuk menerjemahkan wawasan tersebut menjadi kebiasaan yang terarah, keselarasan yang lebih kuat, dan perubahan budaya yang berkelanjutan. Mari bangun budaya yang benar-benar hidup dalam pekerjaan sehari-hari!

Share artikel ini

Errol Amerasekera

Errol Amerasekera, penulis From Fear to Flow: The Adaptive Safety Revolution, adalah konsultan, performance coach, dan pembicara yang telah bekerja selama hampir dua dekade di bidang olahraga elite, organisasi korporat, dan lingkungan profesional berisiko tinggi. Ia dikenal sebagai pemikir di bidang keselamatan organisasi dan pengembang konsep Adaptive Safety, serta merupakan pemilik Bluestone Edge, konsultan yang membantu organisasi menghadapi kompleksitas kepemimpinan, budaya, kinerja, dan inklusi.

Alt

Mungkin Anda Juga Menyukai

a woman thinking

Mengapa Profesional Hebat Membutuhkan Lebih dari Sekadar IQ

Bersama Bernie Ichsan Dunda, memahami mengapa IQ saja tidak cukup untuk meraih kesuksesan profesional, serta bagaimana mengembangkan IQ, EQ, dan kecerdasan keilmuan agar lebih adaptif, efektif, dan relevan di dunia kerja yang terus berubah.

Jun 04, 2026 • 9 Min Read

leaders

Apakah Anda Mengenali 10 Tipe Pemimpin Ini?

Bersama Tom MC Ifle, memahami berbagai tipe pemimpin yang dapat menghambat tim dan mengapa tidak semua orang yang memiliki posisi pemimpin mampu memimpin dengan baik.

Aug 15, 2026 • 13 Min Podcast

Alt

Belajar Hal Baru Setiap Hari

Gitaris yang bukan sembarang gitaris, Lucky Barus, mengalokasikan waktu 4 jam setiap harinya untuk terus berlatih dan mengasah kemampuannya.

Jan 25, 2021 • 4 Min Video

Jadi Seorang Pembaca Leader's Digest