Era New Normal, Peluang Baru untuk Public Relations

Oleh Hyma Haridas|18-02-2022 | 1 Min Read
Source: Tracy Le Blanc dari Pexels.com
Public Relations di tengah pandemi

Public Relations atau PR bukanlah suatu bidang yang baru, namun istilah ini sering digunakan untuk menjelaskan sesuatu dari marketing hingga advertising. Hanya sedikit yang benar-benar memahami apa yang dimaksud dengan PR dan bagaimana hal tersebut dapat menciptakan nilai jangka panjang untuk suatu perusahaan atau instansi.

Pada dasarnya, peran PR adalah sebagai pendongeng. Mereka menggunakan narasi persuasif untuk membangun hubungan yang saling menguntungkan antara organisasi dan target audiens mereka. Tidak seperti advertising yang memanfaatkan media berbayar, PR memanfaatkan koneksi untuk mendapatkan penempatan media bagi kliennya. 

Banyak bisnis yang lebih memilih untuk berinvestasi dalam aktivitas yang dianggap menghasilkan aliran pendapatan langsung, seperti SEO (search engine optimisation) atau platform B2B seperti LinkedIn. Sayangnya, aktivitas ini dilakukan tanpa mempertimbangkan peluang dari PR yang mampu membangun kepercayaan dan hubungan jangka panjang dengan target audiens mereka. Cara ini bisa saja kurang efektif, karena konsumen sangat jarang terlibat dengan sesuatu yang tidak mereka ketahui, apalagi tidak percaya.

Layaknya industri lain, Public Relations juga tak luput dari pengaruh pandemi Covid-19. Pandemi telah secara nyata mengubah cara konsumen berinteraksi dengan bisnis. Menariknya, hal ini membuka peluang baru untuk PR dalam jangka panjang. Berikut ulasannya:

Baca juga: Otomasi Pemasaran: Utopia atau Distopia?

1. ‘Storrytelling’ dengan hemat


Sumber: Andrea Piacquadio dari Pexels.com

Selama pandemi, banyak perusahaan yang terpaksa memangkas anggaran marketing dan advertising mereka. World Economic Forum melaporkan bahwa pengeluaran untuk iklan di Eropa turun dengan rata-rata sebanyak 9% pada paruh pertama tahun 2020. Hal ini menjadi titik di mana perusahaan perlu memikirkan kembali bagaimana mereka dapat terlibat dengan konsumen dan target audiens mereka.

Di saat seperti ini, PR dapat ikut serta berkecimpung dalam aktivitas pemasaran langsung. Alih-alih menggunakan ruang media berbayar, PR dapat memanfaatkan narasi yang menarik untuk menyampaikan pesan dan nilai suatu brand melalui platform media sosial atau penempatan media lainnya. 

2. Menciptakan hubungan yang otentik dengan publik

Sumber: Ready Made dari Pexels.com

Orang-orang membutuhkan koneksi yang nyata dengan orang lain dan bahkan brand yang mereka minati. Tren ini meningkat selama pandemi, ketika konsumen mulai beralih ke brand yang memiliki standar etika dan kesadaran sosial yang lebih tinggi.

Kepercayaan telah menjadi faktor penting dalam berkomunikasi dengan audiens. Hal ini menunjukkan bahwa brand harus bisa menyampaikan tujuan dan makna perusahaan mereka dengan tepat melalui upaya marketing. Gagal melakukannya memiliki risiko yang berbahaya terhadap reputasi brand, seperti kasus sebuah brand pakaian asal Belanda.

3. Merampingkan komunikasi internal

Fauxels dari Pexels.com

Seiring berkembangnya bisnis, semakin penting pula untuk membangun saluran komunikasi yang tepat dalam internal organisasi. Hal ini diperlukan agar penyampaian informasi dapat terlaksana secara efektif dan akurat, baik dari atas ke bawah atau sebaliknya. PR yang dikelola dengan baik pun dapat merampingkan komunikasi internal organisasi dengan memastikan komunikasi tersebut mencerminkan nilai dan tujuan organisasi.

Komunikasi perusahaan tidak hanya mencakup hubungan masyarakat, tetapi juga hubungan media, komunikasi internal, manajemen reputasi, hubungan investor atau pemerintah, dan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Inilah sebabnya mengapa penting untuk suatu perusahaan memiliki pakar komunikasi.

4. Menguatkan eksistensi di media digital

Sumber: Christian Dina dari Pexels.com

Bahkan sebelum pandemi, PR telah memperluas jangkauannya dari media tradisional seperti koran, majalah, dan radio ke media digital. Pandemi pun hanya mempercepat transformasi ini, salah satunya dengan memanfaatkan influencer marketing. Kunci dari kampanye influencer marketing yang baik adalah bagaimana sebuah konten tidak terlihat seperti iklan dan begitu meyakinkan karena datang dari figur yang dekat dengan konsumen.

Kampanye influencer marketing yang efektif melampaui lebih dari sekedar brand memberikan produk gratisan kepada influencer dengan harapan mereka akan mengatakan sesuatu yang baik terkait produk tersebut. Namun, tetap dibutuhkan rencana matang yang mencakup relevansi brand dengan influencer, persentase engagement, media promosi bisnis, dan lain sebagainya. Maka dari itu, PR memainkan peran yang penting dalam membangun brand awareness di media digital melalui kampanye influencer marketing.

Singkatnya, Public Relations adalah roda penggerak penting dari keseluruhan mesin komunikasi organisasi. Jika dilakukan dengan baik, PR dapat membantu mempromosikan nilai perusahaan, membangun hubungan yang positif dengan publik, hingga menciptakan hubungan yang memuaskan antar stakeholder. Baik dilakukan oleh tim internal atau agensi eksternal, PR yang baik merupakan investasi yang tepat untuk bisnis pada saat ini.

Tonton video dengan topik serupa:

Share artikel ini

Bisnis

Tags: Covid-19

Hyma Haridas telah berkecimpung di industri komunikasi selama 15 tahun. Saat ini dirinya bekerja sebagai Account Director di Bridges M&C Sdn. Bhd.
Leaderonomics Logo

Wow, Anda telah scroll hingga ke bawah! Anda pasti sangat menyukai kami.

Karena Anda sudah disini, kami ingin meminta Anda untuk mempertimbangkan memberikan donasi untuk pemeliharaan situs kami, yang ternyata cukup tinggi.

Banyak yang tidak memiliki akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan penuh mereka. Itulah sebabnya konten kami akan selalu gratis, dan kami akan selamanya berterima kasih kepada mereka yang membantu mewujudkan ini.

Earn your one-way ticket to heaven.

© 2022 Leaderonomics Sdn. Bhd. All rights reserved.

Disclaimer: The opinions expressed on this website are those of the writers or the people they quoted and not necessarily those of Leaderonomics.