Panik Bukan Strategi Saat Krisis

Sep 07, 2026 3 Min Read
stay calm

Suka membaca artikel seperti ini? Subscribe newsletter kami dan dapatkan insight terbaru setiap bulan.

Ketika bencana terjadi, rasa takut adalah hal yang wajar. Gempa, banjir, kebakaran, atau bencana lainnya bisa datang tanpa banyak waktu untuk bersiap. Dalam kondisi seperti ini, tubuh dan pikiran kita secara alami akan masuk ke mode waspada.

Masalahnya, rasa takut yang tidak dikelola bisa berubah menjadi kepanikan. Kita bisa terburu-buru mengambil keputusan, sulit berpikir jernih, atau bahkan ikut menyebarkan informasi yang belum tentu benar.

Padahal, dalam situasi krisis, panik bukanlah strategi.

Tenang Bukan Berarti Tidak Takut

Sering kali kita mengira orang yang tenang adalah orang yang tidak takut. Padahal, keduanya berbeda.

Seseorang bisa saja merasa takut, tetapi tetap berusaha berpikir, “Apa yang harus saya lakukan sekarang?”

Hal ini juga sejalan dengan pesan Kepala BNPB Suharyanto saat memberikan arahan kepada penyintas gempa Flores pada Agustus 2026. Ia mengatakan, 

Yang kita perlukan sekarang adalah tenang dan waspada. Jangan panik, tetapi juga jangan lengah. Dengarkan informasi dari sumber resmi.

Pesan tersebut sederhana, tetapi penting. 

Tenang bukan berarti mengabaikan bahaya. Justru dengan tetap tenang, kita memiliki kesempatan lebih besar untuk memahami situasi, mengikuti arahan yang tepat, dan mengambil keputusan dengan lebih hati-hati.

Misalnya, ketika mendapat kabar tentang bencana, reaksi pertama kita mungkin langsung membuka media sosial dan mencari informasi sebanyak-banyaknya. Tanpa sadar, kita bisa terus scrolling, membaca berbagai kabar yang saling bertentangan, lalu semakin cemas.

Dalam kondisi seperti ini, berhenti sejenak dan mengambil napas bisa membantu kita memberikan ruang bagi diri sendiri untuk berpikir.

Jangan Langsung Percaya Semua Informasi

Saat krisis terjadi, informasi bisa menyebar dalam hitungan detik. Satu pesan WhatsApp dapat diteruskan ke puluhan orang, lalu beredar lebih luas.

Sayangnya, tidak semua informasi yang kita terima benar.

Karena itu, salah satu bentuk kesiapsiagaan yang sederhana adalah memeriksa informasi sebelum membagikannya. Cari informasi dari sumber resmi seperti lembaga pemerintah atau pihak berwenang.

Daripada menjadi orang pertama yang menyebarkan kabar, lebih baik menjadi orang yang memastikan kabar tersebut benar.

Sebab, informasi yang salah dalam situasi darurat bukan hanya membuat orang panik. Informasi tersebut juga bisa membuat seseorang mengambil keputusan yang justru membahayakan dirinya.

Fokus Pada Hal yang Bisa Kita Kontrol

Kita tidak bisa mengontrol kapan bencana akan terjadi. Kita juga tidak selalu bisa mengontrol seberapa besar dampaknya.

Namun, ada hal-hal yang masih bisa kita persiapkan.

Kita bisa mengetahui jalur evakuasi, menyimpan nomor kontak darurat, menyiapkan kebutuhan penting, mengetahui titik kumpul keluarga, dan mengikuti arahan dari pihak berwenang.

Dalam situasi krisis, bertanya “Bagaimana kalau semuanya menjadi lebih buruk?” mungkin tidak banyak membantu. Coba ubah pertanyaannya menjadi, “Apa yang bisa saya lakukan sekarang?”

Perubahan kecil dalam cara berpikir ini dapat membantu kita bergerak dari rasa takut menuju tindakan.

Menjadi Tenang Juga Berarti Membantu Orang Lain

Ketenangan ternyata bukan hanya bermanfaat untuk diri sendiri. Dalam situasi darurat, sikap kita juga dapat memengaruhi orang di sekitar.

Bayangkan jika satu orang panik, kemudian orang lain ikut panik. Sebaliknya, seseorang yang berusaha tetap tenang, mencari informasi yang benar, dan membantu orang lain mengikuti langkah yang tepat dapat menciptakan suasana yang lebih terkendali.

Baca Juga: Take Nothing Personally: Belajar Hidup Lebih Tenang

Di sinilah kita bisa melihat bahwa leadership tidak selalu terjadi di ruang rapat atau di balik meja kantor.

Dalam keadaan sulit, kepemimpinan bisa muncul dari hal sederhana: membantu orang tua, memastikan teman sudah berada di tempat aman, mengingatkan keluarga untuk tidak menyebarkan informasi palsu, atau membantu tetangga yang membutuhkan.

Kita mungkin tidak bisa mencegah semua bencana. Namun, kita bisa mempersiapkan cara untuk meresponsnya.

Karena pada akhirnya, tetap tenang bukan berarti kita tidak takut. Tetap tenang berarti kita memilih untuk tidak membiarkan rasa takut mengambil alih.

Share artikel ini

Komunitas

Tags: Sifat Positif, Konsultasi

Alt

Manisha adalah editor dan penulis di Leaderonomics. Ia percaya tulisan memiliki kekuatan untuk belajar dan membawa perubahan dengan menginspirasi banyak orang.

Alt

Mungkin Anda Juga Menyukai

Businesswoman

Kekuatan di Balik Label yang Disalahartikan

Oleh Manisha Mutiara Tsani. Label seperti “terlalu sensitif” atau “overthinking” sering dianggap kelemahan. Padahal, hal-hal tersebut justru bisa menjadi kekuatan dalam bekerja dan berinteraksi.

Apr 20, 2026 3 Min Read

kepemimpinan

3 Cara untuk Meningkatkan Mindful Leadership

Tahukah kamu tentang salah satu faktor terpenting dalam Science of Building Leaders? Yup, mindful leadership! Simak videonya yuk untuk belajar lebih mengenai mindful leadership!

Sep 13, 2021 2 Min Video

Jadi Seorang Pembaca Leader's Digest