Dari Rekan Kerja Menjadi Koneksi: Mengapa Pertemanan di Kantor Penting

Jul 08, 2026 10 Min Read
friendships at work
Sumber:

Pavel Danilyuk, Pexels

Persahabatan di tempat kerja mungkin jauh lebih strategis daripada yang kita kira.

Pertemanan di tempat kerja sering kali dianggap sebagai sesuatu yang sekadar "nilai tambah". Baik untuk meningkatkan semangat kerja, menyenangkan jika terjadi secara alami, tetapi bukan sesuatu yang perlu dipikirkan secara serius oleh para pemimpin.

Namun, pandangan tersebut semakin tidak sejalan dengan cara kita bekerja saat ini.

Riset Friends at Work 2025 dari KPMG menemukan bahwa 45% karyawan yang disurvei merasa terisolasi dan kesepian di tempat kerja, setidaknya pada waktu-waktu tertentu1. Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Di saat yang sama, semakin banyak orang yang menganggap memiliki teman di tempat kerja sebagai sesuatu yang bernilai. Dalam riset yang sama, 57% responden mengatakan mereka lebih memilih pekerjaan dengan gaji 10% di bawah standar pasar jika pekerjaan tersebut menawarkan pertemanan yang erat di tempat kerja, dibandingkan pekerjaan dengan gaji 10% di atas standar pasar tetapi tanpa hubungan tersebut.

Hal yang paling sering saya dengar dari banyak orang yang bekerja bersama saya adalah bahwa kita hidup di era yang paling terhubung, tetapi justru merasa semakin kesepian.

Para peneliti KPMG menyebut fenomena ini sebagai "friendship mirage", yaitu hubungan yang tampak akrab di permukaan, tetapi menyimpan rasa kesepian di baliknya.

Hal ini penting, bukan karena setiap orang harus dipaksa memiliki teman di tempat kerja. Tentu tidak. Pertemanan bersifat sukarela, personal, dan bukan sesuatu yang dapat diwajibkan oleh siapa pun, termasuk pemimpin.

Yang perlu disadari adalah bahwa hubungan antarmanusia yang tulus memainkan peran besar dalam membangun kepercayaan, menciptakan budaya feedback, meningkatkan ketahanan, dan mendorong kinerja. Karena itu, organisasi perlu memberi ruang agar hubungan tersebut dapat tumbuh dalam cara tim bekerja.

Tim yang Mengajarkan Saya Sebuah Pelajaran Berharga

Di awal karier saya, saya pernah bekerja di sebuah organisasi besar dan kompleks.

Pekerjaannya benar-benar menantang. Dinamika dengan para pemangku kepentingan tidak selalu mudah, beban kerja sangat tinggi, dan tekanan untuk memberikan hasil terus hadir. Manajer saya juga harus menangani begitu banyak prioritas sehingga tidak selalu dapat mendampingi tim secara konsisten.

Yang membantu saya, dan seluruh anggota tim, bertahan bukanlah program kesejahteraan (wellness program) ataupun inisiatif budaya dari manajer, HR, maupun organisasi. Yang membuat kami mampu melewatinya adalah orang-orang yang bekerja bersama kami.

Di tengah tekanan, hari-hari yang panjang, dan berbagai tantangan yang kami hadapi bersama, kami perlahan menjadi sahabat yang sesungguhnya. Kami saling menantang cara berpikir satu sama lain. Kami saling membantu ketika ada yang menghadapi masa sulit. Kami tetap bisa tertawa bahkan ketika keadaan terasa berat. Kami menemukan cara agar masa-masa penuh tekanan menjadi lebih mudah dijalani, sekaligus membuat setiap keberhasilan terasa layak dirayakan.

Pekerjaan memang penting. Namun, kualitas hubungan antarmanusialah yang menopang kami dan membantu kami menghasilkan kinerja yang luar biasa.

Hubungan Mengubah Cara Kita Menafsirkan Orang Lain

Sebagian besar cara kita merespons orang lain di tempat kerja dibentuk oleh penilaian sosial yang berlangsung sangat cepat.

Apakah orang ini dapat dipercaya? Apakah ia berada di pihak saya? Bisakah saya mempercayai niatnya? Haruskah saya melindungi diri, atau saya bisa bersikap terbuka?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menentukan apa yang terjadi selanjutnya.

Ketika Anda memercayai seseorang, Anda cenderung menafsirkan perilakunya dengan lebih positif. Anda lebih mudah menganggap niatnya baik, menerima feedback-nya sebagai sesuatu yang membantu, bukan mengancam, serta berani menantang pemikirannya ketika diperlukan karena hubungan yang dimiliki cukup kuat untuk menghadapi perbedaan pendapat.

Sebaliknya, ketika Anda tidak memercayai seseorang, kata-kata yang sama dapat terasa sangat berbeda. Sebuah pertanyaan bisa terdengar seperti kritik. Feedback bisa terasa seperti serangan. Keterlambatan dapat dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian. Pandangan yang berbeda dapat ditafsirkan sebagai penolakan.

Kata-katanya sama, tetapi hubungan yang berbeda menghasilkan perasaan, penafsiran, dan dampak yang sama sekali berbeda.

Pertemanan, atau setidaknya hubungan yang benar-benar tulus, mengubah kualitas komunikasi di dalam sebuah tim.

Sebagian besar tim sebenarnya tidak kesulitan bekerja sama karena kekurangan informasi. Mereka kesulitan karena pesan sering diperhalus, dihindari, ditunda, disaring, disalahartikan, atau dikelola dengan kurang baik.

Ketika kepercayaan hadir, orang dapat mengkritisi sebuah ide tanpa meragukan niat orang yang menyampaikannya. Mereka berani mengatakan hal-hal yang sulit karena hubungan mereka cukup kuat sehingga keterbukaan tidak akan merusaknya.

Inilah alasan mengapa pertemanan dapat menjadi mesin tidak resmi yang mendorong budaya feedback yang sehat di dalam tim. Bukan karena teman selalu bersikap baik satu sama lain, tetapi karena sahabat sejati biasanya lebih berani bersikap jujur satu sama lain.

Baca Juga: Circle Kantor: Support System atau Sumber Drama?

Alasan Bisnisnya Sulit Diabaikan

Selama bertahun-tahun, Gallup berpendapat bahwa memiliki sahabat di tempat kerja benar-benar penting. Sebagai bagian dari kerangka employee engagement-nya, Gallup menanyakan kepada karyawan apakah mereka memiliki sahabat di tempat kerja. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa orang yang sangat setuju dengan pernyataan tersebut memiliki tingkat engagement tujuh kali lebih tinggi2.

Survei Friends at Work 2024 dari KPMG juga mengarah pada kesimpulan yang serupa3. Dari 1.000 karyawan profesional penuh waktu yang disurvei, sebagian besar mengatakan bahwa pertemanan di tempat kerja membuat mereka merasa lebih terlibat dalam pekerjaan (83%), lebih puas dengan pekerjaannya (81%), dan lebih terhubung dengan tempat mereka bekerja (80%).

Hubungannya dengan kesehatan mental juga sangat signifikan. KPMG menemukan bahwa 78% profesional penuh waktu percaya bahwa pertemanan di tempat kerja mendukung kesehatan mental mereka. Hampir separuh responden mengatakan bahwa teman kerja menjadi tempat berbagi cerita sekaligus sumber empati ketika menghadapi situasi yang penuh tekanan atau tantangan. Sementara itu, responden lainnya menyoroti manfaat berupa meningkatnya ketahanan (resilience), rasa memiliki (sense of belonging), dan berkurangnya risiko burnout.

Semua temuan ini sebenarnya tidak mengejutkan.

Pekerjaan bukan sekadar kumpulan tugas. Pekerjaan adalah sebuah sistem sosial. Orang-orang mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, menghadapi konflik, mengelola tekanan, dan beradaptasi terhadap perubahan melalui hubungan dengan orang lain.

Ketika hubungan tersebut dangkal, bersifat transaksional, atau dipenuhi kewaspadaan, pekerjaan akan terasa lebih berat. Orang-orang menghabiskan energi untuk mengelola persepsi, menebak-nebak niat orang lain, dan melindungi diri mereka sendiri.

Sebaliknya, ketika hubungan menjadi lebih kuat, pekerjaan dapat berjalan lebih lancar. Orang akan lebih cepat meminta bantuan, berbicara dengan lebih terbuka, pulih lebih cepat setelah menghadapi kesulitan, dan lebih bersedia memberikan upaya ekstra. Bukan karena diminta oleh pemimpin, tetapi karena mereka peduli terhadap orang-orang yang akan terdampak oleh hasil pekerjaan tersebut.

Pertemanan Bukan Berarti Pilih Kasih

Meski demikian, ada sisi lain yang juga perlu diperhatikan. Pertemanan di tempat kerja memang dapat memperkuat kepercayaan, kolaborasi, dan kesejahteraan. Namun jika tidak dikelola dengan bijak, hal tersebut juga dapat memunculkan kelompok eksklusif (cliques), pengucilan, pilih kasih, dan batas profesional yang menjadi kabur.

Karena itu, para pemimpin perlu menyikapinya dengan hati-hati.

Budaya kerja yang mendukung tumbuhnya pertemanan bukanlah budaya di mana hanya sebagian orang yang menjadi bagian dari lingkaran dalam, sementara yang lain merasa tersisih. Bukan pula budaya di mana keputusan ditentukan oleh kedekatan pribadi, bukan berdasarkan kompetensi. Dan tentu bukan budaya yang membuat seseorang merasa harus selalu ikut berkumpul setelah jam kerja, membagikan kehidupan pribadinya, atau menjadi lebih ekstrover agar bisa diterima.

Hubungan antarmanusia tidak boleh berubah menjadi ujian tersembunyi mengenai loyalitas. Artinya, tujuan yang ingin dicapai bukanlah menciptakan keakraban yang dipaksakan, keramahan yang dibuat-buat, atau harapan agar semua orang menjadi sahabat dekat.

Tujuannya adalah membangun lingkungan kerja yang memungkinkan kepercayaan, kepedulian, dan penghargaan tulus terhadap sesama manusia tumbuh secara alami.

Mengapa Hal Ini Semakin Sulit Terjadi

Membangun hubungan seperti ini tidak semakin mudah.

Berbagai perangkat digital memang membantu orang tetap saling terhubung dan berkolaborasi lintas lokasi maupun zona waktu. Namun, tetap terhubung tidak sama dengan merasa dekat. Pertimbangkan beberapa contoh berikut:

  • Pesan singkat memang praktis, tetapi tidak dapat menggantikan percakapan yang sesungguhnya.
  • Saluran komunikasi tim menciptakan visibilitas, tetapi tidak otomatis membangun rasa memiliki.
  • Rapat virtual dapat menyatukan jadwal, tetapi belum tentu mampu menyatukan orang-orang yang mengikutinya.

Selain itu, penerapan sistem kerja hybrid dan remote juga telah mengubah kondisi yang sebelumnya memungkinkan pertemanan di tempat kerja tumbuh secara alami.

Percakapan singkat sebelum rapat dimulai. Makan siang yang tanpa disadari berubah menjadi obrolan yang bermakna. Perjalanan kembali dari kafe di gedung kantor, ketika akhirnya seseorang mengungkapkan apa yang sebenarnya ia pikirkan. Momen-momen kecil ketika rekan kerja saling melihat sebagai manusia, bukan sekadar nama atau jabatan di layar komputer.

Momen-momen sederhana yang sering kali terjadi secara spontan inilah yang menjadi bahan dasar terbentuknya kepercayaan. Ketika momen-momen tersebut mulai menghilang, membangun hubungan harus dilakukan dengan lebih disengaja. Hal ini tidak selalu buruk, tetapi berarti Anda perlu memberikan perhatian yang lebih besar terhadap proses tersebut.

Pertanyaan untuk Para Pemimpin

Pertanyaannya bukanlah apakah setiap anggota tim memiliki seorang sahabat di tempat kerja. Pertanyaan itu terlalu sempit dan, bagi sebagian orang, terlalu bersifat pribadi.

Pertanyaan yang lebih tepat adalah apakah anggota tim memiliki hubungan yang cukup kuat untuk saling mendukung ketika pekerjaan menjadi sulit.

Apakah mereka dapat saling menantang cara berpikir tanpa membuatnya menjadi persoalan pribadi? Apakah mereka merasa nyaman meminta bantuan sebelum benar-benar kewalahan? Apakah mereka mampu berbeda pendapat tanpa kehilangan hubungan baik? Apakah mereka peka ketika ada rekan yang sedang kesulitan, ikut merayakan keberhasilan orang lain, dan saling mengandalkan ketika tekanan meningkat?

Karena cepat atau lambat, tekanan pasti akan datang. Setiap tim akan menghadapi masa-masa yang penuh ketidakpastian, perbedaan pendapat, kelelahan, dan stres. Dalam situasi seperti itu, sistem, proses, dan kepemimpinan memang penting. Namun hubungan antarmanusia juga memiliki peran yang sama pentingnya.

Apa yang Dapat Dilakukan Pemimpin

Lalu, apa yang bisa Anda lakukan?

Meski pertemanan di tempat kerja tidak dapat dipaksakan, Anda dapat membentuk kondisi yang membuat kepercayaan dan hubungan antarmanusia lebih mudah tumbuh. Berikut lima langkah yang bisa menjadi titik awal.

Tip 1: Lindungi Waktu untuk Interaksi Informal

Tidak setiap interaksi harus berorientasi pada penyelesaian pekerjaan.

Jika setiap rapat dipenuhi agenda, setiap percakapan bersifat transaksional, dan setiap momen bersama terasa terburu-buru, jangan heran jika hubungan antarkaryawan tetap dangkal.

Sisihkan ruang dalam ritme kerja agar orang-orang dapat terhubung tanpa agenda tertentu. Awali rapat dengan beberapa menit percakapan yang tulus. Lindungi waktu makan siang ketika tim berada di kantor. Berikan jeda setelah pencapaian besar. Biarkan orang berbicara bukan hanya tentang pekerjaan, tetapi juga tentang bagaimana mereka merasakan pekerjaan tersebut.

Tip 2: Tunjukkan Ketertarikan yang Tulus

Anggota tim selalu memperhatikan apa yang dianggap penting oleh pemimpinnya. Jika Anda hanya bertanya tentang tenggat waktu, risiko, dan hasil kerja, mereka akan belajar bahwa kinerja adalah satu-satunya hal yang bernilai.

Tentu saja pekerjaan tetap penting. Namun, setiap anggota tim adalah manusia yang memiliki konteks, tekanan, harapan, kekhawatiran, serta kehidupan di luar daftar tugas.

Pemimpin yang mengenal anggota timnya lebih dari sekadar hasil kerja mengirimkan pesan yang jelas: orang-orang dihargai di sini, dan Anda juga dihargai. Ini bukan berarti mencampuri urusan pribadi atau memaksa orang untuk terbuka. Yang dibutuhkan adalah mengajukan pertanyaan yang tulus, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, dan mengingat jawaban yang mereka berikan.

Rasa ingin tahu juga menular. Jika Anda ingin membangun tim yang mampu menjalin hubungan yang autentik, mulailah dengan menunjukkan ketertarikan yang autentik kepada orang-orang yang Anda pimpin.

Tip 3: Rancang Waktu Tatap Muka dengan Sengaja

Ketika orang-orang akhirnya berkumpul secara langsung, manfaatkan momen tersebut sebaik mungkin.

Terlalu sering organisasi meminta karyawan datang ke kantor hanya untuk menghabiskan waktu mengikuti presentasi, pembaruan informasi, atau sesi berbagi informasi yang sebenarnya bisa dilakukan secara daring. Itu adalah kesempatan yang terlewatkan.

Gunakan waktu tatap muka untuk percakapan yang membangun kepercayaan, bukan sekadar menyampaikan informasi yang sebenarnya bisa dikirim melalui email. Ciptakan ruang untuk berdiskusi, berefleksi, memecahkan masalah, dan berbagi pengalaman. Biarkan anggota tim menghadapi persoalan yang rumit bersama-sama. Berikan waktu bagi mereka untuk berbincang secara santai, bukan sebagai selingan singkat di antara agenda rapat, tetapi sebagai bagian dari rancangan pertemuan itu sendiri.

Tip 4: Waspadai Terjadinya Eksklusi

Hubungan antarmanusia tidak berkembang secara merata.

Sebagian orang mudah membangun relasi. Sebagian lainnya membutuhkan waktu lebih lama. Ada yang secara alami terlibat dalam percakapan informal, sementara yang lain tetap berada di pinggir. Ada pula posisi tertentu yang memiliki akses lebih besar terhadap jaringan tempat informasi, konteks, dan peluang mengalir.

Pemimpin perlu memperhatikan pola-pola tersebut. Siapa yang selalu dilibatkan lebih awal? Siapa yang pertama kali mendapatkan informasi? Siapa yang sering diajak berdiskusi secara informal? Siapa yang memiliki teman untuk berbagi cerita setelah rapat yang sulit? Dan siapa yang harus menghadapi semuanya sendirian?

Hal ini penting karena meskipun pertemanan di tempat kerja bersifat sosial, hubungan tersebut juga memengaruhi rasa percaya diri, pengaruh, akses terhadap informasi, dan peluang berkembang. Tujuan Anda adalah memastikan setiap anggota tim merasa diperhatikan, dilibatkan, dan memiliki akses terhadap dukungan yang mereka butuhkan.

Tip 5: Perlakukan Koneksi sebagai Strategi Talenta

Jika organisasi benar-benar ingin menarik dan mempertahankan talenta terbaik, maka organisasi juga harus serius membangun kondisi relasional yang dialami karyawan setiap hari.

Ini bukan sekadar menambahkan acara kebersamaan ke dalam kalender perusahaan. Yang lebih penting adalah merancang cara kerja yang memberi waktu, ruang, dan kesempatan bagi orang-orang untuk membangun hubungan yang nyata.

Baca Juga: 12.12 Karier: Ketika Banyak Karyawan Memilih “Batalkan Pesanan”

Dari Rekan Kerja Menjadi Hubungan yang Bermakna

Pertemanan di tempat kerja bukanlah pengalih perhatian dari pekerjaan. Sebaliknya, hubungan tersebut merupakan salah satu unsur penting yang membuat pekerjaan dapat berjalan dengan baik. Karena itu, ada satu pertanyaan yang layak Anda renungkan minggu ini:  Apakah anggota tim Anda hanya bekerja berdampingan, atau mereka benar-benar memiliki hubungan yang cukup kuat untuk saling membantu menghasilkan pekerjaan terbaik?

Dipublikasikan ulang atas izin dari michellegibbings.com.

Share artikel ini

References:

  1. KPMG LLP. (2025, September 9). KPMG survey: Workplace friendships linked to 20% salary premium amid growing isolation and labor market uncertaintyhttps://kpmg.com/us/en/media/news/friends-at-work-2025.html
  2. Gallup. (2022, December 5). Why having a best friend at work is importanthttps://www.gallup.com/cliftonstrengths/en/406298/why-having-best-friend-work-important.aspx
  3. KPMG LLP. (2024, November 19). KPMG survey: Workplace friendships play a critical role in employee mental health, job satisfactionhttps://kpmg.com/us/en/media/news/kpmg-survey-workplace-friendships.html
Alt
Selain ahli di bidang kepemimpinan dan perubahan, Michelle Gibbings juga merupakan seorang founder perusahaan konsultan bisnis bernama Change Meridian. Pada tahun 2016, Gibbings menerbitkan bukunya berjudul ‘Step Up: How to Build Your Influence at Work’.
Alt

Mungkin Anda Juga Menyukai

stress

10 Tanda Karyawan Harus Mengambil Cuti

Jika tidak ada jeda dalam bekerja, hal tersebut bisa mempengaruhi pekerjaan Anda, seperti hasil yang didapat tidak maksimal, bekerja dengan asal-asalan, dan lain sebagainya. Ketika hasil dalam bekerja sudah tidak maksimal, sebaiknya Anda harus mengambil cuti terlebih dahulu. Manfaatkan waktu cuti tersebut untuk berlibur, mencari suasana baru, upgrading diri, dan lain sebagainya.

Aug 25, 2021 1 Min Read

a woman in green sweater

Gen Z: TONTON INI SEKARANG

Bersama Raymond Chin membahas tiga kelemahan fatal Gen Z di dunia kerja yang menghambat perkembangan karier.

May 19, 2026 10 Min Video

Jadi Seorang Pembaca Leader's Digest