Bosan di Tempat Kerja? Perhatikan Baik-Baik

Vitaly Gariev, Unsplash
Suka membaca artikel seperti ini? Subscribe newsletter kami dan dapatkan insight terbaru setiap bulan.
Anda baru menyelesaikan tiga slide dalam sebuah presentasi ketika menyadari bahwa dua slide sebelumnya sebenarnya sudah tidak Anda dengarkan. Mata Anda memang masih tertuju pada layar. Anda bahkan mungkin terlihat memperhatikan, tetapi pikiran Anda diam-diam sudah pergi ke tempat lain.
Atau mungkin Anda sedang mengerjakan laporan yang sudah berkali-kali dibuat hingga semuanya terasa otomatis. Bisa juga ketika mengikuti rapat dan Anda sudah tahu apa yang akan dikatakan semua orang bahkan sebelum mereka mengatakannya. Pekerjaan yang dulu menantang Anda, kini tidak lagi terasa demikian.
Dalam semua situasi tersebut, sebenarnya tidak ada yang benar-benar salah. Anda tetap sibuk dan mungkin masih menjalankan pekerjaan dengan baik. Namun, Anda juga merasa bosan.
Masalah dengan Kebosanan
Kebosanan bisa terasa sulit untuk dibenarkan di tempat kerja. Anda mungkin berpikir, "Saya punya pekerjaan yang baik, tim yang kompeten, dan masalah yang menarik untuk diselesaikan. Jadi, mengapa saya merasa seperti ini?"
Hal itu dengan cepat dapat berubah menjadi kritik terhadap diri sendiri atau rasa bersalah. Mungkin Anda merasa seharusnya lebih tertarik, lebih fokus, atau sekadar lebih bersyukur.
Mengakui bahwa Anda bosan juga bisa terasa semakin tidak nyaman karena di tempat kerja, kebosanan mudah disalahartikan sebagai sikap tidak terlibat atau kurang berkomitmen.
Akhirnya, Anda mungkin melakukan salah satu dari tiga hal: memaksakan diri untuk terus bekerja, memenuhi waktu dengan lebih banyak aktivitas, atau justru merasa bersalah karena merasa bosan.
Padahal, kebosanan sebenarnya lebih berguna daripada yang selama ini kita kira.
Filsuf Andreas Elpidorou berpendapat bahwa kebosanan memiliki fungsi regulasi. Kebosanan memberi sinyal ketika apa yang sedang kita lakukan tidak lagi cukup terhubung dengan minat, tujuan, atau rasa bermakna yang kita miliki. Hal ini kemudian mendorong kita untuk mempertimbangkan tindakan atau arah yang berbeda.
Dengan kata lain, kebosanan dapat mendorong kita untuk mempertimbangkan kembali situasi yang tidak lagi memberikan kepuasan.
Psikolog Wijnand van Tilburg dan Eric Igou juga menemukan bahwa kebosanan berkaitan erat dengan kurangnya tantangan dan makna. Penelitian selanjutnya dari psikolog Erin Westgate dan Timothy Wilson menambahkan satu dimensi penting lainnya, yaitu perhatian.
Model Meaning and Attentional Components yang mereka kembangkan menunjukkan bahwa kebosanan dapat muncul ketika kita kesulitan memusatkan perhatian pada sesuatu yang sebenarnya kita anggap bernilai. Terkadang pekerjaan terlalu mudah. Di lain waktu, pekerjaan terlalu sulit. Ada kalanya kita mampu mengerjakannya dengan baik, tetapi tidak lagi melihat mengapa pekerjaan tersebut penting.
Jadi, kebosanan sebenarnya memberikan informasi yang berguna. Pertanyaannya adalah, apa yang sedang coba disampaikan oleh rasa bosan tersebut, dan apa yang akan Anda lakukan dengan informasi itu?
Mengapa Pemimpin Sering Tidak Menyadari Sinyalnya
Kesibukan dapat menyembunyikan tanda-tanda tersebut. Kalender yang penuh dapat menciptakan kesan bahwa seseorang sangat terlibat dalam pekerjaannya. Anda berpindah dari satu rapat ke rapat lainnya, membuat keputusan, menjawab pertanyaan, dan menangani berbagai masalah. Hampir tidak ada satu menit pun yang benar-benar kosong dalam hari kerja Anda.
Namun, memiliki banyak pekerjaan tidak sama dengan merasa terlibat dalam pekerjaan. Anda bisa saja memiliki banyak hal untuk dilakukan, tetapi hanya sedikit yang benar-benar menantang, mengajarkan sesuatu, atau terhubung dengan hal yang menurut Anda bermakna.
Penelitian terhadap lebih dari 6.000 karyawan menemukan bahwa kebosanan di tempat kerja secara empiris berbeda dari burnout maupun keterlibatan kerja. Kebosanan juga berkaitan dengan kepuasan kerja dan komitmen terhadap organisasi yang lebih rendah, serta keinginan untuk meninggalkan pekerjaan yang lebih tinggi.
Kebosanan dan burnout memang bisa terlihat serupa dari luar karena keduanya dapat melibatkan sikap menarik diri, kelelahan, dan berkurangnya keterlibatan. Namun, keduanya bukanlah pengalaman yang sama dan bahkan dapat terjadi secara bersamaan.
Baca Juga: Apa yang Menyebabkan Turunnya Keterlibatan Karyawan?
Perhatikan Polanya
Jadi, daripada terburu-buru memberi label pada perasaan tersebut, langkah pertama adalah mengamatinya. Cara yang baik untuk melakukannya adalah dengan mulai memperhatikan kapan kebosanan muncul dan kapan kebosanan tersebut tidak muncul.
Selama dua minggu ke depan, perhatikan kapan energi Anda berubah. Coba tanyakan kepada diri sendiri:
- Kapan Anda mulai kehilangan fokus?
- Rapat mana yang membuat Anda gelisah?
- Tugas apa yang terasa berulang?
- Kapan Anda paling tergoda untuk mengambil ponsel atau beralih ke aktivitas lain?
Kemudian, perhatikan situasi sebaliknya:
- Kapan Anda benar-benar tenggelam dalam pekerjaan?
- Apa yang membuat Anda penasaran?
- Percakapan seperti apa yang membuat Anda berpikir lebih tajam?
- Kapan waktu terasa berjalan cepat karena Anda benar-benar terlibat?
Jika kebosanan muncul hampir di semua situasi, mungkin Anda perlu melihat kembali hubungan Anda dengan pekerjaan tersebut secara keseluruhan.
Namun, jika kebosanan hanya muncul pada aktivitas tertentu, masalahnya mungkin terletak pada bagaimana pekerjaan tersebut disusun, tingkat tantangan yang Anda hadapi, atau apakah Anda masih merasa terhubung dengan tujuan dari pekerjaan itu.
Selidiki Lebih Dalam
Setelah Anda mulai melihat polanya, cobalah bersikap ingin tahu daripada langsung mengkritik diri sendiri.
Mulailah dengan mempertanyakan pekerjaan Anda. Misalnya:
- Ke mana tantangannya pergi? Ingat kembali kapan terakhir kali pekerjaan benar-benar menguji kemampuan Anda. Apa yang Anda lakukan saat itu dan apa yang berubah sejak saat itu?
- Apakah masalahnya ada pada pekerjaan, tingkat tantangan, atau kecepatannya? Mungkin pekerjaan Anda kurang menantang, terlalu familiar, berada di bawah kemampuan Anda, atau berjalan begitu cepat sehingga Anda tidak memiliki ruang untuk benar-benar terlibat di dalamnya.
- Apa yang sudah tidak lagi Anda pelajari? Rasa familiar dan penguasaan terhadap pekerjaan memang dapat membuat pekerjaan lebih mudah. Namun, keduanya juga dapat menghilangkan rasa ingin tahu dan tantangan yang sebelumnya membuat pekerjaan terasa menarik.
Kemudian, lihat lebih jauh dengan bertanya:
- Ke mana maknanya pergi? Bagian mana dari pekerjaan Anda yang terasa tidak lagi terhubung dengan hasil, kontribusi, atau tujuan yang Anda anggap penting?
- Di mana perhatian Anda mulai kesulitan bertahan? Apakah pekerjaan terlalu mudah, terlalu sulit, terlalu terfragmentasi, atau sekadar terlalu familiar sehingga Anda kesulitan untuk benar-benar terlibat?
Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, coba refleksikan apakah yang Anda rasakan sebenarnya adalah kebosanan, kelelahan, atau kombinasi keduanya.
Ketika pekerjaan yang sebenarnya menarik pun terasa berat dan membayangkan tantangan yang lebih besar justru membuat Anda lelah, mungkin kelelahan menjadi bagian dari masalahnya. Sebaliknya, jika energi Anda kembali meningkat ketika menemukan sesuatu yang benar-benar menarik, sulit, atau bermakna, kebosanan mungkin menjadi sinyal yang lebih kuat.
Dalam proses refleksi ini, Anda tidak perlu berusaha memberikan diagnosis yang sempurna. Tujuannya adalah menyadari ketika kebosanan sesekali sudah berubah menjadi sebuah pola, memahami apa yang mungkin menyebabkannya, lalu menentukan langkah berikutnya dan apa yang perlu diubah.
Baca juga: Cara Mengelola Fokus Tim Saat Masalahnya Bukan pada Upaya
Merespons Sinyal Kebosanan
Kebosanan yang terus-menerus tidak otomatis berarti Anda membutuhkan pekerjaan baru. Sering kali, kebosanan justru menjadi dorongan untuk mengubah sesuatu dalam cara Anda bekerja.
Misalnya, Anda bisa memberikan tantangan baru kepada diri sendiri dengan mengambil masalah atau pekerjaan yang memiliki tingkat kompleksitas lebih tinggi. Anda juga bisa terlibat dalam percakapan yang jawabannya belum Anda ketahui, mencari kesempatan untuk belajar, atau mencoba aktivitas yang membuat Anda kembali berada dalam posisi sebagai pemula.
Anda juga dapat menghubungkan kembali tugas yang sudah familiar dengan orang, hasil, atau tujuan yang pada akhirnya dilayani oleh pekerjaan tersebut.
Jebakan yang mudah terjadi adalah sekadar menambahkan lebih banyak aktivitas ke dalam hari Anda. Namun, mencari lebih banyak stimulasi belum tentu menjadi jawabannya. Anda juga perlu melindungi waktu yang benar-benar tenang.
Karena itu, ciptakan ruang dengan sengaja. Berjalan tanpa mendengarkan podcast. Letakkan ponsel ketika sedang menunggu. Berikan ruang yang cukup bagi pikiran untuk menyadari apa yang menarik perhatian Anda, hal apa yang terus membuat Anda kembali, dan ke mana rasa ingin tahu Anda secara alami mengarah.
Terkadang, jawaban atas kebosanan adalah tantangan yang lebih besar. Di lain waktu, jawabannya adalah menemukan kembali makna atau menyesuaikan cara Anda menjalankan pekerjaan.
Setelah melakukan refleksi terhadap diri sendiri, arahkan perhatian Anda kepada tim. Jangan berasumsi bahwa tim yang sibuk adalah tim yang benar-benar terlibat.
Tanyakan secara langsung, "Bagian mana dari pekerjaan Anda yang sudah tidak lagi membuat Anda tertarik atau tertantang?"
Sebagian besar orang tidak akan mengungkapkan hal tersebut tanpa diberi ruang untuk berbicara. Mengakui "Saya bosan" di tempat kerja bisa terasa berisiko karena dapat dianggap sebagai sikap tidak terlibat, kurang bersyukur, atau bahkan kurang berkomitmen.
Jika Anda ingin mendapatkan jawaban yang jujur dari anggota tim, Anda perlu menciptakan lingkungan yang membuat mereka merasa aman untuk menyampaikannya.
Apa Langkah Berikutnya?
Jadi, daripada mengabaikan kebosanan, cobalah memahami apa yang sedang disampaikannya. Mungkin Anda membutuhkan lebih banyak tantangan, mengurangi sesuatu yang tidak lagi memberi nilai, atau melakukan pekerjaan dengan cara yang berbeda.
Di situlah pemahaman baru bisa dimulai.
Diterbitkan ulang dengan izin dari michellegibbings.com.
Kepribadian
Tags: Pertumbuhan, Sifat Positif
References:
- Elpidorou, A. (2014). The bright side of boredom. Frontiers in Psychology, 5, Article 1245. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2014.01245
- van Tilburg, W. A. P., & Igou, E. R. (2012). On boredom: Lack of challenge and meaning as distinct boredom experiences. Motivation and Emotion, 36(2), 181–194. https://doi.org/10.1007/s11031-011-9234-9
- Westgate, E. C., & Wilson, T. D. (2018). Boring thoughts and bored minds: The MAC model of boredom and cognitive engagement. Psychological Review, 125(5), 689–713. https://doi.org/10.1037/rev0000097
- Reijseger, G., Schaufeli, W. B., Peeters, M. C. W., Taris, T. W., van Beek, I., & Ouweneel, E. (2013). Watching the paint dry at work: Psychometric examination of the Dutch Boredom Scale. Anxiety, Stress, & Coping, 26(5), 508–525. https://doi.org/10.1080/10615806.2012.720676





