Tim Impian Hanya Sebuah Mimpi

Oleh Roshan Thiran|07-12-2020 | 8 Min Read
Tujuan, peranan, proses dan hubungan antara peribadi adalah kunci

Pada Juli 2000, Florentino Pérez diangkat sebagai presiden Klub Sepak Bola Real Madrid. Ia berjanji akan mendapatkan jasa Luis Figo, pemain terbaik dunia saat itu dalam upaya menjadikan Real Madrid Football Club sebagai 'Los Galácticos', tim impian sepak bola. Dia segera menandatangani kontrak dengan Figo, kemudian Zinédine Zidane pada 2001, diikuti oleh Cristiano Ronaldo setahun kemudian dan David Beckham pada 2003. Dia berhasil membentuk tim impian. Semua pemain terbaik di dunia telah dikumpulkan untuk membentuk tim impian Galacticos.

Sial bagi Perez, tim impian gagal mencapai kesuksesan yang diharapkan. Barcelona adalah rival sengit mereka. Di bawah kepemimpinan pelatih Frank Rijkaard, Barcelona menorehkan kekalahan demi kekalahan atas 'Los Galácticos', termasuk pukulan telaknya 3-0 di Santiago Benabeu, kandang Real Madrid. Akhirnya pada 27 Februari 2006, Florentino Pérez mengundurkan diri dan impian Real Madrid sirna.

Namun, Pérez tidak menyerah pada impian 'Los Galácticos'. Ia kembali memimpin klub sebagai presidennya pada 2009. Ia mengambil pemain terbaik dunia termasuk Kaka, Ronaldo, Xabi dan beberapa pemain terbaik lainnya. Nyatanya, hingga saat ini tim impiannya belum menonjolkan potensinya. Impian Pérez tetaplah hanya sebuah impian.

Kita semua memiliki tim impian kita sendiri, terutama dalam olahraga. Pada tahun 2004, tim impian Bola Basket Amerika Serikat terdiri dari semua bintang di arena NBA, tetapi mereka hanya mencapai tempat ketiga, kalah dari Lithuania. Di World Baseball Classic, sekali lagi tim Amerika Serikat adalah tim impian tetapi dikalahkan oleh Korea Selatan, Kanada, dan Meksiko. Pada tahun 1982 Brasil memiliki tim sepak bola terbaik di dunia, tetapi gagal memenangkan Piala Dunia FIFA.

Mengapa tim impian gagal memenuhi potensi mereka? Setelah runtuhnya Tembok Berlin, dengan penyatuan Jerman Timur dan Barat, banyak yang berharap Jerman menjadi kekuatan ekonomi terkuat. Namun, ternyata tidak seperti yang diharapkan. Ternyata, tim impian mustahil meraih kesuksesan

Faktanya, tim impian adalah kombinasi dari pengetahuan dan keahlian setiap individu yang luar biasa. Namun seringkali kami menemukan bahwa kombinasi ini tidak menghasilkan kesempurnaan yang diharapkan dibandingkan dengan tim-tim berperforma tinggi lainnya. Berdasarkan penelitian kami, kegagalan tim impian terkait dengan salah satu dari empat penyebab utama berikut:

Tujuan tim yang tidak jelas:

  1. Kurangnya proses bimbingan
  2. Peranan yang kurang jelas
  3. Kekurangan hubungan antar individu (interpersonal) dan persahabatan

 

Tujuan

Ketika saya bekerja di Amerika Serikat beberapa tahun yang lalu, saya melihat sekawanan angsa terbang ke selatan pada musim dingin. Anda dapat dengan jelas mendengar suara mereka dan melihat mereka terbang dalam formasi berbentuk V. Mereka tahu tujuan mereka dan tampaknya memiliki GPS alami yang terpasang pada mereka untuk memandu mereka ke tujuan.

Tujuannya adalah GPS internal tim. Ini memberikan arahan kepada setiap individu dan kelompok. Ini adalah langkah paling dasar untuk sebuah tim - identifikasi posisi saat ini dan tujuan yang ingin Anda tuju. Tujuan yang tidak jelas adalah masalah utama yang dihadapi tim yang tidak sehat. Jika tujuannya tidak jelas atau semua orang di tim tidak setuju akan tujuan yang ada, maka tim tersebut akan gagal.

Tujuan memberi energi pada tim dan memberikan fondasi bagi sebuah tim yang baik, karena itu ciptakan inti misi tim dan menjadikannya begitu jelas kepada semua anggota tim. Hal ini akan menyatukan semua upaya pribadi dengan tujuan tim. Tom Shoes adalah perusahaan sepatu yang sangat sukses. Tujuan mereka "satu untuk satu" yang telah memberi energi bukan hanya kepada tenaga kerja mereka sendiri tetapi juga kepada pelanggan mereka. Untuk setiap sepasang sepatu yang dijual, akibatnya sepasang sepatu lainnya akan diberikan secara gratis kepada orang miskin. Ketika sebuah organisasi memiliki tujuan dan sasaran yang jelas, sinergi untuk bertindak pasti akan terwujud.

Proses

Pada 1990-an, McKinsey meluncurkan studi "perang bakat". Studi tersebut menyimpulkan bahwa perusahaan terbaik adalah yang memiliki pemimpin yang terobsesi untuk menemukan dan mempekerjakan sebanyak mungkin karyawan yang berbakat tinggi. Studi tersebut menyarankan agar para pemimpin "bertaruh pada atlet yang berbakat alami yaitu mereka yang memiliki naluri intrinsik yang kuat." Penelitian tersebut meyakini bahwa kesuksesan membutuhkan "keyakinan mendalam bahwa memiliki bakat yang baik di setiap level adalah cara untuk mengungguli pesaing."

Satu perusahaan yang sepenuhnya mengikuti ‘blueprint' McKinsey adalah ENRON. ENRON adalah organisasi impian dalam dunia bisnis. Mantan CEO-nya, Jeff Skilling, hanya menunjuk lulusan MBA terbaik dan konsultan terbaik sebagai tenaga kerjanya dan dia “mengisi organisasinya dengan mereka yang memiliki bakat atau telenta terbaik”. Tapi entah bagaimana, tim impian ENRON, yang terdiri dari 'talenta terbaik dunia', hancur.

Ketika ENRON mengalami kegagalannya, saat itu saya sedang bekerja dengan General Electric (GE). Kebijakan Jack Welch, yang kala itu sebagai CEO GE adalah tidak mengambil bakat dari sekolah terkemuka sebagai tenaga kerjanya. GE mencari pemimpin yang penuh semangat dan mendesak mereka 'terjun ke lapangan' dimana mereka belajar sambil bekerja. Namun, pada tahun 2001, permintaan akan bakat non-elit GE sangat tinggi tapi sebaliknya tidak ada yang mau merekrut 'bintang' dari ENRON. GE tidak merekrut 'bintang' tetapi sistemnya menghasilkan "bintang". GE memiliki proses yang jelas untuk mengembangkan tenaga kerjanya.

Yang menarik adalah anggapan umum bahwa tenaga kerja itulah yang membuat organisasi hebat. Saya berani mengatakan sebaliknya.  Organisasilah yang menghasilkan tenaga kerja yang hebat. Disitulah letak kunci kedua - tim yang hebat memiliki proses dan sistem yang memungkinkan mereka berfungsi secara maksimal.

Di ENRON, tidak ada sistem. ENRON memang memiliki sistem manajemen kinerja berdasarkan nilai-nilai inti, tetapi begitu seringnya memindahkan talenta terbaik mereka ke peran baru, tidak pernah ada kesempatan untuk mengevaluasi mereka dengan benar. Kadang-kadang bahkan jika seorang karyawan diberi peringkat 5 (peringkat teratas), mereka sering dipecat dalam waktu enam bulan, dan ada banyak kasus karyawan berperingkat rendah naik ke peran baru di ENRON.

Peranan

Kurangnya kejelasan peran di ENRON juga berkontribusi pada kejatuhannya. Dalam bukunya 'Talent Myth', Gladwell menulis cerita tentang Louise Kitchin, seorang karyawan berusia 29 tahun karyawan ENRON. Pedagang gas percaya ENRON harus mengembangkan portal bisnis perdagangan online. Di waktu senggangnya, ia mengejar impian tersebut dengan bantuan 250 karyawan ENRON lainnya. Enam bulan kemudian, CEO ENRON Skilling mengetahui tentang masalah ini dan dengan nada setuju berkata: “Ketika saya mengetahui tentang ini, mereka telah membeli server, telah memulai tinjauan hukum di 22 negara. Sikap seperti inilah yang akan membantu organisasi ini untuk maju. "

Kitchin tidak memiliki izin atau pengetahuan untuk menjalankan EnronOnline. Dia hanya ingin melakukannya, dan di ENRON, karyawan 'bintang' melakukan apa pun yang mereka inginkan. Dengan cakupan peran yang kurang jelas, tidak heran jika ENRON akhirnya tumbang.

"Beberapa tim terburuk yang pernah saya temui adalah tim yang masing-masing dari mereka berpotensi besar berperan sebagai direktur eksekutif," kata David Nadler. Sesungguhnya yang dibutuhkan hanyalah seorang direktur eksekutif. Masalah yang sama terjadi di lapangan sepak bola ketika semua pemain ingin menjadi striker. Sebelas penyerang tanpa penjaga gawang atau bek pasti akan kalah, walaupun ke-11 penyerang tersebut merupakan pemain terbaik dunia.

 
Tim, The A-Team

Salah satu acara TV favorit saya semasa kecil dimulai dengan kata-kata ini:

“PADA TAHUN 1972, SATU PECAHAN UNIT KOMANDO DIMASUKKAN KE DALAM PENJARA OLEH PENGADILAN MILITER ATAS KEJAHATAN YANG TIDAK DILAKUKAN OLEH MEREKA. MEREKA DENGAN SEGERA DAPAT MELARIKAN DIRI DARI BENTENG PENGEMANAN TINGKAT TINGGI DAN LARI KE BAWAH TANAH LOS ANGELES.  SEHINGGA KINI, MEREKA MASIH DIBURU OLEH PEMERINTAH DAN MEREKA MASIH BERTAHAN SEBAGAI TENTARA-TENTARA BAYARAN. JIKA ANDA MEMPUNYAI MASALAH, JIKA TIDAK ADA SEORANGPUN DAPAT MEMBANTU ANDA, DAN JIKA ANDA DAPAT MENCARI MEREKA, MUNGKIN ANDA DAPAT MENYEWA THE A-TEAM


The A-Team adalah tim yang hebat karena masing-masing anggotanya memiliki peran yang jelas.  Seorang pemimpin yang kecanduan cerutu yang pandai menyamar, penipu tampan yang pandai berbicara, seorang pilot setengah gila, mekanik terampil yang memakai banyak perhiasan di tubuhnya, dan van yang bisa terbang. Setiap anggota The A-Team memiliki peran yang jelas dan mereka melakukannya dengan sangat baik.

Hubungan antar pribadi

Dalam acara TV, "The Apprentice", ketika sekelompok peserta berada di ruang dewan sebelum Donald Trump mengeliminasi salah satu dari mereka, semua orang sibuk membela diri, dan cepat menuduh atau menyalahkan orang lain. Tidak ada yang mau bertanggung jawab, bahkan rela 'menjual' orang lain demi menyelamatkan diri. Persaingan, pertengkaran, dan fitnah terjadi dalam kelompok yang anggotanya tidak menjalin persahabatan satu sama lain.

Ketika rekan satu tim kompetitif, sulit untuk menanamkan kepercayaan satu sama lain. Jika seseorang menganggap rekan satu timnya tidak tulus, menyimpan informasi, mencurigai motif mereka, atau tidak kompeten sama sekali, tidak ada yang bisa dilakukan dan kekuatan itu akan gagal berfungsi. Hubungan antara individu dan jalur pertemanan membantu menciptakan kepercayaan, komunikasi terbuka, dan umpan balik.

Di sebagian besar tim impian, setiap orang tidak percaya satu sama lain sejak awal. Secara umum, persahabatan yang dalam tidak ada. Yang terburuk adalah ketika rekan satu tim sering bersaing untuk mendapatkan promosi atau perhatian yang sama dari seorang pemimpin. Keyakinan membutuhkan waktu untuk dipupuk dan menjadi rumit ketika sering terjadi ketidakstabilan atau ego besar karena mereka semua bersaing untuk mendapatkan perhatian yang sama.

Pelatih

Tim impian seringkali gagal karena kekurangan pada kejelasan akan tujuan, peran, proses dan kurangnya hubungan antar individu dalam hal ini kedalaman persahabatan. Tim impian Real Madrid telah berkali-kali gagal. Tapi Perez mungkin telah menemukan peluru ajaib untuk mengubah tim impiannya melalui pelatih Jose Mourinho. Mourinho berperan sebagai katalisator dalam menetapkan tujuan yang jelas, menekankan peran, membangun proses yang utuh, dan memastikan persahabatan yang terjalin di dalam organisasi.

Pada 1980, tim hoki Olimpiade Amerika Serikat mengalahkan tim Soviet untuk memperebutkan medali emas. Tim dibangun di atas filosofi yang berlawanan dengan tim impian. Peristiwa ini kemudian dibuat menjadi film berjudul "Miracle" di mana pelatih Herb Brooks menyingkirkan banyak pemain terbaik di Amerika Serikat dan memilih timnya berdasarkan kecocokan dan persahabatan. Ketika ditanya mengapa dia meniadakan pemain terbaik dan memilih mereka yang tidak memiliki nama, dia berkata, "Saya tidak mencari pemain terbaik, saya mencari pemain yang tepat." Pelatih adalah elemen terakhir dari kesuksesan dalam membangun tim impian.

Akhir kata

Seorang sosiolog, Elizabeth Cohen menemukan bahwa jika anak-anak dimasukan dalam suatu kelompok untuk menyelesaikan suatu masalah, yang terjadi adalah salah satu dari mereka akan lebih dominan sedangkan yang lainnya tidak akan tertarik. Tetapi jika guru meluangkan waktu untuk menentukan norma, tujuan, peran dan proses, “mereka tidak hanya akan berperilaku sesuai dengan norma baru, mereka juga akan menekankan aturan tersebut kepada anggota kelompok lainnya. Bahkan anak yang sangat muda dapat terdengar mengajar anggota kelompok lainnya tentang bagaimana mereka harus bersikap."

Saat ini, dengan praktik teknologi tinggi di tempat kerja, sangat mustahil bagi kita untuk tidak menjadi bagian dari tim. Proyek sekarang terlalu besar dan rumit untuk diselesaikan oleh satu orang saja. Michael Schumacher tidak memenangkan kompetisi Formula Satu sendirian. Dia memiliki tim berkinerja sangat tinggi yang mendukungnya. "Manusia bekerja sama", tulis Robert Frost, "baik bersama-sama atau sendiri-sendiri." Untuk memastikan kesuksesan sebuah tim, Anda harus menciptakan suasana tertentu.

Namun, kita sering mendengar keluhan bahwa kerja tim sangat membuat frustrasi dan melelahkan. Yang luar biasa adalah banyak tim yang anggotanya tidak saling memahami yang berjuang untuk mencapai sesuatu. Jika kita meluangkan waktu untuk menentukan tujuan, peran, proses, dan belajar membangun persahabatan, kita mungkin dapat membangun tim impian yang sukses.

Share artikel ini

Kepemimpinan

Tags: Jadilah Seorang Pemimpin

Roshan is the Founder and CEO of the Leaderonomics Group. He believes that everyone can be a leader and "make a dent in the universe", in their own special ways. He is constantly featured on TV, radio and numerous publications sharing the Science of Building Leaders and on leadership development. Follow him at www.roshanthiran.com
Leaderonomics Logo

Wow, Anda telah scroll hingga ke bawah! Anda pasti sangat menyukai kami.

Karena Anda sudah disini, kami ingin meminta Anda untuk mempertimbangkan memberikan donasi untuk pemeliharaan situs kami, yang ternyata cukup tinggi.

Banyak yang tidak memiliki akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan penuh mereka. Itulah sebabnya konten kami akan selalu gratis, dan kami akan selamanya berterima kasih kepada mereka yang membantu mewujudkan ini.

Earn your one-way ticket to heaven.

© 2022 Leaderonomics Sdn. Bhd. All rights reserved.

Disclaimer: The opinions expressed on this website are those of the writers or the people they quoted and not necessarily those of Leaderonomics.