Kotorkan Tangan Anda: Dapatkan Pengalaman Kerja

Oleh Roshan Thiran|14-12-2020 | 3 Min Read
Pengalaman kerja mempermudah jalannya karir

Selain sangat kaya, dan sukses, apa persamaan yang dimiliki oleh Steve Jobs (pendiri dan pimpinan eksekutif Apple), Michael Dell (pendiri dan pimpinan eksekutif Dell Computer), Bill Gates (pendiri dan pimpinan eksekutif Microsoft), Richard Branson (pendiri dan pemimpin eksekutif Virgin) dan Simon Cowell (penerbit muzik terkenal dan juri American Idol)?

Ternyata mereka semua pernah gagal ketika mengenyam ilmu di bangku sekolah.  Jobs bekerja di universitas selama satu semester saja sebelum mulai mengadu nasib di dunia nyata.  Begitu juga dengan Dell yang memulai Dell Inc (waktu itu dikenali sebagai PC Limited) di universitas dengan bermodalkan $1000 US.  Gates, orang yang terkaya di dunia masih ‘liburan’ dari universitas Harvard untuk memimpin usahanya yaitu  Microsoft Corporation, yang bernilai miliaran dollar.  Branson juga tidak pernah menyelesaikan pendidikan di sekolah menengah tetapi berusaha membangun Virgin menjadi merek yang sangat menguntungkan dan bernilai di dunia.  Siapa yang tahu bahwa sebelum menggunakan sihirnya untuk menjadikan mereka yang berbakat bersinar dan terkenal atau kecewa dan bahkan marah,Simon Cowell hanyalah seorang penjaga kotak surat.

Ternyata, seseorang lupa memberitahukan bahwa mereka perlu mendapat nilai A dalam semua mata pelajaran jika menginginkan menikmati kesuksesan dalam kehidupan mereka.

Tapi jangan salah, saya masih sama dengan banyak orang yang percaya kepada pentingnya pendidikan yang baik.  Saya masih ingat dan masih sangat menghargai detik demi detik ketika menjalani Pendidikan di Universitas Bridgeport dan kemudian berpengalaman dalam bekerja di Crotonville suatu perusaahan di universitas perusahaan milik GE.  Jadi saya adalah orang terakhir yang mengutuk nilai dari Pendidikan yang tinggi.  Sebagian besar kesuksesan dan pembentukan kepribadian sosal serta profesionalisme yang saya miliki hari ini adalah hasil dari pengalaman yang saya peroleh dari kedua universitas yang saya sebutkan ini.

Baca juga artikel berjudul"6 Pelajaran Utama Mengenai Kepemimpinan Dari Steve Jobs"


Menyingsingkan lengan, hasilnya tidak mengecewakan

Tetapi saya juga ingin menegaskan bahwa menyingsingkan lengan (atau turun lapangan) sewaktu dinas, adalah jauh lebih penting daripada memiliki raport yang cemerlang.


Pengalaman kerja tentu lebih berharga daripada berada di dalam kelas. Ini karena manusia belajar lebih baik ketika mereka melakukan sesuatu. Mitos umum yang sering kita dengar adalah bahwa keterampilan adalah hasil sumbangan dari kursus atau pembelajaran formal.

Banyak yang berasumsi bahwa 70% dari apa yang kita pelajari berasal dari praktik di kelas. Kemudian dilanjutkan dengan rangkaian pekerjaan, role model dan pendampingan (sekitar 20% dari apa yang kita pelajari) dan yang terakhir adalah pengalaman kerja (sekitar 10% dari apa yang kita pelajari). Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran di kelas sangat ditekankan karena diyakini bahwa praktik di kelas adalah cara terbaik untuk meningkatkan keterampilan. Sebagian besar perusahaan membentuk struktur manajemen organisasi dan kelompok pembinaan berdasarkan keyakinan ini. Mereka berasumsi bahwa semakin banyak latihan di kelas, semakin banyak keterampilan yang dipelajari karyawan mereka.

Nilai Pengalaman dalam sebuah pembelajaran

Namun, berdasarkan beberapa penelitian yang dilakukan oleh perusahaan multinasional, termasuk GE dan kemudian diakui oleh perusahaan penelitian lain, ditemukan bahwa praktik di kelas hanya menyumbang 10% dari pembelajaran dan kemajuan nyata.

Melainkan pengalaman dalam bekerja yang membentuk ketajaman berpikir dalam berbisnis dan pertumbuhan jangka panjang dalam karir seseorang. Semakin sulit peran seseorang, semakin sulit lingkungan, semakin sulit peran seseorang, semakin banyak yang akan dipelajari, dikembangkan dan ditambahkan.


MITOS

REALITI

Rangkaian Pekerjaan (10%)

Aturan Kerja & Latihan Formal (10%)

Model Peran

Jaringan pergaulan, Petunjuk Cara & Pementoran (20%)

Sesi dalam kelas & Latihan (50%-70%)

Pengalaman Kerja (70%)

Baca juga artikel ini dalam bahasa Inggirs"Be A Leader: Getting Your Hands Dirty"

Bukan hanya pendidikan cemerlang saja yang terpilih

Setelah menjalani GE Finance Program (dikenal dengan Financial Management Program, FMP) di Amerika Serikat, saya kembali ke Malaysia. Saya kemudian menjabat sebagai Kepala Keuangan di sebuah perusahaan teknik penerbangan. Di sana, saya membantu dan mengelola FMP.

Untuk menjalankan program ini, kami mengadakan pelatihan rekrutmen. Kami memilih lulusan muda dari berbagai latar belakang, dari universitas yang berbeda dan yang memiliki IPK/nilai kelulusan yang baik. Kami juga merekrut orang-orang yang cukup berkualitas tetapi memiliki semangat, potensi dan keinginan untuk membawa perubahan kepada dunia. Hal ini memperkuat fakta bahwa meskipun mereka berada pada tingkat akademis yang sederhana, mereka dipilih berdasarkan pengalaman dan potensi lainnya.
Kami juga menolak beberapa kandidiat cemerlang, yang tergolong dalam kategori mahasiswa Ivy League (Siswa Ivy League adalah lulusan dari universitas internasional terkenal seperti Universitas Harvard, Princeton, dan lainnya yang diakui sebagai yang terbaik di dunia).

Saat ini, setiap pelajar yang sukses dalam program ini, mereka memegang posisi senior di kantor GE di seluruh dunia, terlepas dari nilai dan kualifikasi mereka sebelum bergabung dengan kami.

Rotasi Pekerjaan

Bagaimana kami melakukannya?  Saya yakin upaya kami berhasil dalam menghasilkan pemimpin global tidak hanya di Malaysia, tetapi di seluruh dunia karena apa yang tercantum dalam modul FMP.
Program ini mendorong setiap peserta pelatihan untuk beralih dari satu pekerjaan ke pekerjaan baru setiap enam bulan untuk jangka waktu dua tahun.  Disinilah pengalaman dan pembelajaran nyata terjadi, bekerja sambil belajar melalui pekerjaan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kelas juga memegang peranan yang sangat penting, terutama dalam bidang desain dan rekayasa fungsional. Tetapi belajar dari tempat kerja sama pentingnya karena dapat mengubah dasar-dasar konteks dan situasi. Setiap hal baru yang terjadi adalah pembelajaran baru dan peluang baru untuk berkembang.

Ketika kita melihat kembali orang-orang seperti Branson, Gates dan Jobs, tidaklah mengejutkan melihat betapa suksesnya mereka. Mengapa? Mereka belajar dengan langsung berlatih di bidang tertentu dengan melalui berbagai situasi baru dan terus belajar untuk berkembang melalui pengalaman. Semakin banyak pengalaman yang mereka miliki, semakin tinggi nilai pembelajaran dan pertumbuhan mereka.

Kesimpulan

Pembelajaran di kelas akan selalu mendapatkan tempat yang semestinya, bahkan bagian dari apa yang dilakukan Leaderonomics adalah memastikan bahwa sesi pembelajaran di kelas berbasis tindakan, yaitu, pelatihan berbasis eksperimen langsung tersedia di semua modul kami. Ini adalah pelatihan masa depan berdasarkan proses pembelajaran dengan mengambil tindakan untuk memperoleh pengalaman yang nyata.

Saya telah memegang sembilan posisi berbeda dalam 13 tahun saya bekerja dengan GE di seluruh Amerika Serikat, Eropa dan Asia. Selama waktu itu saya dihadapkan pada berbagai industri; minyak dan gas, TV dan media, layanan keuangan, industri terkait penerbangan dan perawatan kesehatan. Pekerjaan saya meliputi keuangan, sumber daya manusia, operasional dan sejumlah peran kepemimpinan fungsional lainnya termasuk memimpin perusahaan.

Setiap pengalaman membantu saya membangun pembelajaran pribadi; setiap pengalaman berkontribusi pada pertumbuhan pribadi saya. Jadi, selama belajar di kelas memiliki manfaat tersendiri, saran saya adalah jika Anda ingin menjadi pemimpin, keluarlah dan dapatkan pengalaman kerja meskipun itu berarti Anda harus memulai dengan pekerjaan yang paling buruk atau dengan perusahaan yang mengalami kesulitan karena pengalaman tersebut. akan membentuk Anda dan mengajar Anda lebih dari yang Anda dapatkan dari perguruan tinggi atau dari seorang profesor di kelas.

Tonton juga video berjudul "Pengalaman Magang di Malaysia" dibawah ini:


Share artikel ini

Kepemimpinan

Tags: Jadilah Seorang Pemimpin

Roshan is the Founder and CEO of the Leaderonomics Group. He believes that everyone can be a leader and "make a dent in the universe", in their own special ways. He is constantly featured on TV, radio and numerous publications sharing the Science of Building Leaders and on leadership development. Follow him at www.roshanthiran.com
Leaderonomics Logo

Wow, Anda telah scroll hingga ke bawah! Anda pasti sangat menyukai kami.

Karena Anda sudah disini, kami ingin meminta Anda untuk mempertimbangkan memberikan donasi untuk pemeliharaan situs kami, yang ternyata cukup tinggi.

Banyak yang tidak memiliki akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan penuh mereka. Itulah sebabnya konten kami akan selalu gratis, dan kami akan selamanya berterima kasih kepada mereka yang membantu mewujudkan ini.

Earn your one-way ticket to heaven.

© 2022 Leaderonomics Sdn. Bhd. All rights reserved.

Disclaimer: The opinions expressed on this website are those of the writers or the people they quoted and not necessarily those of Leaderonomics.