Cara Menangani Kesalahan Anggota Tim

Oct 10, 2023 4 Min Read
evaluasi karyawan oleh bos di kantor
Sumber:

Jonathan Borba dari Pexels.com

Hukuman terberat bagi kesalahan profesional seseorang adalah ketika ia dihakimi dan dilabel ‘tidak becus’ secara terus menerus. Seakan-akan satu kesalahan yang ia lakukan menghapus segala kinerja baik yang telah ia lakukan selama ini. Seakan-akan satu kesalahan tersebut adalah kesimpulan bahwa semua pekerjaannya yang lain adalah tidak becus.

We all make mistakes. Setiap dari kita pasti pernah berbuat salah dalam karir profesional kita. Kesalahan yang saya maksud di sini bukan kesalahan terkait integritas / fraud / korupsi / kesengajaan. Kesalahan-kesalahan tersebut jelas fatal dan perlu mendapat hukuman setimpal. Kesalahan profesional yang saya maksud lebih kepada kesalahan sebagai bagian dari proses belajar, bagian dari proses pendewasaan sebagai pribadi.

Anak muda fresh graduate yang menyela pembicaraan atasannya saat meeting, bisa jadi perilakunya salah. Namun, biasanya bukan karena ia sengaja melakukannya—tetapi ia punya kebiasaan seperti itu di tempat kerja / pendidikan sebelumnya. Dan ketika ia diberikan feedback terkait perilakunya tersebut, ia pasti akan belajar dari pengalamannya dan lebih menjaga diri di lain kesempatan. Ini adalah bagian dari proses pendewasaan diri. 

Di sisi lain, yang jadi permasalahan adalah jika atasannya menjadi ‘dislike’ (tidak suka) terus menerus kepada ybs hanya karena satu perilaku tersebut. Sehingga apapun yang ia lakukan di kemudian hari seakan-akan menjadi tidak cukup baik di mata sang atasan.

Baca juga: Paradoks dari Karisma Seorang Pemimpin

Leaders, hal yang perlu kita sadari dan waspadai adalah kecenderungan kita untuk dislike pada seseorang karena ia telah melakukan kesalahan pada kita. Jika rasa dislike tersebut terus menerus kita bawa dalam interaksi dengan ybs, maka perilaku dan sikap kita pun akan memancarkan energi negatif dan membuat ybs semakin ‘down’ kemudian secara langsung menurunkan semangat dan motivasi kerjanya.

Namun, bukan berarti kita mendiamkan dan mentolerir kesalahan. Bagaimanapun, kesalahan tetap perlu diarahkan kembali. Yang menjadi penekanan adalah ketika kita sebagai pemimpin terus menerus membawa dendam dalam hati kita terkait kesalahan orang lain. Kita hanya akan memupuk relasi negatif dengan ybs—yang dapat terakumulasi menjadi toxic relationship.

Lalu, sebagai pemimpin, apa yang perlu kita sadari dan lakukan saat muncul rasa dislike pada kesalahan anggota tim kita?

Pisahkan orang dari perilakunya

atasan memberikan feedback pada bawahan

Kita boleh tidak suka dan tidak setuju pada perilaku anggota tim kita yang berbuat salah, namun kita tetap perlu menghargai pribadinya sebagai profesional. Dislike perilakunya, namun tetap care pada orangnya. Sering kali yang terjadi adalah kita dislike perilakunya dan sekaligus dislike orangnya.

Jadi, pisahkan orang dari perilakunya. Kita berikan feedback pada perilakunya tanpa harus menyerang pribadinya. Ini penting agar proses pemberian feedback tidak menjadi ajang pelampiasan sentimen pribadi. Saat memberikan feedback, bahas perilakunya saja tanpa perlu melebar kepada penghakiman atas pribadinya.

Baca juga: 10 Cara Efektif Menghadapi Karyawan Millennial di Kantor

Cek ego kita

merenung masalah

Lakukan cek suara hati. Saat ada anggota tim yang melakukan kesalahan dan terutama kesalahan tersebut menyinggung ego kita, ambil waktu untuk berhenti sejenak. Kita perlu mencerna situasi dengan lebih bijak. Tanyakan pada diri kita: Apakah ia dengan sengaja melakukannya atau karena ketidaktahuannya? Apa konteks yang menyebabkan ia berperilaku demikian? Bukankah ia sama sekali tidak bermaksud seperti itu? Mengapa aku harus tersinggung?

Tidak perlu menempatkan diri kita terlalu tinggi dan memandang orang lain seakan-akan mereka tidak sebaik kita. Tidak perlu pula mengindentikkan diri kita dengan posisi / jabatan / kekuasaan yang kita miliki di organisasi. Ketika kita menempatkan diri kita pada porsi yang sewajarnya, maka kita tidak mudah untuk tersinggung.

Berikan ruang bagi orang lain untuk melakukan kesalahan

mengoreksi kesalahan orang

Tanpa kesalahan, tidak ada proses belajar. Inovasi lahir karena eksperimen dan belajar dari kesalahan. Ketika anggota tim kita melakukan kesalahan, jadikan hal tersebut sebagai ‘learning moment’. Berikan feedback atas perilaku salahnya, dan fokuskan pembicaraan pada pembelajaran yang ia dapatkan dari kesalahan tersebut. 

Berikan rasa aman bagi tim kita sehingga ketika mereka melakukan kesalahan, mereka dapat mengakuinya secara terbuka, mengambil tanggung jawab, dan belajar dari kesalahan tersebut. Respon kita terhadap kesalahan anggota tim kita sangat menentukan sejauh mana mereka di masa depan berani terbuka mengakui kesalahannya atau malah kapok dan akhirnya menyembunyikan kesalahan tersebut—yang tentunya akan berdampak lebih fatal. Pastikan respon kita bukan sekedar respon 'menghukum', namun juga respon ‘mengajak belajar’.

Terkadang proses belajar itu memang sangat mahal harganya. Biaya dari kesalahan yang timbul bisa jadi sangat besar, namun pembelajaran yang diambil dari kesalahan tersebut tentulah juga sangat berharga. It’s worth the effort.

Baca juga: Pemimpin yang Ideal Harus Banyak Bertanya

Forgive and let go

Jangan mendiamkan kesalahan yang terjadi. Jangan pula memberikan respon yang memperunyam keadaan. Ketika kesalahan sudah dibahas 4 mata dengan ybs, feedback sudah diberikan, dan ybs sudah mengambil tanggung jawab dan belajar dari kesalahannya, maka berikutnya adalah untuk memaafkan ybs. Ketika kita sudah memaafkan, maka tidak perlu lagi menyimpan rasa dongkol di hati dan mengungkit-ungkit kesalahan ybs di masa depan. 

Lepaskan saja. Tidak perlu melebarkan masalah dengan mengeneralisir bahwa ybs adalah tidak becus pada pekerjaan-pekerjaan yang lain.

Leaders, dengan memberikan rasa aman psikologis pada anggota tim kita yang melakukan kesalahan, maka kita memberikan ruang baginya untuk bertumbuh, memberinya rasa percaya diri, dan memacunya untuk terus berupaya mencapai standar kinerja tertinggi.

Let’s lead better.

Artikel ini diterbitkan dari akun LinkedIn milik Erick Iskandar

Share artikel ini

Kepemimpinan

Tags: Jadilah Seorang Pemimpin

Alt

Sebagai seorang trainer dan coach, Erick memiliki misi untuk menginspirasi para pesertanya dalam berkinerja lebih baik. Bidang keahliannya meliputi Leadership Development, Life Coaching, Human Resources, Powerful Communication, Neuro Linguistic Programming (NLP), Personal Effectiveness, Coaching & Mentoring, Customer Service dan Service Excellence. Saat ini, Erick tengah berkiprah sebagai Founder dari Lighthouse Training Indonesia.
 

Alt

Mungkin Anda Juga Menyukai

Pertanyaan

Kekuatan Pertanyaan

Pelatihan melibatkan pengajuan banyak pertanyaan, dan akhirnya mengarahkan orang yang dilatih untuk mencari solusi mereka sendiri. Penting untuk dicatat bahwa keterampilan bertanya yang kuat dapat diterapkan baik untuk pelatihan maupun pengajaran. Berikut adalah beberapa tip tentang bagaimana Anda, sebagai pelatih dan mentor, dapat mengajukan pertanyaan yang kuat.

Feb 04, 2022 4 Min Read

Adon Saptowo

Tidak Ada Yang Tak Mungkin: Adon Saptowo, Base Jam

Adon Saptowo dari Base Jam memberi inpsirasi kepada kami semua

Aug 24, 2021 1 Min Video

Jadi Seorang Pembaca Leader's Digest