Ambil Tanggung Jawab Terhadap Karir Anda

Oleh Roshan Thiran|18-11-2020 | 1 Min Read
Sebuah Tanggung Jawab Dalam Meniti Karir di Perusahaan - Berdasarkan Kisah Nyata

Saat saya menjabat sebagai HRD (Human Resource Development) saya harus berurusan dengan Heather (bukan nama sebenarnya). Selama lebih dari 20 tahun, Heather telah mengabdikan dirinya pada perusahaan, tetapi dia jarang menonjol.

Dalam proses restrukturisasi perusahaan, pekerjaan Heather menjadi kurang berharga. Heather sangat kesal dan menyuarakan penyesalan dan amarahnya karena merasa bahwa loyalitas dan prestasinya selama ini tidak dihargai oleh perusahaan.
Saat Heather mengungkapkan rintihannya, "saya merasa sangat sedih". Seperti menunggu buah yang masih mentah, Heather telah bekerja keras dan berharap perusahaannya mengelola karirnya. Namun, dia sangat terpukul oleh kenyataan.

Selama 20 tahun, dia berjuang untuk menyelesaikan semua tugas tetapi tidak berpartisipasi dalam perencanaan dan manajemen karirnya sendiri. Dia hanya mengharapkan manager dan 'atasannya' untuk' mengatur karirnya '. Sayangnya, itu semua sia-sia.
Kisah Heather merupakan kisah yang cukup umum terjadi. Cukup mengejutkan karena banyak orang yang percaya bahwa urusan karir mereka adalah tanggung jawab managernya. Bisa jadi sebagian disebabkan pemimpinnya 'berperilaku seperti Tuhan' dan meyakinkan tenaga kerjanya bahwa dia memiliki rencana besar untuk karir mereka dan akan secara bijak mengatur perjalanan karir mereka dalam menaiki tangga perusahaan.

Bagi saya yang telah melihat dan bekerja dengan beberapa perusahaan terbaik di dunia, saya tahu kebanyakan perusahaan tidak memiliki perencanaan karir untuk semua tenaga kerjanya di organisasi. Mungkin hanya ada sedikit organisasi yang memantau sekelompok karyawan berpotensi tinggi. Tetapi bagi sebagian besar dari kita, masa depan kita tidak direncanakan dengan cermat.

Perencanaan karir adalah proses individualistis. Tidak ada dua orang yang sama dan memiliki latar belakang atau cita-cita karir yang sama. Masing-masing dari kita diciptakan berbeda dengan ambisi dan ekspektasi yang berbeda dan atasan kita tidak mungkin mengetahui semua ini (karena selalu berubah). Jadi hampir tidak mungkin bagi atasan kita untuk merencanakan karir kita. Jadi, ada baiknya kita membebaskan pikiran kita dari mitos bahwa perusahaan kita sedang merencanakan karir kita.

Kita Unik

Perencanaan karir adalah proses individu. Tidak ada dua orang yang sama. Latar belakang yang sama atau aspirasi karir yang sama. Kita masing-masing diciptakan berbeda. Kami memiliki ambisi dan harapan yang berbeda satu sama lain, dan bos Anda mungkin tidak tahu (karena semua ini sering berubah)


Inilah mengapa hampir tidak mungkin HR atau atasan Anda berperan sebagai perencana karir Anda. Meskipun menyenangkan untuk berpikir bahwa "perusahaan saya sedang merencanakan karir saya", tetapi kita harus membebaskan pikiran kita dari mitos ini.

Mitos Berharap


Entah bagaimana, karena kita mendapat tempat di universitas berdasarkan nilai yang bagus di sekolah, dan kemudian prestasi yang baik di universitas memungkinkan kita mendapatkan pekerjaan yang bagus, kita akhirnya menjadi yakin hal yang sama akan terjadi di tempat kerja. Kita percaya bahwa jika bekerja keras dan setia kepada perusahaan, kita akan diperhatikan dan mungkin akan dipromosikan di beberapa titik. Pandangan ini semakin diperkuat ketika melihat bahwa mereka yang 'setia' kini menduduki posisi bos.

Namun malangnya, kisah tentang kesetiaan yang dihargai sekarang sudah ketinggalan zaman. Abad ke-21 ini adalah dunia baru. Dahulu, memegang posisi yang sama menunjukkan bahwa kita adalah karyawan yang setia dan memungkinkan kita menjadi ahli dalam mengerjakan tugas. Di dunia yang terus berubah ini, kurangnya mobilitas karir mungkin menunjukkan bahwa kita tidak bertumbuh.
Michael Slade, seorang direktur manager, pernah berkata: "Banyak orang berpikir, 'Orang akan memperhatikan jika saya bekerja lebih keras.' Tetapi sebenarnya tidak harus seperti itu.

“JIKA ANDA INGIN MAJU, ANDA HARUS MEMIKUL TANGGUNG JAWAB ITU,”


Karyawan wanita pertama Accenture, Susan Butler, yang menulis buku ‘Become the CEO of You, Inc.’ mengenang bagaimana dia berjuang untuk menyelesaikan setiap proyek yang diberikan. Tetapi ketika tiba waktunya untuk promosi, namanya selalu dicoret. "Saya tidak tahu, tapi saya menyadarinya kemudian, ternyata saya harus melakukan pekerjaan yang saya inginkan sebelum saya dipromosikan," katanya.

Baca juga artikel berjudul " 7 Kiat Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Persuasif"

Uruskan Karir Sebagai Perusahaan Swasta

Saya percaya bahwa kita harus mendekati karir kita seperti mengelola perusahaan swasta. Jika kita ingin mempersiapkan diri seperti mendirikan perusahaan, kita harus merumuskan rencana 'karir' bisnis, mengumpulkan dewan direksi yang akan memberi nasihat dan membantu pengembangan kita agar lebih proaktif dalam 'menjual' siapa kita sendiri, seperti halnya perusahaan menjual produk atau jasanya. 

"Sebagian besar dari kita membiarkan sesuatu terjadi pada kita alih-alih mengambil tindakan untuk mewujudkannya," kata Butler. Dia juga mengingatkan mereka yang sering menganggap diri mereka korban dan mengharapkan sesuatu terjadi dalam hidup mereka daripada secara proaktif mendorong pertumbuhan. Dia menambahkan, "kita hanya hidup sekali dan jika kita tidak bertanggung jawab atas diri kita sendiri, maka siapa yang kita harapkan?"

Sebagian besar dari kita mungkin secara keliru menempatkan beban karir kita pada manajer kita. Jangan lakukan itu - ini adalah masa depanmu. Terlalu penting untuk melepaskan ke tangan orang lain. Jangan biarkan orang lain menentukan masa depan. Bagi mereka yang terbiasa mengandalkan orang lain sepanjang hidup mereka, langkah pertama dalam menentukan karir sendiri menjadi sesuatu yang menakutkan.

Mulai Dari Mana?

Selama Olimpiade, atlet terbaik akan memenangkan medali emas. Tetapi sebelum mereka memenangkan emas, mereka terlebih dahulu membulatkan tekad dalam jiwa untuk memenangkan medali emas. Semuanya dimulai dengan sebuah tujuan. Hal yang sama berlaku untuk karir Anda. Cara terbaik untuk sukses dalam karir dimulai dengan memiliki kejelasan tujuan.
Tuliskan tujuan Anda. Sebuah studi yang dilakukan oleh Gail Matthews dari Universitas Dominika membuktikan hal itu.


“MEREKA YANG MENULIS TUJUAN MEREKA MENCAPAI SUKSES YANG PENUH ARTI DARIPADA MEREKA YANG TIDAK MENULIS TUJUAN MEREKA.”


Beberapa percaya bahwa kesuksesan Abraham Lincoln dimulai ketika dia menulis tujuannya. Dia berkata, "Jika Anda menetapkan tujuan Anda dengan sempurna, Anda sebenarnya telah mencapai setengah jalan pencapaian."

Kemudian bagikan tujuan itu dengan orang lain. Ini akan membuat kita merasa lebih bertanggung jawab dan berkomitmen untuk bekerja mengimplementasikannya.

Langkah terakhir adalah membangun rencana untuk mencapai tujuan tersebut dan mengimplementasikan rencana tersebut. Kita harus memiliki rencana karir kita sepenuhnya. Jangan menunggu orang lain menanggapi atau memutuskan langkah kita selanjutnya.
Pahami kekuatan dan kebutuhan untuk pengembangan diri - dan persiapkan rencana tindakan proaktif. Kita tidak akan mencapai tujuan karir kecuali kita menyadari dimana kekuatan dan kelemahan dari kecakapan diri. Jangan ragu untuk meminta dukungan dan nasehat sepanjang perjalanan ini.

Baca artikel ini dalam bahasa Inggris "Take Charge Of Your Career"

Clement Stone mengingatkan kita:

“TIDAK PEDULI SEBERAPA HATI-HATI ANDA MERENCANAKAN TUJUAN ANDA, TUJUAN ITU TIDAK AKAN LEBIH DARI MIMPI SAMPAI ANDA MEMBURU DIA DENGAN PENUH SEMANGAT.”


Kesimpulan

Perkembangan dan takdir karir adalah tanggung jawab kita sendiri. Artinya kita perlu menentukan kompetensi, skill dan keahlian apa yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan karir kita. Sudah menjadi tanggung jawab sendiri untuk mewujudkan ini.
Jadi, berhentilah menyalahkan 'orang lain' dari tanggung jawab atas karir Anda sendiri. Selama di penjara, Nelson Mandela membaca puisi tentang jiwa yang tidak bisa ditaklukkan. Itu diakhiri dengan kata-kata berikut: 

“AKU ADALAH TUAN BAGI TAKDIRKU, AKU ADALAH NAHKODA BAGI JIWAKU.”


Banyak hal di dunia ini berada di luar kendali kita. Namun karir kita bukanlah salah satunya. Kita bisa menjadi tuan dalam karir kita - asalkan kita bertanggung jawab atasnya.

Tonton video berjudul" Tips Agar Dapat Promosi Kerja Naik Jabatan & Gaji" dibawah ini :


Share artikel ini

Kepemimpinan

Tags: Jadilah Seorang Pemimpin

References:


Roshan is the Founder and CEO of the Leaderonomics Group. He believes that everyone can be a leader and "make a dent in the universe", in their own special ways. He is constantly featured on TV, radio and numerous publications sharing the Science of Building Leaders and on leadership development. Follow him at www.roshanthiran.com
Leaderonomics Logo

Wow, Anda telah scroll hingga ke bawah! Anda pasti sangat menyukai kami.

Karena Anda sudah disini, kami ingin meminta Anda untuk mempertimbangkan memberikan donasi untuk pemeliharaan situs kami, yang ternyata cukup tinggi.

Banyak yang tidak memiliki akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan penuh mereka. Itulah sebabnya konten kami akan selalu gratis, dan kami akan selamanya berterima kasih kepada mereka yang membantu mewujudkan ini.

Earn your one-way ticket to heaven.

© 2022 Leaderonomics Sdn. Bhd. All rights reserved.

Disclaimer: The opinions expressed on this website are those of the writers or the people they quoted and not necessarily those of Leaderonomics.