Apakah Kita Selalu Membutuhkan Tujuan?

Mar 03, 2024 5 Min Read
tujuan hidup manusia
Sumber:

PCH vector dari Freepik.com

Seperti para eksekutif pada umumnya, saya sering melakukan perjalanan dinas. Otomatis banyak perencanaan, kecemasan, frustasi, dan kelelahan yang saya hadapi. Jangankan work-life balance, dulu saya sama sekali tidak memiliki waktu untuk diri sendiri. Mood saya langsung buruk selepas pulang dari dinas. Apa pun akan saya komentari, bahkan sesimpel teh yang kurang hangat.

Suatu hari, saya merasa tidak tahan lagi. Saya katakan kepada semua orang betapa kerasnya saya bekerja dan capeknya saya. Padahal, nyatanya saya membatasi diri dari hal-hal yang paling penting bagi saya. Bukannya mengapresiasi momen bersama keluarga, pikiran saya hanya tertuju pada penerbangan pada hari Senin pagi. 

Saya didorong oleh ambisi dan tujuan, namun menghindari apa yang tidak berwujud dan terpenting bagi saya: kasih sayang dan keluarga.

Saya akhirnya sadar bahwa semua ini harus berubah. Hingga saya mengikuti sebuah pelatihan, saya tercerahkan untuk mulai membangun kesadaran dengan “kadar keraguan” yang sehat

Kita Semua Perlu Meragukan Diri Sendiri

Keraguan bukanlah ambivalensi ataupun melemahkan diri. Sebaliknya, keraguan mendorong terciptanya kesadaran diri yang sehat. Para pemimpin dapat memanfaatkan keraguan untuk terus belajar, menelusuri perbedaan pendapat dari berbagai pihak, dan mendorong terjalinnya peer mentoring (mentoring antara karyawan dengan tingkat yang sama atau serupa). 

Keraguan membuka pikiran kita ke tingkat yang lebih dalam di mana kita mampu mengenali pikiran-pikiran tersembunyi dan bagaimana menyikapinya dalam hidup kita.
Pada dasarnya, proses berpikir kita pun perlu diimbangi. Masing-masing dari diri kita membutuhkan harmoni antara pikiran, badan, jiwa, dan alam.

Baca juga: 3 Cara Mengenali Diri Sendiri (Self-Awareness)

Menjadi Lebih Self-Aware

merenung

Karolina Grabowska dari Pexels.com

Kata Immanuel Kant, kita harus mengembangkan yang namanya “purposeful purposelessness”. Maksud dari ini adalah memisahkan utilitas dan nilai dalam kesadaran diri dengan cara yang sama seperti bagaimana karya sastra dan seni dipisahkan dari kebermanfaatannya. Kesadaran diri mungkin tampaknya tidak terlalu bermanfaat, tapi hal inilah yang mampu merubah pandangan kita terhadap dunia.

Berkat yang dinamakan “mindfulness revolution”, perusahaan seperti Walmart dan Google dapat memahami lebih baik para karyawan dan pelanggan mereka. Terbukti pula dalam ilmu sains jika pikiran kita panik dan tidak fokus, maka kita akan cenderung berlarut dalam kesengsaraan. Seperti bagaimana kita terus-terusan emosi akibat perdebatan atau pekerjaan yang semakin menumpuk di kantor.

Penelitian tentang kebahagiaan oleh UC Berkeley University dan akademisi Matt Killingsworth menemukan bahwa pikiran manusia mengembara sekitar 47% semasa hidupnya. Bayangkan, berarti setengah dari hidup kita dihabiskan untuk melamun dan terdistraksi! 

Mungkin ada yang tidak menganggap ini buruk jika kita melamunkan hal-hal menyenangkan seperti liburan atau acara makan malam di luar nanti. Namun, ternyata pikiran mengembara merupakan indikasi bahwa kita kurang bahagia–karena kita tidak menaruh perhatian pada apa yang terjadi saat ini, detik ini juga.

Hari demi hari kita bagaikan terombang-ambing dalam “gelombang” keadaan yang tidak menentu. Banyak yang terjadi di sekitar kita dan kita bereaksi terhadapnya. Gelombang-gelombang inilah yang menentukan suasana hati, pikiran, daya fokus, dan bahkan dapat memicu gangguan psikosomatis pada seseorang. 

Lantas, bagaimana caranya kita mampu tetap fokus dan menemukan apa yang ingin kita kejar dalam hidup?

Baca juga: Menghadapi Emosi Negatif? Bagus, Jangan Sia-siakan!

1. Bijak menentukan keinginan

Banyak yang berpikir bahwa perasaan bahagia akan tercapai hanya dengan status dan harta. Nyatanya, rekan eksekutif saya merasa semakin tua dirinya, semakin tidak tertarik dirinya mengejar kenikmatan dunia yang fana. Nah, saya pun memiliki rumus untuk menilai seberapa dekat seseorang menuju kebahagiaan–yang mungkin saja dapat menjadi bahan refleksi kita semua:

Happiness quotient: jumlah keinginan yang terpenuhi : jumlah keseluruhan keinginan

Jika keinginan kita terus bertambah, maka kita akan terus berupaya sekeras mungkin untuk memenuhinya. Hal inilah yang mampu membuat kita merasa tidak akan pernah cukup. Begitu pula sebaliknya, kita akan merasa lebih bahagia jika kita bisa menyortir keinginan yang terbaik untuk kita.

Seperti yang dikatakan George Kohlrieser dalam buku Leadership: A Master Class, bagaimana kemampuan seseorang mengelola emosi bergantung pada apa yang menjadi prioritasnya. Nyatanya, hal ini memang mudah dikatakan tetapi sulit dilakukan. Seorang eksekutif yang saya coach sangat fokus pada kariernya hingga tidak memiliki kesempatan untuk menemui anaknya selama hari kerja dan terlalu lelah untuk itu pada akhir pekan. Akhirnya, saya membujuk dirinya untuk mempertimbangkan kembali rutinitas dan keinginannya serta konsekuensi yang mengikuti pilihannya tersebut.

2. Realita hitam, putih, dan abu

Karena perbedaan pandangan, kita bisa dibuat kecewa oleh seseorang yang sebelumnya kita anggap baik. Hal ini memicu serangkaian penilaian dan pemikiran emosional yang akan menjadi referensi kita di masa depan. Namun, seperti yang dikatakan tokoh psikoanalisis Manfred Kets de Vries, banyak hal yang tidak sesederhana hitam dan putih.

Sudah seharusnya kita terbuka dengan realita berwarna “abu”. Saya pernah terlalu cepat menilai yang kurang baik terhadap suatu vendor karena satu pengalaman. Tapi, beberapa bulan kemudian vendor tersebut rela bangun tengah malam untuk membantu saya menangani hal teknis. Pada dasarnya, kita semua pun memiliki hari yang baik dan buruk.

3. Be the bigger person

Memaafkan orang lain adalah awal dari perjalanan menuju kebahagiaan dan menjaga komunikasi tetap terbuka antara dua orang. Tentunya lebih banyak sisi baik yang dapat dipetik dari memaafkan, yang mana perlu dipraktikkan oleh seluruh pemimpin.

Saya ingat sebuah kesepakatan yang tiba-tiba dibatalkan karena dioper ke konsultan lain. Padahal, saya sudah memiliki jaminan bahwa saya akan terpilih. Akhirnya, saya menyadari bahwa rekan saya berada di bawah tekanan dari pemangku kepentingan lain dan tidak dapat menepati janjinya. Setelah mengetahui hal ini, saya sadar bahwa saya telah menghormati nilai-nilai dan reputasi internalnya. 

Kesimpulan

Hidup akan lebih bahagia jika kita menjadi pribadi yang “sadar” dan bijak mengelola pikiran serta tindakan. Mulailah dengan fokus pada beberapa hal yang terpenting dalam hidup kita seperti peran yang kita miliki di rumah, di kantor, dan tentunya untuk diri sendiri.

Ingat bahwa kita hanya akan mampu memberi dukungan kepada orang lain jika kita stabil secara jiwa, badan, dan pikiran. Sudah sepatutnya kita menjadikan hal tersebut sebagai tujuan utama dari proses pengembangan diri kita.

insead

Artikel ini diterbitkan ulang atas izin INSEAD Knowledge (http://knowledge.insead.edu). Hak Cipta INSEAD 2024.

Share artikel ini

Kepribadian

Tags: Konsultasi

Alt

Naveen Khajanchi adalah seorang Executive Coach yang memiliki spesialisasi di bidang transformasi bisnis. Ia juga merupakan penulis buku Evolutionary Leadership – A Holistic Perspective. 


 

Alt

Mungkin Anda Juga Menyukai

filosofi carpe diem

Filosofi Carpe Diem: Punya Mimpi, Jangan Ditunda

Oleh Manfred F. R. Kets de Vries. Apakah kamu benar-benar menikmati hidupmu? Dari sudut pandang carpe diem, pertanyaan ini bukan sebatas memiliki jabatan bergengsi atau barang mewah.

Dec 06, 2023 6 Min Read

Jadi Seorang Pembaca Leader's Digest